Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Pulang


__ADS_3

Akhirnya Jino dan yang lain bisa pulang. Karena resepsi pernikahan sudah selesai.


"Jino. Apakah kamu mau langsung pulang kerumah atau mau mampir ke rumah Papa dulu?" tanya papa Geovandra kepada Jino.


"Sepertinya Jino akan langsung pulang saja Pa. Karena Jino tidak tahan ingin bertemu dengan Kisya," ungkap Jino sambil menggendong baby Vano yang baru bangun.


"Kamu seperti pengantin baru saja, padahal cuma satu hari saja berpisah dengan istrimu, sudah rindu berat seperti itu," kata papa Geovandra dengan senyum yang merekah, menertawakan sikap putranya yang begitu cinta mati kepada sang menantu.


"Tidak apa-apa kan Pa. Karena kami terlihat begitu harmonis, Memang pada kenyataannya hanya Kisya yang bisa membuat Jino bahagia, Jino tak bisa jauh darinya," kata Jino sambil menyunggingkan senyumnya.


"Tadinya apa yang mau mengajak kamu makan malam, karena Papa belum bilang kepadamu, kalau Papa sudah membebaskan Rosaline," kata sang papa dengan suara yang datar.


"Dengan alasan apa Papa membebaskan dia, padahal wanita itu sudah membuat Jino dan Kisya kehilangan bayi kami," kata Jino dengan rasa kesalnya.


"Karena Rosaline sudah membantu kita di proyek Belanda itu, dia bahkan rela ayahnya dipenjara, dan memberikan saham tersebut kepada kita," Kata papa Geovandra kepada Jino.


"Ayah tiri Pa. Bukan ayah kandung. Jadi wajar saja Rosaline lebih memilih memberikan salam itu kepada Papa, dari pada kepada dia," ungkap Jino dengan suara yang rendah namun terdengar jelas oleh sang papa.


"Benar memang benar, ayah tiri. Tapi lihatlah pengorbanan dia, kalau tanpa bantuan saham di Rosaline. Apakah kita akan bisa mengembalikan perusahaan ke kejayaannya, padahal waktu itu Perusahaan kita sedang goyang, kita hampir dilanda kehancuran, karena itu Rosaline datang sebagai penyelamat saat kita kesusahan, karena tuntutan Kisya. Papa berpikir beribu kali bahwa Papa harus membalas kebaikannya Rosaline dengan membebaskannya dari hukuman," kata papa Geovandra kepada putranya.

__ADS_1


"Ya sudah terserah Papa, Jino tidak mau ikut campur lagi," ucap Jino sambil masuk ke dalam mobilnya. Pria itu seolah merasa sangat kesal kepada sang papa, karena papanya membebaskan Rosaline begitu saja tanpa persetujuan dari Jino terutama Kisya.


Dan akhirnya Jino langsung melaju lebih dahulu dari pada mobil sang papa. Di dalam perjalanan Jino terus-menerus membayangkan kembali bagaimana perasaan Kisya saat ini. Kisya pasti sangat sedih jika bertemu langsung dengan Rosaline, maka jika suatu saat Papa Geovandra mengundang Jino dan Kisya untuk bertemu dengan Rosaline dalam sebuah acara makan malam, maka Jino memutuskan tidak akan berangkat ke acara tersebut, dan hanya akan diam saja di rumah. Dari pada harus menyakiti hati sang istri.


🎄🎄🎄


"Bagaimana Pa, apakah Jino masih marah kepada kita?" tanya mama Murni kepada sang suami.


"Begitulah Jino, dia tidak setuju dengan rencana Papa, tapi Papa sudah terlanjur membebaskan Rosaline dan tujuan Papa baik, yaitu membalas budi atas semua kebaikan Rosaline kepada kita, apa Papa salah, Ma?" tanya papa Geovandra kepada sang istri.


"Mama juga tidak tahu, kalau melihat dari sisi Papa. Itu semua sudah betul. Papa ingin berterima kasih kepada Rosaline atas perbuatannya di masa lalu. Tetapi kalau mengingat posisis Kisya, Mama pun tidak setuju, karena Kisya pasti masih merasa sakit hati ketika melihat Rosaline bebas, karena kebebasan wanita itu tidak akan membuat bayinya Kisya kembali," kata Mama Murni dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi Rosaline mengatakan itu sebuah kecelakaan, gadis itu berkata pada Papa bahwa dia tidak menyangka ternyata jatuhnya Kisya bisa membuat Kisya kehilangan janinnya. Karena itulah Papa merasa iba kepadanya, melihat bahwa dia begitu baik menolong kita, Papa sebagai Pamannya tidak tega harus melihat keponakan sendiri masuk ke dalam tahanan. Rosaline seorang gadis dan belum menikah, nama baiknya hancur karena dia harus dipenjara," kata Papa Geovandra menjelaskan kepada sang istri.


"Semuanya sudah terjadi Mama. Tidak mungkin Papa harus memasukkan kembali Rosaline ke dalam tahanan setelah Papa bebaskan, sudahlah sekarang tinggal Jino dan Kisya mengikhlaskan saja, toh mereka masih bisa memiliki bayi yang lain, mereka masih muda," kata Papa Geovandra kepada sang istri.


Sepanjang jalan pulang Papa dan Mama terus berbicara tentang Jino dan Kisya, beserta Rosaline. Papa Geovandra tidak mengetahui bahwa Rosaline begitu mencintai Jino. Andai saja Papa Geovandra mengetahui tentang hati Rosaline. Mana mungkin dia akan berpikir dua kali.


Kehadiran Rosaline di Indonesia pasti akan membuat rumah tangga Jino dan Kisya tidak nyaman dan tenang. Sebagai wanita yang sangat posesif Rosaline pasti akan melakukan banyak hal untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk untuk mendapatkan Jino.

__ADS_1


Andai saja papa Geovandra mengetahui hal itu, apakah papa Geovandra masih akan membebaskan Rosaline dari tahanan?


"Apakah Papa tahu sifat Rosaline sebenarnya, kenapa Mama rasanya curiga bahwa kehadirannya kali ini akan membuat hubungan Jino dan Kisya retak," tanya mama Murni dengan hati yang cemas dan berdebar.


"Tidak mungkin Ma, Rosaline tidak mencintai Jino, mereka bersepupu dan mereka memang dekat sedari kecil," jawab papa Geovandra dengan tegas.


"Tapi kenapa hati Mama tidak tenang seperti ini, jika saja sampai Rosaline melakukan sesuatu hal kepada Jino dan Kisya, maka Papa harus menanggung semua konsekuensinya, selain kemarahan Jino dan Kisya, Papa juga harus menerima kemarahan dari Mama, karena berbuat sesuka hati Papa," kata mama Murni sambil memalingkan wajahnya.


"Tenang saja Ma, Papa tidak akan salah langkah, rasanya tidak mungkin Rosaline menghancurkan hubungan harmonis antara Jino dan Kisya," kata papa Geovandra dengan keyakinannya.


"Semoga saja ya, tapi Mama masih tidak yakin, sudah lupakan. Dari pada pusing," kata mama Murni kepada sang suami.


"Iya, harusnya memang kita melupakan hal itu. Mama sendiri yang mengungkit. Ya sudah perjalanan masih jauh, Mama tidur saja agar nanti Mama tidak merasa pusing, acara pesta tadi membuat tenaga kita terkuras," kata Papa kepada sang istri.


"Baiklah, Pa," kata mama Murni sambil mencoba memejamkan matanya. Padahal hatinya masih merasa tidak tenang.


🎄🎄🎄


Halo kakak ... sesudah baca jangan lupa like dam vote ya.

__ADS_1


Salam sayang dariku


Evangelin Harvey


__ADS_2