Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Jino dan kisya


__ADS_3

Pagi itu. Suasana haru menyelimuti seluruh ruang aula hotel plaza. Pasalnya kini Jino sudah siap untuk melancarkan aksinya. Meminang sang kekasih hati. Dengan mengenakan sebuah jas putih dan menggunakan peci putih pula. Jino duduk di hadapan penghulu untuk mengucapkan izab kabul.


Terlihat jino begitu tampan dengan setelah jas pengantin itu. Tidak menyangka itu menjadi buah bibir dari para tamu yang hendak menyaksikan akad nikah tersebut. Dengan hati yang berdegup dia duduk mencoba santai menunggu kedatangan sang kekasih tercinta yang sebentar lagi akan segera dia miliki sepenuhnya.


Dia mencoba tenang dengan saliva yang berkali-kali dia telan. Sempat riuh karena tamu bergosip karena pengantin pria nya ternyata berbeda dari nama yang tercantum di undangan.


"Iya , pengantin pria nya berbeda, ini ternyata anak sulung Tuan Geovandra, yang duda anak satu ituloh." Bisik salah satu tamu undangan.


"Iya betul saya tau, dulu saya pernah hadir di acara syukuran kelahiran bayinya."


"Iya duren, jeng duren, kayanya lebih cocok jika bersanding dengan anak saya, ah tau begitu saya kenalkan isabel kepada Tuan Geovandra."


"Enak saja, dia lebih cocok jadi pasangan Nana anak saya, aih gak nyangka, pengantennya bisa seganteng itu."


"Iya jeng saya jadi penasaran mau melihat pengantin perempuannya secantik apa?"


"Iya saya juga."


"Ini kan harusnya yang menikah putra kedua Tuan Geovandra, Jeff daviz, tetapi kan kita tau di berita perihal kecelakaan itu, ah beruntungnya gadis itu, ada kakaknya yang menggantikan."

__ADS_1


"Ah apa iya jeng, aduh saya jarang nonton televisi, saya sibuk arisan."


"Ya ampun katro sekali sih jeng."


Mereka tertawa kecil sambil terus berbisik menggosipkan Jino dan Kisya. Para tamu undangan dari dalam negri memang sudah tau perihal kecelakaan itu. Tetapi tamu yang datang dari luar negri sama sekali tidak tahu. Mereka teris riuh membicarakan ketanpanan Jino sebagai pengantin. Jino sendiri masih bergelut dengan rasa tegang yang menyelimuti seluruh hatinya.


"Tuhan berikan kelancaran untuk semuanya. Aku mohon biarkan aku dan kisya bersatu, agar buah hati kami bisa memiliki keluarga yang lengkap." Jino berdoa dalam hatinya. Dia sangat berharap Dengan sangat, untuk kelancaran pernikahanya. Helaan nafas terus dia hembuskan. Rasa cemas gelisah dan debaran jantung yang menyatu menimbulkan alunan penantian yang menggetarkan asa.


Lain Jino lain kisya. Kisya masih di dalam sebuah kamar untuk mengganti pakaian dan masih di rias. Hatinya berdebar kencang. Ada sebuah kebahagiaan yang bercampur rasa cemas dalam hatinya. Saat itu dia mengesampingkan rasa bersalahnya demi mendapatkan moment yang indah. Kisya sudah terlihat cantik dengan kebaya yang dia kenakan. Sebuah kebaya berwarna putih.


Kebaya yang indah yang memperlihatkan sebuah aura kecantikan yang peminim. Siapa yang akan menyangka bahwa Kisya adalah seorang ibu beranak satu. Siapa yang akan menyangka bahwa Kisya pernah hamil dan melahirkan. Karena sama sekali tidak ada yang akan menyangka hal itu. Karena Kisya begitu cantik. Tubuh rampingnya tidak memperlihatkan bahwa dia pernah hamil dan kulit putihnya tidak memperlihatkan bahwa perutnya pernah melar. Saat perancang busana membantu menggantikan baju Kisya.


Perancang itu terpana melihat betapa bersih dan putihnya kulit Kisya. Bahkan bisa bersaing dengan putihnya susu. Tidak ada tanda bekas kehamilan seperti striae dan linea alba dalam perutnya. Bahkan bekas luka sesarnya sekarang hanya menyisakan garis putih saja. Tentu saja karena perawatan dokter spesialis kulit. Menyamarkan bekas luka pada perut Kisya.


Lintang datang dan langsung memeluk sang sahabat tercinta.


Tetesan air mata tak bisa dia elakan lagi. Rasa haru dan sedih bercampur menjadi satu. Pasalnya Lintang hari ini sudah harus sepenuhnya melupakan cintanya kepada Jino. Air mata yang mengalir deras membasahi pipi cantiknya. Lintang harus berusaha iklas dan tabah menerima takdir dalam hidupnya.


Rasa sesak dalam hati yang bercampur sebuah kesakitan yang menumpuk dalam dadanya. Membuat sebuah tangis yang pedih. Lintang terus memeluk Kisya dengan air mata yang tak bisa dia tahan lagi. Kisya menitikan air mata pula. Ketika mendengar isakan tangis Lintang. Mereka tidak menyangka bahwa jino akan menjadi suaminya kisya. Karena selama ini hanyalah Lintang yang menjadi wanita paling lama dan paling dekat dengan Jino.

__ADS_1


Masa lalu tinggalah masa lalu semua ungkapan cinta Jino dan Lintang kini hanya bisa berubah menjadi sebuah kenangan manis. Air mata adalah sebuah ungkapan Lintang tentang sebuah rasa yang pernah dia simpan dan dia berikan untuk Jino. Air mata itu air mata sebuah pengorbanan Lintang. Hati yang sakit, pilu dan sebuah luka yang perih. Bercampur menjadi satu mengundang jatuhnya air mata Lintang yang deras.


Lintang kini menatap Kisya dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar menahan tangis.


"Aku serahkan kak Jino untukmu Kis, aku serahkan hatiku dan semua cintaku, untuk kamu jaga seumur hidupmu, aku akan menyerahkan dia yang dulu adalah sebuah harapan indah untuku. Aku masih mencintainya, tetapi aku harus mengiklaskan dia untukmu, karena tuhan tidak menjodohkan aku dan dia. Karena tuhan ternyata telah menjodohkan kalian berdua dengan tanda-tanda sebuah pertemuan dan kejadian yang luar biasa. Kisya akhirnya aku merelakan rasa cintaku, untukmu." Lintang berkata dalam hatinya. Dengan air mata yang menetes tak terhenti.


"Lintang jangan nangis, ya ampun tuh kan pengantin jadi ikutan nangis." Ucap penata rias yang sudah kebingungan karena Kisya terus menangis. Dia kerepotan untuk menghilangkan bekar air mata di pipi Kisya.


"Oh, aku hanya terharu." Ucap Lintang dengan senyuman manisnya. Dia menyeka air matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya bergetar menahan tangis.


"Liat nih, kan udah cantik, jadi harus sedikit di rapihkan lagi." Ucap penata rias yang notabene adalah seorang perempuan. Dan telah biasa menata rias banyak aktris termasuk Lintang. Karena itu dia mengenal Lintang dengan baik. Dia kembali pokus menata rias Kisya agar tampil sempurna.


"Selamat kikis sayang." Ucap Lintang dengan mulut yang bergetar menahan tangis.


"Makasi Lintang." Kisya kembali menitikan air matanya. Haru biru kedua sahabat itu kembali menangis dengan isakan pedih dan hati yang berbeda. Satu hati yang tersakiti dan merelakan. Dan satu hati yg berdegup karena campuran rasa senang dan kegelisahan. Saat itu Kisya seolah melupakan rasa sesalnya. Dan hanya sebuah Debaran cinta yang dia rasakan.


Bersambung🌺


Lihat gambar ini !!!...

__ADS_1


ayo siapa yang tidak sabar mereka seperti ini?...



__ADS_2