
Tiga bulan kemudian.
"Dad, sarapan dulu dong, Mom sudah buatin sarapan ko Daddy ga makan?" tanya Kisya kepada Jino.
"Dad sibuk Mom, hari ini ada meeting penting, Dad sepertinya harus sarapan sama dia," jawab Jino sambil langsung pergi meninggalkan Kisya sendiri.
"Dad tunggu dong, apaan sih ko langsung pergi." Kisya merasa sangat kesal dengan sikap Jino beberapa hari ini, bahkan sang suami tidak mau makan di rumah sudah hampir satu minggu.
"Maaf Mom, sampai jumpa nanti malam ya," Jino langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengecup kening Kisya sama sekali. Padahal biasanya Jino tidak pernah lupa mengecup kening istrinya. Kisya benar-benar merasa ada yang berubah pada diri Jino.
Jino langsung berangkat dengan sedan merahnya. Pria itu terlihat begitu sibuk sampai jarang sarapan dan makan malam di rumah. Bahkan kini Jino pulang larut malam dengan alasan lembur.
Malam hari.
Jam sepuluh malam Jino masih belum pulang. Sebagai seorang istri tentulah dia begitu cemas. Apa sebenarnya yang telah terjadi kepada suaminya.
"Daddy kemana sih, kenapa sampai selarut ini belum pulang juga?" Wanita itu merasa sangat cemas dan sedih. Kesibukan sang suami sudah membuat dirinya seolah terlupakan.
Akhirnya Kisya memutuskan untuk menunggu suaminya di sofa, sampai jam 2 pagi bahkan suaminya tidak kunjung pulang. Kisya pun melakukan panggilan telepon tetapi ponsel Jino dan tidak aktif.
Helaan napas berat Kisya lontarkan. Rasa sesak dan kecemasan sudah membuat hatinya sakit sesaat. Apa yang terjadi kepada suaminya. Kenapa bisa-bisanya Jino bersikap seperti itu, minggu-minggu ini. Air mata pun menetes di pipi cantik wanita berusia 22 tahun itu.
"Ah sudahlah sebaiknya aku pindah ke kamar saja, mungkin Daddy sibuk sekali sampai lembur," desahh Kisya sambil berjalan menuju ke dalam kamarnya. Dan wanita itu langsung merebahkan tubuh lemahnya di atas kasur.
"Ada apa ini, aku ko rasanya lemah sekali, sepertinya besok aku harus ke Dokter, aku tidak boleh sakit demi baby Vano.
Wanita itu selalu tidur di kasur kesayangannya bersama dengan suami, tetapi suaminya kini bahkan tidak ada di atas kasur tersebut. Tetesan air mata menetes dan membuat hatinya semakin sakit.
__ADS_1
"Dad, kamu ko belum pulang juga, kamu kemana sih?" Kisya kini menangis dengan tersedu. Baru kali ini selama berumah tangga wanita itu merasa sangat sedih.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Dan Kisya berpura-pura tertidur. Jino berganti baju dan wajahnya terlihat lelah. Tiba-tiba Jino mendapatkan telepon dari seseorang. Jino lalu ke kamar mandi hanya sekedar untuk menerima telepon tersebut.
Kisya mengendap-endap untuk menguping percakapan sang suami.
"Daddy menerima panggilan telepon dari siapa? Kenapa harus menghindar?" Kisya merasa sangat aneh. Sikap Jino membuat dia semakin curiga. Kisya masih menguping.
Di dalam kamar mandi.
"Iya besok aku pasti datang, jam 7 malam kan, tenang saja. kamu berdandan yang cantik ya, agar aku semakin semangat untuk datang, jangan lupa minyak wangi yang tadi di pakai ya, aku suka dengan wangi tersebut, semakin susah lupa," kata Jino sambil menelepon.
Kisya semakin sedih mendengar percakapan tersebut, apa yang akan Jino lakukan besok. Dan Jino mau pergi kemana? Wanita itu menitikan air matanya.
"Aku ga akan lupa besok jam 7 malam kita makan di hotel king, dan kamu harus memesan kamar buat kita, tetapi maaf aku hanya bisa bersamamu sampai tengah malam saja, ok." Pria itu berhenti sejenak untuk mendengarkan seseorang di sana berbicara.
"Gak mungkin Daddy berselingkuh?" Wanita itu lalu kembali ke tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam selimut. Jino kembali ke dalam kamarnya dan tidur di samping sang istri.
"Sayang, aku kangen kamu," bisik Jino di telinga kisya. Namun Kisya berpura-pura tertidur.
Pagi pun tiba. Kisya terbangun dan Jino tidak ada di kasurnya. Dia bangun dan berlari untuk menyiapkan sarapan tetapi suaminya ternyata sudah berangkat ke kantor.
Tiba-tiba saja Kisya terjatuh. Kepalanya terasa sangat pusing.
"Nyonya ya Tuhan anda tidak apa-apa kan?" tanya salah satu pelayan di rumahnya.
"Bibi, aku pusing sekali, bisa antar aku ke Rumah Sakit?" pinta Kisya dengan lemah. Pikirannya sangat kacau. Dia tidak bisa tidur lelap selama beberapa hari ini. Apalagi semalam Kisya mendapati Jino sedang menelepon seseorang dengan begitu mesra.
__ADS_1
"Aku tidak boleh sakit, aku harus datang ke hotel king, aku harus melihat sendiri apa yang terjadi di sana," lirih Kisya dalam hatinya. Wanita itu lalu berangkat ke Rumah Sakit dengan di temani pelayannya. Sedangkan baby Vano sendiri dia titipkan dengan pengasuh saja.
Kisya langsung di periksa, dan wanita itu tampak tidak senang dengan diagnosis dari Dokter. Kisya keluar dari poli penyakit dalam dan di rujuk ke poli penyakit lain, tetapi dia merasa sangat enggan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tetapi tetap dia harus periksa. Akhirnya Kisya pun di periksa.
Kisya menitikan air matanya tatkala Dokter memberikan sebuah surat berisi hasil pemeriksaan. Hatinya seolah sangat sakit. Dia tidak senang dengan hasil pemeriksaan. Kisya keluar dari ruang itu dengan wajah yang pucat. Helaan napas berat dia lontarkan. Tangisan pun kini dia isakkan. Dan itu membuat pelayan dan sopirnya merasa sangat iba.
Kisya pulang ke rumah dan langsung di sambut hangat oleh sang buah hati. Kisya memeluk baby Vano dan lagi-lagi Kisya menangis. Rasanya sangat sesak dan sulit untuknya bernapas.
Setelah meminum obat. Kisya langsung mengenakan sebuah gaun yang cantik untuk datang ke hotel tersebut. Dia menutupi semua wajah pucatnya dengan make'up. Dia ingin melihat sendiri bagaimana perilaku suaminya di luar.
Wanita itu sudah siap dengan semua kecantikan yang dia miliki. Hatinya berdebar sangat kencang. Dia tidak percaya bahwa hari ini akan tiba. Di mana dia akan memergoki sang suami berselingkuh. Sesampainya Kisya di sana. Ternyata benar saja. Dari kejauhan Jino sudah duduk bersama seorang wanita cantik. Dan itu adalah Lintang.
"Tidak mungkin Daddy dan Lintang menghianatiku?" lirih wanita itu sambil menahan air matanya, agar tidak menetes. Dia tidak mau terlihat rapuh. Dengan hati yang perih dan hancur Kisya kini sudah berdiri di hadapan Jino dan Lintang.
"Apa yang kalian lakukan di sini, kalian berdua berhianat kepadaku?" ucap Kisya dengan suara yang penuh dengan penekanan.
"Mom?"
"Kis, kikis?"
Jino dan Lintang terlihat begitu terkejut dengan kedatangan Kisya.
"Aku benci kalian berdua, aku benci," isak Kisya dengan tangisannya. Dia tak percaya Jino dan Lintang telah membohongi dirinya.
"Mom, ini tidak seperti yang Mom lihat, sayang dengarkan penjelasanku," kata Jino sambil memohon pada sang istri agar mendengarnya. tapi Kisya mendorong Jino dan berlari. Jino mengejar Kisya dan memeluk istrinya dari belakang.
"Maafkan Daddy Mom, ini semua Daddy lalukan untuk kita," bisik Jino. Namun Kisya masih menangis karena sakit hati. Tiba-tiba saja lampur hotel mati. Dan seseorang datang membawa sebuah lilin. Ternyata itu adalah Bunda Nisya. Lampu kembali menyala, dan ternyata. Disana sudah banyak orang.
__ADS_1
"Surprise! Happy anniversary Sayang, semoga pernikahan kalian selalu bahagia," ucap bunda Nisya dengan senyuman manis.