Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Perjalanan


__ADS_3

Wanita itu meringkuk di jok belakang mobil dalam keadaan tertidur lelap, karena pengaruh obat bius yang tadi di berikan oleh pria itu. Kisya tidak sadarkan diri. Pria itu membawa Kisya ke bandara. Sesampainya di parkiran bandara. Pria itu mengeluarkan kursi roda dan memindahkan tubuh mungil Kisya suapaya duduk kursi roda.


Lalu pria itu memberikan kerudung pada kepala Kista dan memasangkan sebuah kacamata hitam. Paha molek Kisya masih ter-umbar dengan jelas. Pria itu lalu menyelimuti bagian kaki Kisya dengan sebuah kain. Dengan santai pria itu lalu berjalan sambil medorong kursi roda milik Kisya. Saat di depan petugas pemeriksaan. Pria itu mengatakan bahwa Kisya dalam keadaan sakit dan mau berobat ke luar negri.


Akhirnya pria itu berhasil lolos dari pemeriksaan petugas bandara. Karena bahkan ketika pemeriksaan identitas pun dia berhasil lolos. Kisya kini sudah berada dalam sebuah pesawat. Dan dia masih belum sadarkan diri. Sungguh malang nasib Kisya. Baru saja dia ingin bertemu dengan sang suami tercinta. Malah ada seseorang yang sengaja menculiknya.


"Bos saya sudah melaksanakan semua tugas dari anda, kita sedang dalam perjalanan." Pria itu menelepon Kepada seseorang yang entah siapa itu. Dan pria itu langsung menutup teleponnya setelah berbicara dengan sang big boss.


🌺🌺🌺


Jino sendiri masih berada dalam sebuah pesawat. Sudah sedari pagi Jino bersiap. Akhirnya dia bisa naik ke dalam pesawat pada jam penerbangan pertama. Butuh waktu tiga belas sampai lima belas jam perjalanan ke tempat tujuan. Saat ini pria itu tidak henti menatap pantulan wajah cantik sang istri di layar ponselnya.


Jino sudah tidak sabar dengan semuanya ini. Dia ingin segera bertemu dengan Kisya sang kekasih hati, pujaan jiwa. Dia sengaja tidak menelepon Kisya karena ingin memberi kejutan kepadanya perihal kepulangannya. Apalagi Jino kini sudah mengantongi sebuah kalung berlian bermata hijau. Sebagai hadiah untuk sang istri tersayang.


Jino yakin Kisya pasti akan sangat suka dengan kejutan hadiah yang dia siapkan.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan dirimu sayangku, aku sudah tidak sabar ingin memeluk dan memanjangkan kamu Mommy." Jino berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya dengan wajah sumberingah dan penuh dengan senyum. Wajah Jino begitu segar. Sepanjang perjalanan memperlihatkan wajah gembira dan bahagia. Rasanya Jino sudah sangat tidak sabar dan ingin segera sampai.


Jino juga membawa oleh-oleh untuk Mama dan Papa. Serta Baby Vano , bayi kesayangannya. Jino membawakan mantel cantik untuk sang Mama. Dan membawakan sebuah jam tangan untuk Papa Geovandra. Jino sengaja menyuruh Nona Angel dan Nona Sani untuk membelikan beberapa oleh-oleh untuk orang di rumah. Tidak lupa sebuah mainan lucu Angel beli untuk bos kecilnya.


Ada beberapa mainan yang dia beli. Pastinya Baby Vano akan sangat suka dengan mainan yang Jino berikan nanti. Senyum dan tawa sang buah hati bahkan sudah tergambar dengan jelas di hadapan dirinya. Jino begitu merindukan putra kesayangannya itu. Baby Vano layaknya nyawa untuk dirinya. Karena kehadiran Baby Vano dalam hidupnya sungguh sangat berarti.


Hidup Jino terasa begitu lengkap dengan adanya Baby Vano dan Kisya. Mereka berdua layaknya dewa dan dewi penolong untuk Jino. Dan mengisi kehidupan Jino yang sepi dan kosong. Jino sendiri sekarang sudah tidak bisa lagi menyukai gadis lain selain Kisya. Karena Kisya sudah tertanam di dalam hatinya dan tidak bisa tergantikan.


Jino masih saja tersenyum manis nenatap layar ponselnya. Dia sangat tidak sabaran. Kini sudah setengah sari perjalanan. Tinggal menunggu enam jam lagi untuk Jino agar bisa bertemu dengan sang kekasih hatinya.


Sebuah hubungan LDR yang mereka jalani selama ini. Membuat tabungan rindu mereka memuncak. Dan hampir saja meledak. Bahkan baru kali ini mereka terpisah sampai selama itu. Kemaren Jino menerima panggilan dari Lintang.


Jino sudah lama tidak bercakap dengan sang mantan kekasihnya itu. Kali ini Lintang sengaja menelepon Jino agar Jino tidak menunda kehamilan dan membantu Kisya untuk berobat untuk melakukan sebuah program hamil. Karena Kisya sangat menantikan sebuah bayi perempuan bisa tumbuh di dalam perutnya.


Jino baru menyadari bahwa Kisya sangat ingin memiliki bayi sendiri. Bayi yang dia kandung dan dia lahirkan sendiri. Mendengar itu semua tiba-tiba senyum Jino hilang seketika. Wajah sedih kini telah mendominasi dirinya. Jino teringat pada Baby Vano. Keinginan Kisya untuk mengandung bayinya sendiri begitu kuat. Karena dia tidak tahu asal usul Baby Vano.

__ADS_1


Baby Vano yang saat tumbuh dalam rahim sang Mommy bahkan tidak Kisya inginkan dan saking tidak maunya Kisya mengandung Baby Vano, Kisya bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Baby Vano dari awal memang bayi yang tidak Kisya harapkan. Tetapi Tuhan berkata lain. Kisya akhirnya bisa menyayangi Baby Vano. Sayangnya hanya sayang sebagai ibu tiri saja. Buktinya Kisya malah ingin mengandung dan merasakan sebuah kehamilan.


Padahal Jino berfikir Baby Vano masih sangat kecil untuk menjadi Seorang kakak. Ini semua memang tidak bisa dia ubah dan semuanya di luar kendali Jino. Jino tidak bisa mengngkapkan identitas sang putra pada Mommy-nya. Tetapi kini Jino hanya bisa pasrah saja menuruti keinginan Kisya untuk bisa memiliki bayi lain.


"Baby, maafkan Daddy. Seharusnya memang Mommy kamu, tidak merencanakan memberimu seorang adik di usia kamu sekecil ini!" ucap Jino dalam hati nya. Jino tersenyum saat dia memutar vidio sang buah hati sedang belajar berenang. Jino yakin suatu saat Baby Vano akan sangat pandai berenang seperti dirinya.


Waktu berjalan begitu cepas. Kini sisa setengah jam lagi akhirnya Jino bisa mendarat. Dia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan kekasih hatinya. Dia membayangkan sebuah rasa hangat penuh cinta saat bertemu dengan sang kekasih hati. Tiba-tiba saja ada telepon masuk. Itu adalah telepon dari sang Mama. Mama Murni mengatakan bahwa Kisya menghilang.


"Apa Ma?"


"Kisya menghilang nak, sudah sampai sore begini dia masih belum pulang, dan bahkan dia tidak bisa di hubungi!" Mama Murni berkata dengan kecemasan yang teramat sangat. Pasalnya Mama tahu bahwa Jino akan segera pulang. Dia pasti terkejut pada saat sampai di rumah istrinya malah tidak ada.


Jino sesaat terdiam membisu, entah apa yang harus dia katakan kepada sang Mama. Saat ini Mama Murni masih terisak dengan tangisan pilu.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2