Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Gelisah


__ADS_3

Malam itu Jino san Kisya selesai menunaikan tugas sebagai suami istri. Tubuh mereka masih basah dengan keringat dan mereka masih berbungkus selimut tebal. Jino mengecup kening sang istri dan memeluknya sambil mengatur nafas mereka yang begitu tersenggal-senggal.


"Sayang, aku besok pergi pagi-pagi, aku merasa bersalah padamu harus meninggalkan kamu jauh sayang!" ucap Jino pelan.


"Hmm." ucap Kisya pelan.


"Kita bahkan belum sempat berbulan madu ya sayang, aku janji setelah menyelesaikan masalah ini kita berbulan madu ya sayang, aku ingin kita berangkat ke korea sayang, satu Minggu disana kurasa akan sangat menyenangkan." ucap Jino.


"Korea?"


"Iya korea, apa kamu ingin ke tempat lain?"


"Ah, tidak juga, kemanapun kakak ajak Kikis, Kikis akan ikut!"


"Eh ko gitu, ini kan bulan madu kita, masa sayang tidak mau berpendapat dan semua terserah Daddy, Mom."


"Sayang, aku beneran sangat senang kita akan berbulan madu, semuanya akan terasa indah karena kita tetap bersama, jangan kan kita ke korea, bahkan di rumah pun, aku sangat bahagia jika ada kamu sayang, bukanya di rumah juga kita masih bisa memadu kasih." ucap Kisya sambil mengeratkan pelukannya kepada sang suami tersayang.

__ADS_1


"Iya juga sih sayang, aku di rumah pun asal ada kamu , beneran bahagia sayang, tetapi aku ingin saja pergi berbulan madu, kan suasananya beda."


"Iya, pokonya Daddy ajak Mommy kemanapun, Mommy ikut saja."


"Ya ampun manisnya istriku." Lalu Jino mengeratkan pelukannya dan mencoba untuk memejamkan mata karena ini ternyata sudah larut malam. Jino dan Kisya bahkan sudah dua kali beradu kekuatan. Dan mereka kini begitu lelah. Saatnya kini mereka untuk beristirahat dan tidur dengan nyenyak.


Jino tertidur dengan seketika. Sayangnya tidak dengan Kisya. Kisya malam itu tidak bisa tidur. Dia begiru berharap pagi tidak datang. Karena besok pagi sang suami akan meninggalkan dirinya untuk perjalanan dinas ke luar negri. Malam itu Kisya begitu resah dan gelisah. Dia sangat tidak ingin di tinggalkan. Dia ingin ikut ke Belanda. Tetapi apalah daya, dia harus kuliah dan menjaga Baby Vano dengan baik.


Lagian di belanda, Jino bukan untuk berlibur. Jino pergi kesana untuk menuntaskan. Beberapa masalah besar dan itu sangat penting untuk kelangsungan perusahaan Papa Geovandra. Dengan adanya masalah ini, membuat Papa Geovanda rugi besar dan Papa sempat shok.


Karena itu Jino harus cepat berangkat dan menyelesaikan semua masalah sampai tuntas. Dan mencabut semua rumput liar yang menghalangi jalan sampai ke akar. Kini tidak bisa mengajak serta Kisya. Karena disana dia akan sangat sibuk. Dan juga disana akan sangat bahaya untuk Kisya. karena hal yang akan Jino lakukan di sana adalah menginvestigasi tentang masalah keuangan.


Karena itu Jino tidak mengajak Kisya untuk berangkat bersama ke Belanda. Karena memang disana Jino bukan untuk bermain-main atau sekedar jalan-jalan. Walau begitu , Kisya tetap merasa sedih karena harus tinggal jauh dengan sang suami, walau hanya beberapa hari saja. Memang belum bisa ditentukan sih, berapa lama Jino akan tinggal di Belanda. Bisa saja dua hari, satu Minggu atau bahkan satu bulan. Pokonya sebelum Jino menuntaskan semuanya kini tidak akan bisa pulang.


Jino menitipkan perusahaan Kisya kepada Papa, Papa akan sesekali memantau dan memeriksa keadaan perusahaan Kisya yang Jino tinggalkan. Tentunya ada direktur lain juga yang menbantu disana. Kalau menyangkut dengan perusahaan, Kisya kurang mengerti. Dia hanya mengerti bahwa saat ini hatinya begitu resah dan gelisah karena akan di tinggal pergi oleh sang suami.


Malam semakin larut saja, namun wanita itu masih tidak bisa memjamkan matanya. Kecemasan dan kegelisahan masih saja mengelilingi seluruh hati dan pikirannya. Dia begitu khawatir dan sebetulnya sangat ingin ikut dengan sang suami. Padahal dia sudah memberi kode kepada Jino bahwa dia ingin ikut. Dengan mengatakan bahwa dimana pun dia berada asalkan bisa selalu bersama dengan jino, maka semuanya akan sangat indah dan menyenangkan untuknya.

__ADS_1


Mungkin Jino tidak mengerti dengan kata-katanya. Sehingga Jino tidak menjelaskan batapa bahayanya jika Kisya ikut denganya ke belanda. Pihak dari Jacob pasti akan membuat Kisya menjadi bahan untuk melemahkan Jino. Karena itu Jino tidak mau membawa serta sang istri untuk pergi ke sana.


Malam itu Kisya masih tidak bisa tidur. Dia rasanya ingun menangis. Ingin merengek dan mengatakan jangan pergi ,atau ajaklah dia ke sana, namun Kisya tidak bisa mengatakan itu semua kepada sang suami. Kisya hanya biaa memendamnya dalam hati saja. Rasanya begitu sesak dia rasakan. Dadanya seolah meyempit. Seolah terhimpit batu yang sangat besar.


"Aku tidak bisa membayangkan hari-hari ku tanpa kamu sayang, aku pasti akan sangat kesepian dan begitu merindukan kehadiranmu!" ucap Kisya dalam hatinya. Sambil menatap wajah sang suami yang begitu tampan. Wajah Jino yang sedang tertidur dengan sangat lelap. Dan mendengkur halus karena begitu kelelahan.


Kisya memeluk Jino begitu erat. Seolah dia tidak mau melepaskan sang suami. Betapa dia gelisah malam itu. Wajar saja, istri mana yang mau di tinggal jauh oleh suaminya. Kegelisahan wanita itu terus berlanjut hingga menyita waktu tidurnya. Jam dinding terus berdetak. Melewati angka 4 malam itu. Sampai subuh tiba. Semuanya masih sama. Wanita itu masih tidak bisa memejamkan mata karena kegelisahan yang berlebihan.


Sampai pagipun tiba. Kisya sama sekali tidak tertidur barang sedetik pun. Dia beranjak dari tempat tidurnya. Dia lanjut ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa keringat bercintanya semalam. Saat dia melihat cermin. Betapa terkejutnya dia melihat mata panda pada wajahnya.


🌺 Bersambung 🌺


Catatan Author.


***Sahabat jino dan kisya.. mohon maaf saya akan libur dulu beberapa hari, nanti saya up lagi tanggal 1 ya. salam sayang.


untuk akhir bulan, saya sibuk mengerjakan laporan bulanan di puskesmas. tunggu ya dengan sabar. okee...

__ADS_1


Lee / Evangelin Harvey***


__ADS_2