
Kisya sudah cantik dengan gaun malamnya. Dia mengenakan mini dress berwarna hitam yang memperlihatkan paha serta kaki yang cantik dan putih. Tampilannya sudah seperti seorang model saja. Padahal Kisya bukan seorang model. Bunda Nisya sendiri sudah menunggu Kisya sedari tadi. Kisya menuruni tangga satu persatu dengan perlahan.
"Lama sekali?" Bunda tersenyum manis.
"Kis dandan bunda, lihat apakah sudah cantik?" Kisya melontarkan senyum manis terhadap sang bunda. Bunda Nisya tersenyum puas. Bunda lalu meraih tangan Kisya dan Menggenggam erat sampai ke depan mobil. Mereka pun dengan segera naik. Pak Supir lalu melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Tidak butuh waktu yang lama mereka sampai di sebuah resto terkenal dan elit. Dengan interior yang begitu memikat hati dan terlihat sangat romantis. Mereka turun dari mobil dan segera masuk. Dengan perlahan Kisya berjalan. Lalu tanpa sengaja dia mendengar tangisan seorang bayi yang suaranya sudah sangat dia kenal.
Deg.
"Baby Vano ."Kisya berkata dalam hatinya. Dengan jantung yang berdebar.
Ternyata tidak jauh dari tempatnya berdiri tuan Geovandra beserta keluarga sudah menunggu mereka berdua. Kisya dan sang bunda. Mama murni menyambut bunda Nisya dengan pelukan. Kisya duduk di seberang Jino dan disampingnya ada Jeff yang sangat dekat dengan dia. Jino fokus pada bayinya yang tampak sangat rewel tidak biasanya.
Kisya menatap Jino penuh iba Karena begitu kesusahan menenangkan bayinya. Hati Kisya sesak tatkala melihat bayi itu mengamuk tanpa sebab.
"Apa ada yang sakit?" Bunda terheran melihat cucunya menangis sampai seperti itu. Bunda menghampiri cucunya dan mencoba Menggendong Baby Vano . Jino menatap bunda Nisya dan terdiam sesaat sebelum akhirnya Jino menyerahkan baby Vano pada bunda Nisya. Baby Vano masih saja mengamuk padahal bunda Nisya sudah berusaha mebenangkanya.
__ADS_1
Kisya hanya menunduk saja saat itu. Dia tak kuasa melihat air mata sang bayi kecil kesayanganya. Tuan Geovandra sesaat melihat kisya hanya duduk dia tak mencoba membantu bunda Nisya untuk menenangkan bayi itu. Tuan Geovandra lalu melihat Jino dan sudah mulai khawatir. Wajah Jino pucat dan tegang menlihat putranya mengamuk sepeti itu.
"Kamu kenapa Dede ,ini nenek nak." Bunda Nisya berkata pelan sambil terus menenangkan cucunya. Cucu tampan yang dia sayangi. Tetapi karena keadaan yang mengharuskan dia menjauhi bayi kecil tanpa dosa itu. Mama murni pun ikut cemas. Dia datang ke arah bunda Nisya dan mencoba menenangkan bayi kecil itu. Mama murni memeluk sang cucu dengan lembut namun tetap tidak mau diam dan malah tambah kencang.
Suara baby Vano bahkan sudah hampir habis dan serak. Kisya masih terdiam dan tak beranjak dari duduknya. Walau hatinya begitu cemas dan merasakan sakit Kisya berusaha untuk diam. Dia ingin menjauhi bayi tak berdosa itu. Dia ingin menjauhi bayi yang dia lahirkan . Kalau saja dia tau bahwa bayi itu adalah bayinya, apa mungkin Kisya masih terdiam dan duduk seperti itu.
Hati kecilnya ingin sekali memeluk sang bayi mungil itu. Tetapi dia ingin mencoba untuk melupakan sang ayah dari bayi itu. Dengan sekuat tenaga Kisya melawan rasa rindu pada bayi itu. Dia sebetulnya begitu sedih dan merasa sakit hati mendengar tangis dan jeritan bayi itu. Kisya menelan Saliva berkali-kali. Tubuhnya bergetar dan hatinya begitu sesak. Dia ingin menggendong bayi kecil itu. Tetapi dia tahan sampai dia tak kuat untuk menahanya.
Papa Geovandra masih terdiam memperhatikan Kisya. Kisya yang masih duduk dalam kegelisahan. Yang sedang bertarung dengan egonya.
"Yatuhan bayi itu terus menangis , hatiku tercabik melihat air matanya, tetapi aku tidak boleh terlalu dekat dengannya, karena aku harus melupakan ayah dari bayi itu. Jika aku terus menempel pada bayi itu maka aku tidak bisa melupakan kak Jino, untuk melupakan kak Jino saja aku harus bertarung dengan rasa rindu dan menahan rasa cintaku, dan sekarang aku harus menahan rasa sedih karena melihat bayi itu menangis, yatuhan aku harus apa, aku mencintai mereka berdua, tetapi di sisi lain aku adalah seorang istri, aku Tidak boleh terlalu dekat lagi Dengan mereka, aku hanya ingin menjadi istri yang baik dan saleha." Kisya tertunduk dengan mata yang memerah. Menahan semua kegelisahan hatinya. Papa Geovandra masih terus memperhatikan.
"Yatuhan, dia bahkan tidak mau menggendong anak kami, apa benar ingatannya sudah kembali, apa benar dia mengingat semuanya , dia mengingat saat kejadian itu dan dia mengingat saat dia menolak bayi ini, baby Daddy mohon diamlah nak, tolong dengarkan Daddy sayang!" Batin Jino bergemuruh merasakan kesedihan dan ketakutan yang datang secara bersamaan.
Baby Vano terus menangis sampai suaranya hampir habis. Bayi itu sudah sangat kelelahan. Dan semua orang ikut bingung karenanya. Bunda Nisya akhirnya sudah tak bisa lagi untuk egois. Dia menatap Kisya yang sedang bertarung dengan rasa sakitnya sendiri. Bunda Nisya menatap sang putri seraya berkata.
"Coba kamu peluk sebentar bayi itu!"
__ADS_1
Kisya tersentak mendengar ucapan sang bunda. Segurat senyum dia torehkan di bibir manisnya. Dan menatap sang bunda dengan ucapan terimakasih dengan sebuah kode tatapan. Bunda Nisya hanya mengangguk. Kisya berdiri dengan tubuh yang bergetar . Dia menatap Jino Dengan penuh kerinduan. Begitu pula Dnegan Jino. Tatapan mata Jino penuh harapan dan rasa cinta serta sebuah ketakutan yang datang mengelilingi sanubarinya.
Kisya berjalan menghampiri Jino dengan perlahan. Tubuh Kisya bergetar menahan sebuah kebahagiaan. Kini Kisya sudah sangat dekat dengan Jino dan hendak menggendong sang buah hati . Jino menatap kekasihnya dengan penuh rasa cinta dan kerinduan. Tapi di campur dengan rasa sedih dan rasa takut.
"Apa wanita ini sudah mengingat semuanya?" batin Jino berteriak seolah ingin mencari jawaban dari semua pertanyaanya. Kisya menelan Saliva ketika tangan mereka saling bersentuhan. Yatuhan bersentuhan tangan saja membuat kedua insan itu saling bergetar. Padahal mereka hanya bersentuhan karena ingin mengambil baby Vano dari pelukan Jino. Ketika tangan Kisya menyentuh tangan Jino itu membuat rasa rindu Jino seolah memuncak. Sebuah debaran tak jelas berdegup menjadi lebih kencang dari biasanya .
Begitupula dengan Kisya yang merasa begitu bergetar dengan dada yang bergetar menahan segala kerinduanya .
Akhirnya baby Vano berhasil kisya ambil dalam peluknya. Seperti sebuah sihir yang fantastis. Pelukan kisya bahkan membuat bayi yang mengamuk itu terdiam. Kisya menitikan air matanya ketika melihat wajah bayi itu memerah dan matanya basah dengan suara sesegukan. Kisya mengecup lembut bayi itu dan semua yang melihat merasa sangat terpesona dibuatnya.
Bersambung❤️
Catatan kecil author ❤️
Ini babang Jino dan baby Vano waktu di Jepang versi kak Maria Ulfa.
terimakasih kak Maria Ulfa kiriman poto imutnya.
__ADS_1
Ayo kirimkan visual bang Jino dan baby Vano versi kalian semua.