Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Baiklah aku pergi


__ADS_3

Tatapan matanya seperti menyimpan sebuah luka yang aku sendiri tidak tau. Apa yang membuatnya kini memintaku menjauhinya. Apa dia membenciku?...


Air mataku tak bisa lagi aku bendung. Rasanya begitu sakit. Perkataannya seperti mengiris hatiku. Aku tidak mau seperti ini.



"Kak Jino."


Aku mendekati mereka. Aku belai lembut bayi yang begitu aku sayang. Bayi yang menjadi anaku dalam semalam. Hatiku terluka harus menjauh dari baby setampan ini. Rasa sayangku bukanlah kebohongan untuk bayi ini.



"Hmm


Ucap kak Jino agak serak.



Aku lihat matanya semakin memerah namun dia tidak mau menatapku sama sekali.



"Biarkan aku memeluknya untuk yang terakhir kali, dan semoga aku bisa menjauh dari baby Vano "


Ucapku Dengan air mata yang tak bisa aku bendung lagi . Rasanya sangat perih harus berkata seperti itu. Tetapi apalah dayaku karena kak Jino sendiri yang memintaku menjauhinya darinya.



"Baiklah, tapi setelah ini aku mohon jangan muncul lagi dihadapan kami!..


Kak Jino berkata sambil membuang muka. Suaranya serak seperti menahan tangis. Ada apa dengannya. Kenapa wajahnya begitu sedih. Bukankah harusnya aku yang bersedih?



Hatiku sakit sekali seperti tertusuk duri yang begitu tajam. Aku tatap bayi kecil itu. Aku lihat betapa lucunya dia. Ya Tuhan apakah aku bisa menjaga jarak darinya. Hatiku perih tak terkira. Apa kesalahanku sampai aku dihukum seberat ini?..


Aku membelai lembut kening bayi kecil itu. Dia tersenyum padaku. Senyumnya sungguh menyejukan hatiku tetapi untuk kali ini senyum bayi itu menusuk ke dalam rongga hatiku sampai berdarah.



Senyuman baby Vano seolah meremukkan hatiku. Aku mengambilnya dalam pelukku dan memeluknya dengan sangat erat. Aku mencintainya, aku mencintainya , aku sangat mencintainya. Bayiku bayiku bayiku. Bolehkah aku untuk selalu bersamanya?..



"Sepertinya aku tidak bisa kak , aku. Sangat mencintainya!..


Ucapku dengan tetesan air mata. Aku lihat kak Jino membuang muka nya tanpa menjawab perkataanku.



"Maap!


Ucap kak Jino serak dan benar-benar tidak menatapku.



Aku terus mengisak dengan pilu. Air mata kesedihan ini membuatku sangat terluka. Apa aku salah jika mencintai bayi orang lain?.. apa aku berdosa?.. yatuhan ini sangat menyiksaku. Tolong aku supaya aku bisa lebih kuat. Saat ini aku tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan.



Ku peluk dan ku cium baby Vano dengan penuh kasih sayang.



"I love you baby "

__ADS_1


Aku mengatakan itu sambil menatap bayi tak berdosa yang kini sedang menatapku juga. Bayi itu pasti melihat dan mendengar bahwa aku sangat menyayanginya.



"Maapkan aunty, sepetinya aunty harus pergi !..


Air mataku tak terbendung tangisanku kini terpecah dan sangat melirih. Bayi kecil yang tadinya tersenyum kini bibirnya menyungging seperti ingin menangis pula. Benar saja bayi itupun akhirnya menangis karena melihat aku menangis.



Kak Jino lalu mendekatiku dengan matanya yang merah. Dia mengambil baby Vano dari pelukanku. Aku merasakan sangat berat untuk melepaskan bayi ini. Aku serahkan tanpa perlawanan karena aku tau kalo dia adalah ayahnya. Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa.



Kak Jino mengambil baby Vano dalam peluknya. Lalu mencoba menenangkannya . Kak Jino membelai baby Vano penuh dengan perasaan cinta. Aku tak bisa berjalan  untuk mundur. Aku ingin tetap berada disini!..



"Pergilah Kis!..


Ucap Jino sambil membuang muka.


Sangat sakit mendengar ucapan itu. Aku berjalan mundur dengan. Perlahan. Aku berlari keluar kamar itu Dengan berderai air mata. Hatiku hancur. Hatiku tak berbentuk lagi. Aku rasanya tak mau hidup lagi jika sesakit ini . Aku hanya bisa menangis dalam kesendirian yang tiada batas.



Nakisya Alluna putri P.O.V end.



Kisya pergi dengan air mata yang menemaninya. Meninggalkan Jino dalam kesedihan yang tersisa.



Jino menitikan air mata yang selama ini berusaha dia tahan. Jino menangis tanpa dia sadari. Air mata yang sedari tadi dia tahan kini tak bisa lagi dia bendung. Hatinya terasa sangat sakit harus mengusir Kisya seperti itu.  Sekuat apapun dia mencoba untuk tegar tetapi dia hanyalah manusia biasa. Bahkan tak bisa dia menahan air matanya.



Terlalu sakit untuk dia tahan . Sesekali dia menghela nafas yang begitu berat dia rasakan. Sesak sangat sesak. Wajah tampan nya kini berubah begitu pilu dan sendu. Matanya basah dan merah. Bahkan tetesan air matanya sampai menetes di pipi sang buah hati.



"Bukan maksud Daddy memisahkan kalian sayang, tapi ini terlalu rumit , terlalu membingungkan, Daddy takut jatuh terlalu jauh, Daddy takut tidak bisa menahan diri dan malah melukai mommy mu lagi, putraku , Daddy mohon maapkan aku ,ayah yang tidak berguna ini, jika kelak kamu besar nanti, tolong mengertilah, bahwa ini semua demi kebaikan mommy mu !...


Jino meneteskan air mata tanpa dia inginkan.



Seribu kali dia tahan tetapi air mata itu jatuh tak bisa lagi terbendung. Jino memeluk erat sang buah hati yang kini mulai tenang. Baby Vano mengisak dan menatap wajah sang ayah dengan mata basahnya. Seolah bayi itu mengerti akan kesedihan sang ayah.



Jino menatap sang buah hati dan mencoba untuk tersenyum kepadanya. Senyum yang sangat sulit dia lakukan. Karena hatinya begitu pedih. Dia mencoba mencoba tersenyum dalam tangisnya. Dia mencoba tegar dalam kesakitanya.



"Jadilah pria yang kuat nak, jangan seperti daddy, Daddy hanya penjahat, dan penjahat memang tak bisa termaafkan."



Jino mengelus lembut sang buah hati yang mulai menangis lagi. Kecupan hangat dia berikan untuk Vano kecilnya. Tak bisa lagi dia menahan air mata. Tak bisa lagi dia bernafas dengan lega. Tak bisa lagi dia menyimpan rasa pilunya. Hatinya sakit sesakit-sakitnya. Dia merasa sangat jahat memisahkan ibu dari anaknya. Tetapi untuk sekarang hanya itupah cara agar semua bisa terlupakan dengan sendirinya.



Jino memeluk buah hatinya dengan tangisan diamnya. Sampai baby Vano terdiam dan mencoba tertidur. Dengan perlahan dia menidurkan bayi kecil itu . Dan Jino segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak butuh waktu lama perawat pun datang. Dan bertanya kebutuhan Jino.

__ADS_1



Watashi no imōto wa watashi no kuni no byōin ni watashi no akachan o idō shitai


"Suster saya ingin memindahkan bayi saya ke rumah sakit di negara saya"



Yoroshikuonegaishimasu mazu ishi ni sōdan shimasu


"Baiklah tuan saya akan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu"



Onēsan arigatō


"Terima kasih suster"


Jino tersenyum dengan senang.



Dōitashimashite


"Sama-sama Tuan"


Lalu suster itupun pergi meninggalkan Jino.



Jino menelepon sang ayah memberitahukan bahwa dia akan membawa baby Vano pulang. Dan tuan Geovandra menyetujui keinginan Jino. Tidak butuh waktu lama dokter pun datang dan memberitahu Jino bahwa baby Vano boleh pulang ke Indonesia. Dengan didampingi oleh seorang perawat.



Jino sangat senang dengan keputusan dokter. Dan menyanggupi apa yang dokter katakan. Jino lalu bergegas untuk mengurus administrasi dan meninggalkan baby Vano bersama suster. Setelah membereskan semuanya Jino lalu kembali ke ruangan baby Vano dan hendak pulang dengan segera



Jino mengirim pesan kepada Lintang


Bahwa dia tidak bisa tetap di Jepang.



"Kenapa kak?..


Balas pesan dari lintang.



"Tidak ada alasan sayang , semoga kamu berbahagia !..


Balas pesan Jino lalu Jino mematikan ponselnya.



Lintang menitikan air matanya ketika membaca pesan terakhir Jino. Dia merasa sangat sedih ketika Jino harus mengucapkan semoga kamu berbahagia. Lintang masih sangat mencintai Jino. Harusnya mereka yang bahagia bukan dirinya dirinya dan orang lain.



Bersambung.



__ADS_1


__ADS_2