Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Maaf


__ADS_3

Mama Murni terkejut melihat menantunya sudah berada di ruangan itu. Pasalnya sedari tadi Mama Murni berbicara dengan Jino. Mama sudah bisa menebak bahwa Kisya memang sudah mendengar semuanya dengan jelas. Semua percakapan dia dengan Jino.


"Mama, apa semua itu benar?" Kisya menitikan air matanya. Pasalnya sebagai seorang istri dia begitu sedih sang suami ternyata dalam bahaya berada di luar negri sana. Pantas saja Jino selalu melarang Kisya untuk ikut ke Amsterdam. Ternyata kondisinya seperti itu.


"Sa, sayang.. Kis." Mama Murni gagap tak bisa berkelit lagi.


"Apa semua itu benar Ma, apa kak Jino disana dalam bahaya, terus bagaimana kondisinya sekarang, bagian mana yang tertembak, Ma tolong beritahu Kikis semua itu Ma!" Kisya mulai menangis dengan nyaring. Dia sudah tidak bisa menahan rasa sedih dan kecewanya. Kini dia hanya bisa menangis saja.


"Kis, itu!" Mama Murni tak bisa berkata-kata. Dia merasa bingung harus berkata apa. Dia sudah terlanjur terciduk.


"Mama, tolong katakan semuanya kepada Kikis, Kisya mohon Ma!" Kisya sudah menangis dengan tersedu. Air matanya membanjir tak bisa di bendung lagi. Hatinya terasa begiu sakit mendengar semua kenyataan ini. Istri mana yang tidak terkejut jika mendengar ternyata sang suami yang selama ini dia rindukan, dalam bahaya bahkan sudah tertembak. Kisya terduduk di lantai dengan tangisannya.


Mama Murni mendekati sang menantu dan membangunkan Kisya agar duduk di kursi. Dan kini Kisya sudah duduk di kursi sofa di ruang keluarga. Mama Murni Menggenggam erat tangan sang menantu yang kini sedang di landa duka nestapa. Mama Murni merasa bersalah karena dia , Kisya sampai tahu kenyataan yang terjadi kepada Jino.


Kisya masih mengisak. Tangisannya begitu memilukan. Hatinya masih merasakan sesak dan seolah tak bisa bernafas.


"Kenapa kalian harus berbohong selama ini, tidakkah Mama tahu, Kisya adalah istri Jino anak Mama, Kisya adalah orang pertama yang harusnya tahu tentang semua kondisi suami Kisya!" Kisya menangis dengan tersedu. Sesekali dia menyeka air mata dengan tanganya. Luka hatinya terasa amat perih. Tak bisa lagi kosya sembunyikan begitu saja.


"Maafkan Mama nak, Mama dan Papa tidak bermaksud seperti itu, Mama hanya tidak mau melihat kamu bersedih seperti ini, maafkan Mama sayang!" Mama Murni memeluk sang menantu dengan sangat erat. Dia sungguh tidak tega melihat air mata yang menetes di pipi Kisya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi suamiku Ma, apa dia baik-baik saja!" Kisya masih terisak dalam tangis yang sendu.


"Sekarang dia baik-baik saja, kemarin dia sempat tertembak di daerah lengan, lalu Dokter melakukan operasi dan sekarang Jino sudah sehat nak, jangan menangis lagi sayang!" Kisya begitu pedih mendengar ucapan dari Mama mertuanya. Hatinya semakin sakit mendengar lengan suaminya terluka.


"Mama, kalian sengaja berbohong sama Kikis?"


"Iya sayang, maafkan kami nak, ini demi kebaikanmu juga!" ucap Mama Murni dengan pelukan hangatnya.


Kini Kisya menyadari bahwa dirinya begitu lemah di mata keluarganya. Sehingga keluarga membuat sebuah benteng rahasia untuk dirinya. Kisya tersadar bahwa dirinya serapuh itu di mata keluarga. Dia merutuki dirinya yang terlalu lemah. Dia harus berubah agar bisa lebih kuat sehingga tidak lagi menjadi beban untuk keluarga.


"Putriku sayang, karena kamu begitu merindukan sang suami, kamu sampai tidak fokus menjaga buah hatimu, bagaimana kalau sampai kamu tahu, masalah apa sedang Jino hadapi di sana, itu pasti akan menggangu pikiranmu sayang, sekarang Mama mohon tenanglah. Semuanya baik-baik saja. Semuanya sudah selesai. Suamimu Jino sudah sehat dan dia baik-baik saja. Sekarang kamu hanya harus berdoa supaya semua berjalan dengan lancar sesuai rencana awal, sehingga Jino dan tim bisa cepat kembali ke Indonesia!" Tutur Mama Murni sambil menggenggam lembut jemari sang menantu yang kini masih terdiam membisu.


"Tangan kak Jino pasti sakit Ma, dia disana kesakitan dan aku disini malah membuat anak bayinya hampir tenggelam, Kikis memang tidak berguna Ma, Kikis tidak bisa menjadi istri dan ibu yang bisa di andalkan!" Kisya berkata dengan mulut yang bergetar menahan seluruh tangisnya.


"Tidak sayang, itu hanya sebuah kecelakaan, bukan kesengajaan, jangan menyalahkan diri sendiri, berfikirlah lebih dewasa!" ucap sang Mama dengan senyuman manisnya. Kisya sendiri masih merasakan sesak dalam hatinya. Dia masih merasa bersalah akan itu semua. Tetapi ucapan mama sangat benar. Dia harus bisa berfikir lebih dewasa. Kisya menghela nafas beratnya.


"Iya Ma, terimakasih atas sarannya, Kisya akan berusaha bersikap lebih dewasa," Kisya memeluk sang Mama dengan sangat erat dan malam menangis kembali.


Sang Mama mertua terkekeh melihat tingkah menantunya."Katanya mau bersikap dewasa, malah menangis lagi?"

__ADS_1


"Maaf Ma!" Kisya mengentikan tangisnya. Dia menyeka air matanya. Dan tersenyum tipis menertawakan sikapnya sendiri.


"Ayo cuci muka dulu dan kita masak buat makan malam!" ucap Mama dengan lembut dan Kisya mengangguk. Setelah Kisya mencuci muka. Kisya tersenyum manis melihat Baby Vano yang masih tertidur dengan lelap. Terobati sudah duka nestapanya ketika melihat wajah tenang sang buah hati. Dimana wajah buah hati mereka bagai pinang di belah dua. Mereka sangat mirif.


"Sayang, wajahmu begiu tenang ketika tertidur, Mommy tahu kamu merindukan Daddy sama besarnya seperti Mommy yang merindukan Daddy. Sayangku, ternyata disana Daddy sedang berjuang untuk mempertahankan perusahaan kita nak, Mommy di sini malah merajuk dan membuat dia cemas. Baby Vano anak Mommy, kamu selalu sehat ya nak, kita tunggu sampai Daddy pulang ke rumah!" ucap Kikis sambil menatap lembut sang buah hati tercinta.


Baby Vano masih tertidur dengan lelap. Bayi itu kelelahan setelah bermain. Kisya lalu turun ke lantai bawah untuk membantu Mama Murni memasak.


🌺🌺🌺


"Rose, kamu sibuk sekali sampai tidak menjawab pesan om?" tanya Papa Geovandra di telepon. Papa Geovandra berbicara dengan Rosaline.


"Om, maafkan Rose, Rose sangat sibuk, Rose sudah baca semua pesan singkat om, dan kak Jino," ucap seorang gadis cantik bermata biru dengan rambut pirang dan tubuh yang begitu seksi dan sempurna. Gadis itu berusia sekitaran 21 tahun, dan tidak beda jauh usianya dengan Kisya dan Lintang.


"Jadi keputusanmu bagaimana?" tanya Papa Geovandra.


"Rose akan ikut semua rencana om dan kak Jino, tapi Rose belum bisa pulang, Rose masih takut bertemu dengan dia!" ucap gadis itu dengan suara sendu. Papa Geovandra menganguk dan terlihat mengerti dengan apa yang Rosaline ucapkan.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2