Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Siang yang terik


__ADS_3

"Aku adalah suamimu, aku akan berusaha menjagamu dan menyembuhkan lupa hatimu, walau belum ada perasaan cintamu untuku, tetapi aku ingin memberimu sebuah surga dunia, yang tidak bisa kamu dapatkan dari orang lain, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anaku, dan kita hidup bahagia saling mencintai." Boy menatap Lintang dengan lembut.


Lintang hanya bisa terdiam membalas tatapan sang suami.


"Jadi ibu dari anak-anakmu?" Lintang mengulangi salah satu perkataan sang suami. Boy tersenyum manis dan membelai lembut kening sang istri.


"Iya, bukan karena keluarga kita butuh keturunan, untuk hak waris, tetapi lebih karena aku ingin kamu melahirkan banyak bayi-bayi cantik dan tampan memenuhi rumah kita, tangis dan tawa mereka yang mirip dengan salah satu dari kita, bukankah itu akan terasa sangat indah?" Boy membayangkan suasana rumah yang ramai penuh dengan anak-anaknya. Dia benar-benar menginginkan sebuah keluarga yang lengkap.


"Kamu ingin aku melahirkan anak-anak? Ucap Lintang tersenyum dengan wajah yang memerah. Boy lalu membenamkan wajahnya di leher Lintang dan memeluk tubuh Lintang yang polos.


"Hmmm..." Boy menjawab.


"Aku mau menjadi seorang ibu."


Lintang berkata pelan. Boy beranjak dan menatap wajah Lintang dengan senyuman.


"Mau anak perempuan atau anak laki?" Boy tersenyum senang. Respon Lintang bagus ketika mereka membahas seorang anak. Pasangan mana yang tidak mau memiliki seorang anak. Termasuk mereka berdua memang membahas soal anak dan itu sebuah pembahasan yang menarik. Lintang mulai membuka bahasan soal anak yang tadinya bahkan Lintang tidak pernah memikirkan hal itu.


Bicara soal anak. Berarti ada yang harus mereka lakukan untuk membuat seorang anak. Bahkan mereka belum melakukan hal itu. Lintang yang selalu menolak ketika Boy meminta haknya sebagai suami. Beberapa kali Boy meminta namun selalu dapat penolakan dari Lintang. Lintang yang masih belum bisa membuka diri untuk Boy dan masih menyimpan Jino dalam hatinya.

__ADS_1


Selama lima tahun kebelakang, Jino yang selalu memberika sensasi fisik untuk Lintang. Dan ketika ada pria lain yang melakukan itu padanya. Jelas saja itu membuat hal yang tidak nyaman dalam hatinya. Walau Boy adalah suaminya yang sah. Akan tetapi Lintang belum bisa menerima sang suami dengan sepenuh hati.


Ini pun untuk pertama kalinya Lintang seperti ini. Tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Boy memberikan selimut pada sang istri. Suhu ruanganpun dia kecilkan sehingga tidak terlalu panas. Di luar udara sangat panas. Siang itu begitu terik. Tapi Lintang masih dengan selimutnya dan dalam pelukan sang suami.


"Aku mau kamu melahirkan mereka, mahluk kecil yang memanggilku dengan sebutan Papi." Boy menatap Lintang dengan mata yang redup berwarna biru. Lintang mengangguk dan memeluk Boy dengan erat. Boy seketika melepaskan pelukan sang istri. Dia menatap Lintang lalu mengecup keningnya. Kecupan itu kini pindah ke pipi, dan pindah lagi ke bibir Lintang yang ranum berwarna merah muda.


Boy menatap sang istri Dengan tatapan penuh kabut. Cintanya sudah memuncak. Dia ingin segera meraih indahnya sebuah ikatan suci.


"Kamu adalah wanitaku, kamu adalah istriku, lupakanlah dia dan hiduplah bahagia denganku!" Boy berkata dengan suara seraknya. Lintang menelan saliva. Sesaat terdiam tanpa jawaban. Seolah Lintang masih kebingungan untuk menjawab perkataan dari sang suami. Bagaimana ini bahkan Boy sudah menunggunya untuk mendengar sebuah jawaban yang pasti dari sang istri.


"Boy." Lintang terdiam kembali sambil menatap sang suami. Boy menatap Lintang seolah tak berkedip. Ada sebuah harapan yang ingin dia dengarkan dari ucapan istrinya.


"Iya, aku berjanji sayang!"


"Jangan pernah pergi apapun yang terjadi!" Lintang mulai menitikan air matanya. Lintang takut dia jatuh cinta kembali pada seorang laki-laki . Takut setelah jatuh cinta dia akan kecewa lagi seperti kecewa pada Jino. Karena itu butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hatinya karena kecewa pada Jino.


"Jangan menangis lagi, aku tidak akan pergi kemanapun!"


"Boy, bantu aku untuk melupakan dia,  hatiku sudah sangat sakit jika terus begini, aku ingin segera melupakan dirinya!" Tatapan Lintang begitu sayup. Boy sunggug tak tega melihatnya. Boy lalu mengecup kelopak mata Lintang sebelah kanan dan berpindah mengecup kelopak mata sebelah kiri. Lintang memejamkan matanya merasakan begitu lembut Boy memperlakukannya.

__ADS_1


"Jadilah milikku sekarang dan selamanya!" Ucap Boy dengan suara yang bergetar menahan aura dalam jiwa lelakinya. Lintang menatap mata yang bersinar itu. Lalu Lintang mengangguk. Senyum manis terlihat di bibir Lintang. Tanpa menunggu waktu Boy langsung mengecup bibir manis itu. Lalu tanpa mereka sadari mereka sudah berkeringat di dalam sebuah selimut yang tebal.


Desahan dengan nada penuh aura cinta mulai terdengar merdu dan membuat kedua manusia itu hanyut dalam panas sebuah cinta yang menggebu. Lintang akhirnya menyerahkan diri dengan suka rela kepada sang suami tanpa harus ada paksaan sedikitpun. Siang itu begitu terik. Matahari bersinar tepat di tengah kota. Suhu ruangan yang rendah bahkan tidak membuat keringat mereka berhenti mengalir.


Sebuah isakan tangis sedikit manja mulai terdengar. Wajar saja Ini adalah hal yang pertama untuk gadis itu. Dan itu sedikit menyakitkan. Siang itu adalah saksi dimana mereka bersatu dalam sebuah ikatan rumah tangga yang penuh dengan aroma romantis. Dan itu adalah kemenangan sang suami karena bisa mendapatkan haknya.


Aroma romantis tercium begitu manis. Isakan tangis sudah tak terdengar lagi. Hanya deru nafas yang menggebu masih mengiringi setiap detik jarum jam. Sampai akhirnya salah satu dari mereka merasakan sensasi kemenangan. Mereka selesaikan sesi itu dengan waktu yang lumayan lama.


Kini mereka harus mengatur nafas yang mulai lelah. Boy yang terkulai lemah hanya bisa memejamkan matanya. Lintang pun masih menjamkan Mata. Boy lalu mengecup kening Lintang seraya berkata.


"Terimakasih sayang!" Dan Lintang hanya mengangguk.


Lalu beralih menatap perut sang istri. Di kecupnya perut itu dengan penuh kelembutan.


"Kamu harus cepat tumbuh, Papi titip dulu di rahim Mami ya calon anakku!" Boy mengelus lembut perut rata itu. Dengan penuh harap semoga Lintang cepat mengandung buah hati mereka. Pernikahan Jino dan dan Kisya sungguh membawa keberuntungan untuk Boy. Karena dihari pernikahan itu akhirnya Lintang menyerah dengan rasa sakitnya dan menerima Boy sebagai suaminya. Itu membuat Boy sangat bahagia. Malam pertama yang Boy harapkan terjadi di jepang. Tertunda sampai beberapa bulan. Tetapi kini Boy serasa menjadi pria yang paling beruntung karena sudah mendapatkan haknya sebagai suami. Dia berharap Lintang segera melupakan rasa pedih dalam hatinya dan segera menumbuhkan bibit cinta untuknya.


🌺🌺🌺


Bersambung duluu ya ya ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2