
Sepulang dari Korea Kisya langsung pulang ke rumah Bunda Nisya. Dalam perjalanan Kisya tertidur dengan lelap dan sampai rumah pun Kisya masih tertidur. Bunda Nisya lalu membangunkan Kisya agar turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam Mansion.
"Kikis sayang bangun. Sayang kita sudah sampai," Bunda Nisya menggoyangkan tubuh Kisya dengan sangat perlahan.
Wanita itu dengan perlahan membuka matanya dan menguap. Kisya terlihat begitu lelah karena perjalanan jauh. Kisya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah dia mencari keberadaan seseorang.
"Ayo nak kita cepat turun, nanti kita lanjutkan lagi tidurnya di dalam rumah!" Ajak Bunda Nisya kepada Kisya.
"Ya Bun, Baby Vano di mana?" Kisya mencari keberadaan Baby Vano, di sekelilingnya.
"Apa maksud kamu?" Bunda Nisya mengerutkan dahinya karena merasa kebingungan mendengar pertanyaan dari kisya. Bukankah sudah jelas bahwa Kisya sudah benar-benar menolak kehadiran Baby Vano kemarin.
"Baby Vano, Bun?" Sekali lagi Kisya bertanya soal keberadaan anaknya.
"Kikis pasti lupa, baru bangun tidur dan dikira ini masih mimpi." Bunda Nisya terkekeh, dia menggelengkan kepalanya, dia benar-benar merasa senang Kisya bisa mengingat Baby Vano. Sepertinya memang bisa merasakan sebuah Kerinduan kepada anaknya.
"Baby Vano di mana sekarang ?Apakah dia sedang bersama Jino Bun?" Kisya kembali bertanya kepada sang Bunda perihal keberadaan Baby Vano.
"Ya jelas saja dengan siapa lagi, pasti dengan Jino. Jino adalah Daddy yang baik untuk Baby Vano, masa kamu lupa. Jangan sampai kamu melupakan kebaikan seseorang!" ucap Bunda Nisya sambil berjalan ke dalam Mansion di ikuti oleh Kisya dari belakang.
"Bunda Nisya lalu merebahkan tubuhnya di sofa, dia pun terlihat begitu lelah, perjalanan dari Korea ke Indonesia memang lumayan lama. Kisya pun duduk di seberang sofa Bunda Nisya. Wanita itu tampak kebingungan kepalanya benar-benar terasa sangat pusing.
__ADS_1
"Kepalaku pusing bunda," ucap Kisya sambil memegang kepalanya, dia melihat kearah sang Bunda dengan mata yang berkaca-kaca. Bunda Nisya lalu terbangun dari posisi tidurnya dan segera menghampiri kisya dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang sekarang Kikis rasakan?" Tanya bunda Nisya kepada kisya. Kisya sendiri benar-benar merasakan sakit kepala yang sangat hebat.
"Sakit Bunda," wanita itu kemudian menangis karena kesakitan.
"Sudahlah Kis, sini jangan ingat apapun lagi tidur lah tidur lagi ya!" ucap Bunda Nisya Kepada kisya. Diapun lalu memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa ini bisa terjadi?" ucap Kisya dengan mata yang berkaca-kaca. Menatap Bunda Nisya dengan wajah yang sendu.
"Terjadi apa?" Bunda Nisya mulai mengerutkan keningnya, karena mendengar pertanyaan Kisya yang terpotong-potong.
"Kenapa tiba-tiba Kikis merindukan Baby Vano bunda?" Gadis itu lalu menangis dan memegang dadanya. Seolah dadanya terasa begitu sesak dan sakit.
"Mungkinkah aku merindukan Baby Vano Bunda, Mungkinkah aku merindukan bayi itu, bayi yang selama ini aku tolak?" Wanita itu masih sesegukan. Tangisannya benar-benar panjang dia merasa sakit hati, karena tidak menemukan anaknya, di sekitarnya.
"Jelas saja mungkin karena bayi itu adalah anak yang kamu lahirkan dan kamu besarkan, kamu yang merawat dia dari mulai dia berumur 7 bulan sampai sekarang, dia udah mau hampir 2 tahun, kamu memberikan kasih sayang penuh kepadanya, Ingatlah, Bunda bahkan pernah melarangmu untuk mendekati bayi itu, tapi bayi itu tetap membuat kamu jatuh cinta kan?" tutue Bunda Nisya kepada Kisya sambil mengelus lembut rambut sang Putri.
Kisya kini tidak bisa berkata apapun, dia masih memeluk erat bunda Nisya dengan hati yang seolah teriris, dia membayangkan kenangannya pada masa lalu, separuh kenangan yang dimana dia memang sangat mencintai bayi itu.
Sebuah perasaan seorang ibu, kepada anaknya. Memang sudah jelas tergambar di wajah kisya. Kisya kemarin belum bisa menyadari hal itu. Karena dia baru saja terkejut akibat ingatannya kembali. Kemarin kisya sempat menolak. Tetapi ternyata baru dia sadari bahwa Baby Vano sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kikis merindukannya Bunda, tetapi Kikis tidak mau bertemu dengan Ayahnya," Kisya menuturkan perasaannya, bahwa dia memang sudah merindukan bayinya. Tetapi wanita itu masih belum memaafkan sang suami, atas semua perbuatannya di masa lalu.
"Pelan-pelan saja nak, semua pasti akan berjalan dengan baik, sekarang tinggal dulu di sini selama 1 minggu dan tata dulu hatimu. Bagaimana perasaanmu kepada Baby Vano dan bagaimana perasaanmu kepada Jino," tutur Bunda Nisya dengan perlahan. Namun penuh kasih sayang. Bunda Nisya benar-benar memberikan perhatian yang lebih pada putri kesayangan.
Bunda Nisya tahu betapa depresinya Kisya ketika ingatan itu mulai muncul kembali, dalam benaknya. Semua ingatan yang begitu menyeramkan. Dan Wajar saja jika Kisya membenci Jino pada saat ingatan itu kembali. Bunda Nisya kini mengecup lembut kening sang putri, dia ingin menenangkan dulu Putri kecilnya, sampai benar-benar tenang.
"Kisya tau tidak, kalau kamu ingin sekali mempunyai seorang bayi perempuan," Bunda Nisya mencoba mengingatkan kembali, apa yang Kisya inginkan. Sebelum akhirnya mereka berangkat berbulan madu.
"Benarkah bunda, memang sangat lucu jika akhirnya Kikis melahirkan bayi perempuan, bunda. Apalagi nanti kita akan melihat tampilan kak Jino dalam bentuk perempuan," tutur Kisya dengan senyum manis. Bunda Nisya tersenyum melihatĀ dan mendengar ucapan putrinya, tiba-tiba saja senyum kisya hilang dalam sesaat.
"Tidak-tidak! Aku tidak menginginkan seorang bayi perempuan, apalagi bayi perempuan yang mirip dengan dia," ucap Kisya dengan sangat pelan, namun penuh penekanan. Kisya masih merasakan kebencian yang teramat dalam terhadap Sang suami. Rasa cintanya seolah-olah hilang dengan seketika.
bunda Nisya memang harus segera membawa Kisya ke Dokter psikologi. Supaya kisya bisa benar-benar menata hatinya.
"Benarkah? Apakah Kikis berubah pikiran, bahkan bayi perempuan yang mirip dengan Jino akan sangat cantik, karena Jino begitu tampan dan putih," kembali Bunda Nisya memberikan racun-racun kebaikan untuk Kisya agar kisya serap di dalam hatinya.
"Sudah lah sudah, Kikis tidak mau memikirkan itu sekarang, Kikis tidak mau mengingat soal pria itu lagi!" Kisya mendorong Bunda Nisya. Dia salu berdiri dan melangkah menjauhi sang Bunda. Bunda Nisya hanya bisa menatap Kisya sambil menggelengkan kepalanya. Bunda berharap suatu saat kenangan indah Kisya akan terukir kembali bersama Jino, seperti halnya Kisya yang merindukan Baby Vano. Bunda Nisya berharap Kisya akan segera merindukan Jino.
Wanita itu berjalan menelusuri tangga. Ia hendak merebahkan tubuhnya di kamarnya, pikirannya begitu kacau, dan tidak karuan. Kerinduannya terhadap sang bayi, benar-benar sudah membuat hatinya begitu layu dan lemah.
"Baby Vano, Mommy rindu." Wanita itu meneteskan air matanya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Bersambung.
Kak maaf selalu telat update ya, entah kenapa Admin mangatoon selalu menomer 100 kan update Jino dan Kisya.. uwhh aku sedih banget rasanya. Makanya kakak sabar ya