
"kak jangan manja begini, ayo buatkan Dede susu."
Ucap Kisya sambil menenangkan baby Vano. Baby Vano sudah berhenti menangis dan tersenyum melihat kisya. Bayi itu bahkan tau bahwa mommy adalah Kisya. Ikatan mereka sangat kuat. Bahkan ketika Kisya menangis, baby Vano juga ikut menangis pula.
Jino melepaskan pelukanya. Dan segera membuatkan susu untuk baby Vano. Setelah selesai membuatkan susu lalu memberikan botol susu itu pada Kisya. Kisya kini sudah duduk di sofa sambil memberi baby Vano susu botol. Jino tersenyum manis melihat Kisya memberi susu pada bayi kesayanganya.
"Bahkan Dede langsung terdiam ketika di gendong oleh mommy."
Ucap Jino Dengan senyumanya.
Kisya terkejut mendengarkan ucapan Jino.
"Apa, mommy?..
Kisya merasa sangat terkejut.
"Ah ,iya.. malam ini kamu adalah mommy nya kan, kalo sayang sama Daddy nya berarti harus sayang sama anaknya." Ucap Jino sedikit terbata karena ucapannya yang tanpa sengaja tadi dia lontarkan.
Jino merasa terkejut mengapa dia bisa keceplosan. Untungnya Kisya percaya dengan jawabannya. Jino sedikit tenang. Rasa cemas kini menghantuinya. Apa yang akan terjadi ketika Kisya tau bahwa dirinya adalah pria brengsek yang telah menganjurkan hidupnya. Akankah Kisya masih mencintainya , apa yang akan terjadi pada baby Vano , akankan Kisya masih menyayangi baby Vano, atau bahkan akan membenci bayi tak berdosa itu. Raut cemas tersirat di wajah Jino.
Nafasnya seolah tersenggal. Pikiranya berubah menjadi sangat kacau. Hatinya merasa sangat ketakutan. Apalagi kini mereka sedang menikmati madu asmara yang tersirat begitu indah namun sangat menusuk. Banyak sekali ketakutan dalam hati Jino. Jino menelan Saliva dengan sangat susah.
Kisya masih asik menyusukan baby Vano dengan penuh cinta.
"Sayang , minum nya lahap sekali, Dede memang pinter ya."
Ucap Kisya dengan inten menatap bayi yang sedang asik meminum susu botolnya.
"Harusnya Dede minum susu ibu."
Ucap Jino pelan.
Kisya menatap Jino dengan sedih. Lalu Kisya bersandar di bahu Jino sambil menatap lembut bayi kecil itu.
" Andai dia itu adalah anaku, aku akan sangat bahagia menyusuinya."
Ucap Kisya dengan lembut.
"Kamu akan menyusuinya sekarang?..
__ADS_1
Ucap Jino pelan.
"Hah, kakak aneh sekali ,aku mana punya Asi."
Ucap Kisya terkekeh.
Air susu Kisya telah kering dan habis. Ketika usia baby Vano sebulan. Karena tidak di susulan maka otomatis air susunya mengering. Kisya hanya gadis polos yang menangis ketika dulu payudaranya sakit karena air susunya berhenti.
"Sayang."
Ucap Jino pelan.
"Hmm."
"Sayang."
"Iya."
"Sayang."
"Iya kakak, sayang, ada apa?..
"Kamu miliku malam ini."
Ucap tersenyum manis sambil menatap betapa indahnya wajah wanita yang kini ada disampingnya. Kisya mambalas senyuman jino dengan Rina merah pada pipinya. Lalu bersandar kembali di bahu Jino.
"Kita seperti keluarga, ada ayah ibu dan anak, mimpi ini begitu indah kak."ucap Kisya pelan sambil terus memberi susu pada bayi yang kini sudah mulai terlelap lagi. Senyuman manis Jino hilang seketika saat Kisya mengucapkan kata mimpi. Raut sedih jelas tergambar di wajah tanpan-nya. Biru matanya kini berkaca. Helaan nafas berat dia lontarkan.
"Semua ini hanya mimpi."
Ucap Jino dengan suara yang berat.
"Ia semua ini adalah mimpi yang sangat indah kak, tetapi ketika besok kita terbangun, kita harus melupakan mimpi ini."
Ucap Kisya dengan suara yang lembut. Namun seolah sangat menusuk di hati pria yang berusia 23 tahun itu.
Hatinya begitu perih karena tusukan yang seolah bertubi tubi menusuknya hingga ke dasar hatinya. Sakit, jelas saja terasa amat sakit. Cintanya hanya sebuah bayang semu yang tak bisa menjadi nyata. Jino menutup matanya. Menahan rasa perih yang dia rasa. Tangannya memeluk erat sang kekasih hati . Seolah tak mau melepas kembali. Wanita itu dengan nyaman menerima pelukan dari pria yang kini telah memiliki hatinya sepenuhnya.
"Bisakah aku hidup tanpamu, tanpa kalian berdua?... Ucap Jino dengan suara yang sangat berat karena harus menahan tangisnya. Dia mencoba sekuat tenaga agar bisa kuat.
__ADS_1
Kisya meneteskan air matanya tak berdaya menjawab semua pertanyaan dari kakak iparnya. Iya, dia adalah calon kakak iparnya, begitulah yang Kisya tau.
Pernikahanya bersama Jeff tak pernah dia ketahui. Yang dia tau kini dia akan segera menikah dengan Jeff sang kekasih yang sudah tak lagi menjadi pujaan hatinya.
"Entahlah." Kisya menghela nafas berat dan mulai terisak kembali. Dia tak sanggup untuk mengingat kenyataan bahwa dirinya akan segera menikah dengan Jeffan. Sedang kini yang dia cintai adalah Jino. Seorang duda beranak satu, setidaknya itu yang Kisya tau selama ini.
Jino melepaskan pelukan eratnya. Memberikan Kisya waktu untuk bergerak dan membiarkan kisya menidurkan buah hati mereka di box bayi. Kisya bangkit dan menidurkan baby vano yang kini sudah terlelap. Kisya kembali duduk di samping Jino lalu kembali bersandar di bahu Jino yang kekar.
Jino memeluk Kisya dari samping .
"Duduklah di pangkuanku!..
Ucap Jino dengan pelan. Kisya menurut. Kisya beranjak dan kini sudah duduk di pangkuan sang kekasih. Kisya dengan inten menatap wajah tampan Jino yang sangat mirip dengan baby Vano.
Jino mengelus rambut Kisya dengan lembut lalu mengecup kening kisya.
Lalu setelah itu beralih mengecup hidung Kisya. Dan beralih mengecup pipi kiri dan pipi kanan Kisya. Kisya hanya menurut saja dengan semua sikap Jino yang posesif itu. Kini mata mereka saling bertemu. Ada bayangan penuh cinta tergambar jelas di dua pasang manik mata yang indah itu.
Mereka hanya saling memandang. Menikmati wajah indah keduanya. Helaan nafas terdengar sangat pelan. Mereka tak mau beranjak dan hanya saling memandang.
"Kenapa kamu begitu cantik?..
Ucap Jino pelan. Dan Kisya hanya tersenyum dengan manis.
"Kamu adalah miliku."
Ucap Jino tak henti menatap indahnya wajah wanita yang ada di hadapannya. Kisya mengangguk dengan memberikan sebuah senyuman kecil pada pria yang kini sedang dimabuk cinta itu.
Jino memalingkan wajahnya dan melihat ke arah jarum jam. Waktu menunjukan pukul 4 pagi hari.
Wajah Jino berubah menjadi sangat suram, dua jam lagi mimpi indah itu akan segera hilang. Wajah gusar terlihat jelas membuat Jino tak henti menelan Saliva.
"Sebentar lagi mimpi indah ini akan segera berakhir."
Ucap Jino dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung❤️
__ADS_1