
Jino dan kisya sudah duduk di dalam kamar yang sepi. Jarum jam menunjukan angka empat sore. Mereka sudah boleh bersantai dan mengganti baju. Jino sudah sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur. Jino lalu membuka tuxedo yang dia kenakan. Lalu pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan keringat di sekujur tubuhnya. Kini dia sudah segar dan segera mengganti baju dengan baju santai. Setelah nengenakan pakayan, jino lalu keluar dari kamar mandi.
"Sayang, apa kamu mau man_ ." Ucapan Jino terhenti. Dia melihat sang istri telah tertidur lelap di atas kasur. Kisya masih menggunakan gaun pernikahanya. Dan terlihat sangat lelah. Jino mendekati kisya dan duduk di samping sang istri tercinta. Mata pria itu terpokus pada wajah cantik wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Jino mengelus lembut rambut sang istri. Dan Kisya tak terbangun malah tambah lelap.
"Kamu pasti lelah sayang. Wajahmu tadi begitu pucat, sekarang kamu malah tidur Dengan seimut ini, membuatku sangat gemas." Kini Jino tersenyum dengan lembut. Hatinya begitu sejuk melihat betapa cantik Kisya saat tertidur. Jino lalu beranjak dan membuka cover yang berisi baju Kisya. Dia mengambil baju tidurnya Kisya. Dengan perlahan Jino membuka resleting gaun pengantin kisya dan membuka baju pengantin Kisya.
Gaun pengantin yang terlihat sangat besar. Bahkan kisya tidak terbangun saat jino membukakan gaun pengantin itu. Jino terlihat kesulitan membukakan gaun tersebut. Tetapi dia tidak bisa membiarkan istrinya tertidur dengan tidak nyaman. Jino ingin Kisya tidur nyaman. Akhirnya gaun itu sudah bisa Jino lepas dari tubuh sang istri. Lalu dengan segera Jino membantu kisya mengganti baju dengan baju tidur. Jino sesaat terduduk di sofa. Karena begitu lelah bermain dengan gaunnya Kisya.
"Gaunnya besar dan berat, dari tadi Kisya pakai itu, pantas saja dia terlihat begitu lelah." Jino menggerutu dalam hatinya. Dia lalu melangkah dan mengambil minuman dingin yang ada di dalam kulkas. Jino meneguk minuman dingin itu sekali teguk. Waktu sudah menunjukan angka lima sore. Perut Jino sudah keroncongan minta di isi. Tetapi Kisya masih asik bermain di dalam mimpinya.
Jino tak tega untuk membangunkan sang istri. Namun dirinya tak bisa menahan lapar sampai Kisya bangun. Akhirnya Jino memesan makanan. Selang waktu beberapa menit akhirnya makanan itupun datang. Jino dengan segera melahap makananya sampai habis. Dia harus mengisi tenaganya kembali setelah lelah acara resepsi pernikahannya.
Setelah makan, Jino lalu menyakan sebuah televisi. Dia menonton berita tentang pernikahanya. Jino tersenyum karena pesta pernikahannya menjadi sangat terkenal berkat televisi yang menyiarkan. Jino melihat Kisya di layar televisi. Betapa cantiknya Kisya. Senyumnya begitu manis. Pengantin yang polos dan sangat cantik.
__ADS_1
Jino tersenyum sendiri tanpa Jino sadari kini kantuk sudah menghampiri matanya. Jino akhirnya terlelap dengan seketika. Setelah Jino tertidur. Kisya terbangun. Dia melihat sang suami ada di sampingnya. Kisya mengucek matanya. Dia masih tak percaya bahwa dirinya sudah menikah dengan Jino. Kisya tersenyum malu. Lalu Kisya beranjak bangun. Perutnya mulai berbunyi.
"Ah, aku lapar." Ucap Kisya pelan. Akhirnya Kisya bangun. Alangkah terkejutnya Kisya saat melihat gaun pengantinnya sudah berada di lantai. Dia melihat badanya ternyata sudah mengenakan baju tidur. Ya baju tidur super seksi tentunya. Pada dasarnya kan Kisya sangat suka rok pendek. Makanya baju tidurnya juga sangat pendek. Kisya kembali menatap sang suami yang sudah tertidur dengan lelap. Dia melihat bekas makan di meja dekat sofa.
"Dia sudah makan ternyata." Ucap Kisya sambil menatap piring kotor di atas meja. Lalu Kisya memesan makanan dan Kisya mandi dengan segera. Kisya mandi dengan sangat lama. Kisya berendam di dalam bathup dengan taburan bunga mawar yang sangat romantis. Bahkan wangi nawar itu kini meresap di badannya Kisya. Kisya merasa sangat segar setelah lelah seharian. Waktu menunjukan jam delapan malam. Dan kisya masih asik berendam.
Kisya pun beranjak hendak mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Lalu kisya mengambil baju tidurnya dan hendak dia pakai. Ternyata secara tiba-tiba pakaian tidurnya jatuh ke lantai kanar mandi yang masih basah.
"Ya ampun." Kisya kecewa bajunya basah. Lalu Kisya kini hanya menggunakan handuk saja. Mengumbar tubuhnya yang putih dan bersih. Kisya berjalan keluar dari kamar mandi. Dan kisya mengambil baju lain yang ada dalam kopernya. Kisya membuka handuknya dan mengenakan baju nya saat itu juga. Kisya belum menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
"Oh tidak." Teriak Kisya merasa terkejut karena ternyata Jino sudah terbangun. Kisya mengira Jino masih tidur dengan lelap. Pipi Kisya memerah semerah Tomat. Kisya baru sadar ternyata dia jadi bahan tontonan pada saat tadi dia menganakan pakaian.
"Ka, kamu mengintip?" Kisya berkata spontan. Jino tersenyum lalu menepuk sofa di sampingnya. Menandakan agar Kisya segera duduk di sampinnya. Kisya berjalan dengan pelan. Dia masih masih malu dengan kejadian tadi. Dan akhirnya Kisya duduk di samping Jino.
"Makanlah yang banyak!" Ucap Jino sambil tersenyum. Senyuman Jino membuat jantung Kisya berdebar bergitu kencang. Rasa malunya belum hilang. Kisya bahkan gemetar saat dia ingin menggunakan sendok. Jino makin tersenyum melihat kegugupan sang istri tercinta. Jino tahu betul bahwa Kisya masih malu karena hal tadi.
__ADS_1
"Makanlah dengan tenang, aku bahkan tidak melihat apapun." Ucap Jino pelan.
"Benarkah?" Kisya menatap Jino dengan wajah yang masih memerah. Pipinya merona dengan sangat cantik. Membuat Jino bergetar dan ingin memeluk sang istri.
"Anggaplah begitu," Ucap Jino sambil tersenyum nakal. Membuat Kisya semakin malu. Tetapi apa mau di kata. Kisya sudah sangat kelaparan. Kisya langsung memakan makanannya. Dan belum sampai habis Kisya merasakan mual. Lalu kisya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya. Jino mengejar Kisya ke kamar mandi. Jino begitu cemas, dia takut terjadi sesuatu kepada sang istri.
"Kamu tidak kenapa-napa sayang?" Ucap Jino pelan. Sambil mengelus lembut pundak sang istri.
"Rasanya mual sekali kak." Kisya terlihat lemah.
"Bahkan aku belum menyentuh mu sayang, ko sudah mual muntah?" Jino tersenyum manis.
"Ih, kamu tuh." Kisya berteriak merasa malu, lalu memukul Jino dengan pelan. Jino lalu meraih tangan Kisya dengan lembut lalu memeluk sang istri penuh kelembutan. Jantung mereka berdua serasa mau lepas. Mereka berdebar dengan debaran yang senada. Sebuah nada cinta beralun dalam hati mereka. Mereka saling menatap penuh kemesraan. Sebuah tatapan penuh arti dan penuh dengan makna. Itu adalah mata sepasang manusia yang saling mencinta.
🌺Bersambung 🌺
__ADS_1