
Ruangan itu masih gelap. Jendela bahkan masih tertutup kain gorden. Kedua insan yang masih terlelap karena lelah telah bergelut semalaman. Terlihat Jino dan Kisya tertidur pulas sambil memeluk satu sama lain. Tubuh mereka yang polos berbalut selimut tebal yang begitu hangat.
Kulit putih mereka saling bersentuhan dan mereka tertidur dengan begitu lelap. Sepertinya kedua Insan itu kini sedang berada di dalam dunia mimpi. Sebuah dunia yang hanya mereka berdua yang tahu. Pagi itu tangis seorang anak bahkan tidak bisa membuat mereka terbangun.
Baby Vano Sudah menangis menjerit-jerit di bawah sana. Dia sudah merindukan sang Mommy dan Daddy-nya. Bayi itu digendong oleh salah satu pengasuhnya. Tetapi dia tidak mau dan memaksa untuk turun. Balita itu kini berusia dua tahun dan dia sudah pintar menaiki tangga.
Posisi kamar Jino di atas dan Baby Vano sudah tahu posisi kamar orang tuanya. Balita itu bahkan menjerit dan berlari ke arah tangga. Dia ingin menemui sang Daddy. Karena tidak biasanya jadinya bangun kesiangan seperti itu.
"Daddy... Daddy... Daddy bibi Daddy," tangis balita itu begitu nyaring balita itu mencoba berlari ke arah tangga disusun oleh Bibi pengasuh yang sudah kewalahan karena balita itu mengamuk sedari subuh.
Jino dan Keisha benar-benar tertidur seperti orang mati. Bagaimana mereka begitu lelap sedangkan di lantai bawah anaknya menjerit-jerit meminta bertemu dengan mereka. Ini semua gara-gara Jino yang benar-benar membuat Kisya kelelahan semalaman. Setelah kemarin mereka rujuk, ini adalah malam Kedua mereka tinggal bersama lagi.
Tentu saja kesempatan itu tidak dibuang sia-sia oleh sang suami. Seperti biasanya Jino selalu membuat Kisya berteriak menjerit dan menangis dalam pelukannya. Pria itu memang tidak cukup menyentuh istrinya Hanya satu Kali saja. Bahkan setelah rujuk ini ada adegan terlama yang mereka lakukan semalaman penuh dan hampir lima kali adegan.
Sebagai seorang istri Kisya hanya bisa menuruti keinginan sang suami. Padahal sudah jelas dia sudah sangat kelelahan dan hampir saja pingsan. Maklumlah ini adalah hari ke enam belas Kisya, paska keguguran. Tetapi memang Kisya sudah tidak ada darah lagi. Dalam sepuluh hari paska keguguran wanita yang telah keguguran boleh berhubungan intim bersama suaminya.
__ADS_1
Dan hari ke lima belas wanita yang setelah keguguran itu sudah subur kembali. Wanita yang keguguran tidak seperti wanita yang habis bersalin. Masa nifas mereka memang 40 hari tetapi untuk wanita keguguran lima belas, Enam belas hari mereka sudah subur kembali. Entah kenapa Jino terus-terusan menggempur sang istri dengan tujuan ingin memiliki seorang bayi lagi. Sebagai pengganti bayi yang sudah gugur itu.
Sudah jelas mereka memang memiliki misi yang sangat kuat. Ingin memberikan Baby Vano seorang adik yang cantik ataupun seorang adik yang ganteng. Mereka berharap kali ini mereka akan berhasil. Dan mereka pun berdo'a semoga tidak ada aral melintang lagi yang mengganggu rumah tangga mereka. Sehingga mereka bisa hidup bahagia bersama anak-anak mereka.
Jino menginginkan banyak anak yang lahir dari rahimnya Kisya. Sepeninggal adik kembarnya Rasya. Kini rumah Bunda Nisya begitu sepi. Kisya tidak tega untuk membiarkan Bunda Nisya tinggal sendirian. Karena itulah Kisya ingin menemani Bunda Nisya dan memberikan seorang cucu yang cantik atau tampan yang akan berkunjung saat mereka libur sekolah.
Sedangkan Baby Vano sendiri sudah diminta Mama Murni untuk tinggal bersamanya. Sebuah misi yang berat karena Kisya harus membagi anak-anaknya kepada dua belah keluarga yaitu keluarga dari Jino dan keluarga dari dirinya. Tetapi Kisya sendiri masih belum memikirkan. Apakah dia ikhlas membiarkan anak-anaknya tinggal jauh darinya.
Karena pada kenyataannya Kisya sendiri tidak tahan tinggal jauh bersama Baby Vano. Karena itulah permintaan dari Mama Murni dan Bunda Nisya tidak langsung dia setujui. Tapi yang pasti keluarga besar menginginkan Kisya memiliki anak lebih dari tiga.
Saat ini Jino dan Kisya sudah benar-benar kelelahan. Pintu kamar mereka pun diketuk dengan kencang oleh tangan mungil si Baby Vano.
"Daddy Daddy Daddy... Wake up, wake up!" Balita itu terus mengetuk pintu dengan sekuat tenaganya. Tangan mungilnya telah membuat pintu itu terus berbunyi. Baby Vano tidak tahu kalau Kisya sebetulnya sudah ada di dalam.
Karena bahkan dua hari ini Jino dan Kisya tidak keluar kamar sama sekali. Wah mereka benar-benar gigih dalam menjalankan misi. Bahkan kini suasana kamar mereka begitu berantakan. Baju mereka pun bertebaran di lantai. Bukan saja baju mereka yang bertebaran. Bahkan tisyu pun sudah terbuang banyak di lantai. (bekas apa ya itu ha ha ha)
__ADS_1
Ya ampun ya ampun ya ampun itulah kondisi kamar mereka saat ini.
"Wake up, wake up Daddy.. Aku Vano, aku Vano Daddy," sekali lagi balita itu berteriak membangunkan Daddy-nya di dalam.
"Baby Vano jangan bangunkan Daddy dan Mommy-nya, kasian mereka lelah!" Ucap pengasuh Baby Vano.
"Why why bibi why hu hu hu why ?" Baby Vano akhirnya menangis dan menjerit, karena Bibi pengasuhnya melarang dia untuk membangunkan sang Daddy.
"Sebaiknya kita mandi terus kita sarapan, nanti Daddy akan merasa bau kalau Baby Vano masuk ke dalam kamar dalam kondisi belum mandi!" ucap Bibi pengasuh dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Baby Vano masih terus menangis tanpa henti.
Jino dan Kisya benar-benar tidur seperti orang mati. Seolah-olah nyawa mereka sekarang sedang berjalan-jalan jauh dari rumah. Sehingga bahkan teriakan sang buah hati tidak bisa membangunkan mereka. Mereka berdua tidur begitu cantik dan tampan. Saling berpelukan satu sama lain dan seolah tak ingin terpisahkan.
"Yuk kita ke bawah, sayang!" ajak Bibi pengasuh sambil mencoba menggendong Baby Vano.
"No no no... Tidak mauu tidak mauuu!" Balita itu menolak untuk diajak ke bawah. Tapi apalah daya dia hanya balita berumur dua tahun dengan tubuh yang kecil dan lebih pengasuh dengan mudah menggendongnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺