
"Kis, Kis, kamu tidak apa-apa nak?" Papa mengetuk pintu dengan keras. Dia takut terjadi sesuatu hal yang terjadi pada putri menantunya itu. Kecemasan datang menerpa ketika Papa mendengar suara tangisan sang menantu di dalam kamar mandi. Sebuah tangisan yang terdengar begitu melirih, dan menyakitkan.
Tok tok tok.
Pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar mandi dan dengan kecemasan yang menyelimuti pikiranya. Baby Vano yang kini sedang berada dalam gendongan sang kekek hanya bisa terdiam ketika itu. Bayi itu seolah tahu Mommy-nya sedang bersedih.
Didalam kamar mandi Kisya masih terduduk lemas di kloset. Bulir air bening menetes membasahi pipi mulusnya. Wanita itu tampak sedih dan kecewa. Tubuhnya bergetar menahan tangis agar tidak terlalu kencang. Dia menangis dengan begitu pedih. Dia bahkan tidak menghiraukan ketukan pintu dari luar. Kisya masih menangis dalam kekecewaan. Hatinya sesak dan terasa sakit.
Dia meraba perutnya yang terasa sakit. Dan dengan segera kisya mengenakan pembalut yang ada di dalam kantong kresek. Dia sudah tahu bahwa itu adalah jadwalnya untuk datang bulan. Sehingga dia selalu siap ketika si bulan datang. Tapi kali ini sangat berbeda. Dia merasakan sebuah kekecewaan ketika dirinya kedatangan tamu bulanan. Pasalnya saat ini sebagai seorang istri. Dia sangat ingin memberikan keturunan kepada sang suami.
Walau Jino tidak terlalu mengebu seperti dirinya. Tetapi Kisya begitu berharap dan harapannya begitu banyak membuat dirinya seolah tak berdaya dengan semua yang terjadi. Datang bulan adalah hal yang alamiah. Tetapi saat ini menjadi momok menakutkan yang membuat hati Kisya kecewa.
"Sayang, aku gagal lagi, aku gagal mengandung bayimu, hiks hiks hiks." Kisya memegang perutnya dengan kelukaan yang menyayat. Seorang perempuan pastilah ingin mengandung keturunan suaminya. Dan itu yang di rasakan oleh Kisya. Walaupun sudah ada Baby Vano. Tetapi wanita itu berharap bisa mengandung darah dagingnya sendiri. Kisya terluka oleh itu semua.
Kisya masih melirih dengan tangis yang begitu pelan.
"Kisya, kamu tidak apa-apa kan?" Sekali lagi Papa mertuanya itu bertanya sambil mengetuk pintu. Kisya tahu Papanya itu begitu cemas mendengar dirinya nenangis. Wanita itu menghela nafas dan mengatur suaranya agar tidak terlalu bergetar.
"Tidak ada apapun Pa," ucap wanita itu sambil menyeka air matanya. Aura kekecewaan jelas tampak di wajah cantiknya. Matanya sayup dan sendu. Basah oleh bulir kepedihan. Dia kecewa karena belum bisa mengandung seorang bayi. Dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengandung seorang bayi yang dirasakan oleh Lintang dan perempuan lainya.
Kini dia gagal untuk mengandung. Dan dia malah datang bulan. Tubuhnya lemas karena kehilangan semangat. Tadinya kisya sangat ingin memberi hadiah kepada sang suami dengan sebuah alat test kehamilan dengan dua garis merah. Dan kini semua rencananya gagal total. Karena bukan alat test kehamilan yang bergaris merah tetapi malah darah merah yang keluar dari tubuhnya.
Kekecewaan itu muncul seketika dan seolah menusuk hatinya menghancurkan jantung dan juga melilit tubuhnya sehingga terasa amat sesak. Kisya mencoba menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Helaan nafas berat terdengar begitu keras. Dadanya seolah bergemuruh menahan kekecewaan pada tubuhnya sendiri. Datangnya bulan pada bulan itu membuat Kisya terluka dan kecewa.
Wanita itu lalu berjalan perlahan untuk keluar dari kamar mandi. Terlihat sang Papa mertua sudah berada di depan pintu sambil menggendong Baby Vano. Wajah Kisya masih menggambarkan kekecewaan. Dan bekas menangis tampak lebih jelas. Karena bahkan Kisya saat itu masih ingin menangis dengan pilu.
__ADS_1
"Ada apa nak?" Tanya Papa Geovandra pada sang menantu. Pria tua itu memperhatikan wajah sang menantu yang penuh kekecewaan dan sendu.
"Tidak ada apapun Pa, kisya hanya datang bulan saja!" Kisya terduduk di ranjang kesakitan Baby Vano. Baby Vano meronta ingin segera di peluk oleh sang Mommy. Kisya yang melihat itu dengan segera mengambil alih Baby Vano ke dalam pelukannya.
"Kamu menangis, tadi?" ucap Papa.
Kisya mengangguk dengan wajah sendu. Tiba-tiba Mama datang. Mama Murni tadi pergi untuk membeli makan siang untuk mereka.
"Ada apa ini? Ko hawanya kurang nyaman?" Mama Murni berkata sambil menata makanan di meja sofa agar mereka bisa makan bersama. Karena itu memang sudah jam makan siang.
"Kisya menangis tadi, Ma," ujar Papa.
"Loh ada apa, ko nangis?" Mama sedikit terkejut. Pasalnya Kisya adalah menantu kesayangan dan Mama Murni tidak mau menantunya itu merasaka kepedihan.
Papa terdiam dan Mama Murni lalu mendekati Kisya dan duduk di kursi di samping ranjang yang kisya duduki.
"Kikis, tidak apa-apa Ma, hanya saja." ucapan kisya terhenti dan tiba-tiba air matanya menetes.
"Ada apa?" Mama Murni terlihat begitu cemas.
"Kisya datang bulan, Ma." Kisya terlihat begitu sedih dan kecewa. Mama Murni melihat menantunya begitu terluka. Mama Murni langsung bisa menebak bahwa Kisya ingin segera mengandung seorang bayi.
"Sayang, bersabarlah nak, mungkin bulan depan, dia akan hadir!" Ucap Mama Murni dengan senyuman penuh kehangatan. Kisya mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Ada apa?" Papa masih tidak tahu dengan apa yang di bicarakan kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Papa, tidak mengerti perasaan perempuan," ucap Mama sambil menggelengkan kepalanya.
"Tentang apa?" sekali lagi Papa beritanya.
"Kisya datang bulan Pa, dia kecewa belum bisa mengandung!" ucap Mama Murni berdecak kesal karena Papa masih tidak mengerti dengan ucapanya tadi.
"Ya ampun," Papa terkejut.
"Mungkin bulan depan kita akan dapat cucu lagi, semoga saja ya sayang!" ucap Mama Murni dengan senyuman yang penuh rasa sayang. Dan Kisya hanya mengangguk. Mama murni kini bertatapan dengan sang suami. Mama murni merasa heran saja. Kenapa dulu Kisya bisa langsung hamil saat Jino menyentuhnya sekali saja.
Tetapi kini malah belum hamil ketika mereka sudah berusaha setiap hari. Mungkin pengaruh obat yang Kisya konsumsi? Sebuah pertanyaan sangat jalas menggelitik di pikiranya. Pasalnya dulu saja langsung mengandung dengan sangat cepat. Dan kini bahkan saat bayi itu sangat di harapkan, malah tidak kunjung juga datang.
Begitupula dengan Papa yang berfikir sama dengan pikiran sang istri. Mungkin saja ada yang salah dengan obat yang Kisya konsumsi. Sehingga bisa menghambat Kisya untuk bisa mengandung kembali. Hal itu harus segera papa dan mama tanyakan kepada sang Dokter. Karena itu membuat menantunya bersedih.
"Kisya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung Ma!" Lirih Kisya.
Mama dan Papa saling bertatapan kembali. Mereka masih ingat saat Kisya mencoba bunuh diri karena menolak kehadiran Baby Vano dalam rahimnya.
🌺🌺🌺
Bersambung
Sayang kalian engga lupa tekan jempolnya kan?
Nah ada rekomendasi loh novel punya teman, ini agak hot.. ayo buka dan baca juga.
__ADS_1