
Setelah selesai mandi merekapun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi.
(Sumpah author gak tau itu handuk namanya apa, tolong di komen ya di bawah).
Jino membuka pintu kamarnya. Dan duduk di kursi balkon dengan santai. Udara malam di kota B tidak sedingin di kota bandung apalagi di daerah Ciwidey. Jadi mandi pada malam hari di kota B sangat menyegarkan. Jino bersandar di kursi balkonya yang terlihat begitu nyaman.
Kisya melihat sang suami begitu santai dan diapun berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat dan mengambil beberapa camilan untuk mereka bersantai. Disana sudah ada bibi sedang duduk menonton tv. Bibi memang sudah seperti orang tua sendiri. Jino dan Kisya tidak pernah membedakan bibi dengan mereka. Karena bibilah yang selama ini telah mengasuh Jino sedari kecil. Makanya Jino begitu sayang kepada bibinya itu.
"Nyonya muda butuh bantuan?" Bibi menghampiri Kisya dengan senyumnya.
"Tidak bi terimakasih banyak, aku akan membuat teh hangat untuk Daddynya Vano." Kisya tersenyum dengan ramah.
"Nyonya duduk saja, biar bibi yang buatkan!"
"Bibi istrirahat saja, bibi sudah lelah merawat rumah sampai bersih seperti ini, aku cuma memuat teh hangat saja!"
Bibi pun mengangguk. Bibi begitu senang karena sifat Kisya sama ramahnya seperti Jino. Dia begitu menghargai bibi dan tidak pernah berkata kasar sama sekali. Kisya mulai membuat secangkir teh hangat untuk Jino. Lalu dia membawa dua toples makanan ringan untuk sang suami.
Kisya berjalan perlahan menaiki anak tangga. Dan langsung menuju ke balkon kamarnya. Kisya melihat jino duduk begitu santai sambil melihat lihat tablet miliknya. Sepertinya Jino sedang melihat perkembangan perusahaan milik Kisya. Kini perusahaan Kisya sudah di ambil alih oleh Jino semenjak kepergian Jeff. Perusahaan Kisya berkembang begitu pesat.
Perusahaan Jino sendiri masih di pegang oleh Papa Geovandra. Ini semua berkat sokongan dari Papa Geovandra yang membantu semua pembiayaan perusahaan Kisya saat dua tahun lalu terpuruk dan hampir saja bangkrut. Kini semuanya berjalan dengan lancar. Bunda Nisya pun bisa leluasa memakai uangnya untuk kebutuhan biaya rumah sakit Rasya. Saudara kembarnya Kisya memang sudah sangat lama koma.
Selama dua tahun Rasya koma dan menghabiskan banyak sekali uang. Namun semuanya tidak bunda pedulikan. Yang bunda pedulikan hanya supaya Rasya bisa terus bernafas.
Malam itu udara semakin dingin. Tetapi untuk mereka malam itu begitu sejuk dan sangat segar. Kisya menyimpan teh hangat nya dan beberapa toples di meja di samping kursi Jino. Jino menoleh pada sang istri. Dan tersenyum dengan manis. Jino menarik tubuh sang istri agar duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Kisya Kini sudah duduk di pangkuan sang suami. Poisisi sangat nyaman untuk mereka berdua. Kisya menyandarkan tubuhnya pada dada sang suami yang kekar. Jino penperlihatkan sebuah grafik pada Kisya. Grafik perkembangan perusahaan yang sangat berkembang pesat.
"Lihat sayang, perusahaan kamu berkembang begitu cepat!"
"Waw.. tidak menyangka ya sayang, sekarang Bunda tidak kesusahan uang lagi untuk biaya Rasya yang begitu mahal." Kisya masih memperhatikan tablet milik sang suami. Kisya terkesima dengan perkembangan pasar saham yang naik sangat pesat.
"Iya, mungkin ini sudah rizkinya Rasya sayang!"
"Iya, aku hanya ingin Rasya bangun sayang!" Kisya mulai memperlihatkan wajah sedihnya.
"Rasya pasti bangun ko sayang.. jangan sedih seperti ini dong, kita harus tetap semangat demi kesembuhan adik kita!" Jino mengecup kening Kisya dengan lembut.
"Iya sayang, Daddy Vano ." Kisya tersenyum dengan manis.
"Dad.."
Dan mereka tertawa karena panggilan itu. Panggilan baru untuk mereka berdua. Agar Vano bisa mendengar keakraban kedua orang tuanya.
"Aku merasa canggung memanggilmu Daddy."
"Hehe aku juga." Jino terkekeh.
"Yasudah kita biasakan."
"Oke Mommy de Vano." Jino mengecup kembali kening Kisya. Mereka begitu nyaman dengan posisi yang seperti itu. Rasanya mereka tidak mau dan enggan untuk beranjak. Mereka masih menggunakan jubah mandi. Jino lalu mrnyimpan tablet miliknya di meja. Lalu Jino menyuruh Kisya untuk duduk berhadapan denganya.
__ADS_1
Kini Kisya sudah merubah posisinya mengahadap ke badan Jino.
"Manis sekali," Jino berkata sambil berbisik lembut ditelinga sang istri. Membuat Kisya merasa geli dan tersenyum manis. Suaminya itu sungguh sangat pintar menggoda.
"Baru tahu ya, kalau aku manis?" Kisya menggoda sang suami dengan menyentuh dada sang suami dengan lembut.
"Hmm kamu menggodaku sayang?" Seringai senyum dia torehkan. Kisya telah membangunkan srigala yang lapar. Jino memang selalu tergoda oleh sang istri. Jangankan Kisya menggodanya. Kisya diam saja pun Jino sudah merasa tergoda. Apalagi di goda seperti ini oleh Kisya.
"Ah.. siapa bilang, aku tidak menggoda siapapun?" Kisya mengelak dengan senyumannya.
"Dasar perempuan penggoda, aku akan memakan habis kesombonganmu ya!" Jino langsung menggendong sang istri ke dalam kamarnya. Kisya kini sangat menyesal karena telah meyentuh dada Jino sehingga Jino terpancing dan tergoda. Kali ini tanpa ampun Jino memberi Kisya pelajaran yang begitu nikmat. Sampai Kisya benar-benar terasa amat lelah.
Malam itu malam yang panjang. Bahkan semalaman Kisya di buat tidak bisa tidur dengan tenang. Mereka saling memadu kasih setiap detakan jarum jam. Setiap itu pula mereka hembuskan nafas lelahnya. Ruangan yang begitu wangi dengan aroma cinta yang menyengat. Menambah romantis suasana.
Redup sayup lampu kamar telah membuat rembulan bersinar seolah sangat terang di kamar itu. Deru nafas yang masih terdengar. Bisikan bisikan cinta penuh kemesraan Jino lontarkan kepada sang istri. Menambah aura kenikmatan yang Kisya rasakan. Mereka menikmatinya walau tubuh mereka sudah lelah solah tak lagi bertulang.
Malam yang sangat dingin. Bahkan ruangan itu terasa sangat panas dibuatnya. Mereka memadu asmara dengan penuh dekapan kasih sayang. Bahkan suara lembut Kisya seolah menjadi alunan lagu romantis. Wanita itu terus bersuara dengan merdu. Suara yang tidak begitu keras dan tidak begitu pelan. Menambah semangat sang suami untuk terus memberikan rasa nyaman untuk istrinya.
Saat itu Jino meraung bagaikan singa jantan. Merasakan sebuah titik puncak yang membuat tubuhnya ambruk karena lelah. Mereka mengatur nafas masing-masing. Tubuh mereka begitu basah. Keringat itu sudah bercucur begitu deras. Wanita itu sudah tak bisa bergerak. Begitu lelah dan kehabisan tenaga.
"Maafkan aku ya sayang!" Jino mengecup kening sang istri yang sudah sangat kelelahan.
Kisya membuka matanya dan menatap lembut pantulan wajah tampan yang ada di sampingnya. Wanita itu mengangguk dan tersenyum manis. Jino lalu memeluk tubuh mungil sang istri dan mereka bahkan tak sanggup lagi untuk ke kamar mandi. Mereka tidur dengan sangat cepat. Malam itu begitu panjang dan mereka mulai masuk ke dalam dunia mimpi yang indah. Kini insomnia Jino sudah sembuh. Tetapi dia malah membuat istrinya tak bisa tidur sepanjang malam.
🌺 Bersambung 🌺
__ADS_1