
Mama Murni langsung memeluk tubuh putra yang berdiri sehat di hadapanya.
"Yatuhan, ini adalah anugrah Tuhan!" Ucap Mama Murni dengan tangisan haru dan bahagia. Pria itu terdiam tidak membalas pelukan sang Mama. Tetapi sesaat kemudian membalas pelukanya juga.
"Syukurlah nak." Papa Geovandra menangis dengan haru.
Sedangkan Kisya masih diam mematung. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri. Dia harus bagaimana, apa harus berlari memeluk pria itu atau menangis bahagia? Tubuh Kisya bergetar menahan tangis. Mana Murni lalu menarik tangan Pria itu ke arah tempat keluarga mereka duduk. Kini jarak mereka hanya tiga meter saja.
Pria itu masih terdiam. Kini pandangan matanya pokus pada wanita yang tengah menatapnya dengan sayup. Mata redup dan basah dengan air mata itu kini menatap pantulan pria yang berdiri di hadapannya. Mama Murni kini mendekati sang suami dan membantu Papa berdiri. Lintang pun sudah berdiri dengan mata yang masih membulat.
Pria itu tersenyum ke arah Kisya. Kisya berjalan perlahan akhirnya Kisya berlari memeluk pria tersebut.
Tangis Kisya pecah dan sangat kencang.
"Ssttt.. kenapa menangis?" Pria itu memeluk erat tubuh mungil sang belahan jiwa.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan kami lagi!" Kisya masih menangis pemuh duka dan haru yang bercampur menjadi satu.
Pria itu menantap Kisya dengan tatapan penuh cinta. "Mana mungkin aku pergi, bahkan anak dan istriku ada disini!" Pria itu berkata sambil mengecup kening sang istri. Benar dia itu adalah Jino. Jino ketinggalan pesawat karena tertidur di kantor.
Kisya menatap wajah Jino dengan tajam. Kini mereka saling bertatapan penuh rasa cinta.
"Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu!" Kisya mengungkapkan perasaanya saat ini. Jino begitu senang mendengar pengakuan cinta dari sang istri. Dengan tanpa ragu lagi Jino mengecup lembut bibir ranum sang istri. Mereka saling bertaut dalam aroma cinta yang mewangi. Mereka tak peduli bahwa banyak mata tengah menonton aksi mereka berdua.Yang mereka tau saat ini mereka saling merindukan.
Suasana pedih dan penuh luka. Kini berubah menjadi suasana haru penuh cinta. Jino dan Kisya masih saling mengecup penuh emosi dan aura cinta yang menggebu. Papa Geovandra melihat dan tersenyum. Mama pun begitu. Sedang Lintang tidak sanggup menatap aksi mereka. Lintang sudah berusaha melupakan jino. Tetapi kalo melihat langsung kejadian romantis ini. Sepertinya Lintang belum sanggup. Kepala Lintang sedikit berdenyut merasakan pusing. Dia mencoba duduk dan minum air mineralnya.
__ADS_1
Jino melepaskan kecupanya. Dan dia memberi nafas untuk mereka berdua.
"Aku juga sangat mencintaimu!" Ucap Jino dengan suara seraknya lalu memeluk sang istri dengan erat. Jino kembali mengecup kening sang istri. Kisya hanya bisa menejamkan mata saja. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke arah Papa dan yang lainya. Papa sangat bahagia. Tubuhnya yang lemah mendadak menjadi sangat kuat.
"Kamu membuat kita cemas, Jino!" Ucap Papa dengan suara bergetar. Papa sangat bahagia sampai-sampai Papa menitikan air matanya. Dia sungguh tidak bisa membayangkan jika Jino pergi meninggalkan mereka. Itu sebuah neraka untuk sang Papa. Tidak di pungkiri Jino adalah penerus keturunan Geovandra.
"Jino ketinggalan pesawat karena ketiduran Pa, pas Jino bangun Jino bergegas berangkat dan lupa membawa ponsel, jadi Jino tidak bisa menghubungi kalian." Ucap Jino dengan pelan. Papa tersenyum dengan air mata yang nenetes. Sebuah rasa haru penuh kebahagiaan terpancar di wajah pria paruh baya itu.
"Sukurlah." Ucap Papa dengan senyumannya.
"Mama tidak bisa membayangkan, jika kamu pergi meninggalkan kami, Mama tidak sanggup kehilangan kamu Jino, Mama sudah hancur karena kehilangan Jeff, dan kini Mama akan sangat hancur jika sampai kamu pergi." Ucap Mama menangis bahagia. Jino tersenyum dengan manis. Dia merasa senang ternyata banyak orang yang menyayanginya. Dia sepertinya akan mulai menyayangi Mama Murni.
Kisya masih bergelayut manja di lengan kiri Jino. Jino merasa senang kisya bisa seperti itu. Pasalnya selama sebulan lebih pernikahan mereka, bahkan Jino tidak berkomunikasi dengan Kisya. Kisya terdiam bahkan ketika Jino menyapa, jangankan mengecup, memegang tangan pun Kisya tidak mengijinkan. Karena itulah selalu ada hikmah di balik semua tragedi yang telah terjadi.
Jino tak henti mengecup kening sang istri dengan lembut. Wajah bahagia dan penuh cinta tergambar jelas padanya.
"TIDAK BOLEH!!!!....
Ucap semuanya serentak. Mereka tidak mengijinkan Jino berangkat saat itu.
"Eh tapi itu penting." Ucap Jino.
"Darius dan Angel yang akan berangkat, biar Papa yang menghubunginya!" Ucap Papa tegas. Dan Jino hanya bisa mengangguk saja. Jino melihat semua keluarganya habis menangisinya. Apalagi dia melihat mata sang istri begitu sembab.
Jino lalu menatap Baby Vano yang tertidur dengan lelap. Jino tersenyum.
__ADS_1
"Ternyata cuma dia yang tenang di sini!"
"Baby Vano begitu lelap ,sedari tadi tidak terbangun!" Ucap Kisya pelan.
"Iya, sepertinya anak kita tahu bahwa Daddy nya baik-baik saja!" Jino tersenyum manis menatap sang istri. Kisya pun membalas senyuman sang suami. Jino begitu gemas ingin mengecup Kisya kembali. Tetapi dia merasa malu kalo tiba-tiba mengecup lagi. Kalo tadi sih karena mereja berdua terbawa suasana cinta dan urat malu mereka seolah putus karena bahagia.
Jino menatap Lintang.
"Kamu tidak senang aku baik-baik saja, kenapa tidak menyambutku!" Jino terkekeh.
"Jelas saja aku senang, mantan kekasihku sehat wal'afiat, apa aku harus berlari memelukmu dan mengecup mu seperti Kisya tadi?" Lintang tersenyum nakal. "Boleh saja, tetapi pastinya aku akan di hajar oleh suamimu yang galak itu." Ucap Jino.
"Dia tidak galak, dia hanya tidak suka denganmu!" Sahut Lintang.
"Iya sama saja, dia hanya galak terhadapku saja!" Jino tersenyum dengan manis.
Lintang sudah mulai pucat, sakit kepalanya tidak kunjung berhenti.
"Kamu kenapa Lintang?" Tanya Kisya melihat wajah Lintang pucat dan Kisya menerka ada yang tidak beres pada diri Lintang.
"Aku hanya pusing saja, beberapa hari ini aku terlalu cape syuting sepertinya!" Sahut Lintang .
Kisya terlihat cemas melihat Lintang seperti itu. "Ayo sekarang kita pulang saja kerumah, dan makan malam bersama!"ajak Papa.
"Baiklah." Jawab Jino. Jino masih menggadeng sang istri dengan lembut. Mama Murni mendorong stroler Baby Vano. Dan Lintang mulai Bangkit dan hendak berdiri. Dia berjalan perlahan. Tetapi denyutan kepalanya malah semakin kencang. Semua menggelap dia rasa. Dan akhirnya Lintang hampir saja jatuh. Dengan sigap Jino menangkap tubuh Lintang. Lintang pingsan seketika.
__ADS_1
Semua terkejut melihat Lintang pingsan. Lalu Jino segera membawa Lintang ke mobil. Semuanya lalu mengantar Lintang ke rumah sakit. Lintang sangat kurus dan pucat. Dia terlihat begitu lemah.
🌺Bersambung🌺