Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Bisikan halus.


__ADS_3

Deg.


Kisya merasa tubuhnya melemah dan jantungnya terasa mau meledak. Ketika tanpa dia sadari seseorang telah memeluk tubuhnya. Ditambah dengan bisikan halus  di telinganya membuat bulu Roma nya berdiri.


"Ah."


Ucap Kisya pelan sambil menutup matanya. Mencoba untuk menstabilkan nafas dan degupan jantungnya. Jino yang masih memeluknya dengan erat membuat Kisya semakin terasa mau meledak.


"Mau kemana?...


Ucap Jino masih dengan bisikan seraknya. Sesaat lalu Jino mengecup telinga Kisya dengan penuh kelembutan, membuat Kisya hanya bisa memejamkan mata menahan semua aura yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Aku,


Ucapan Kisya terhenti. Seolah Kisya tak bisa lagi untuk berkata karena nafasnya tersenggal. Jino masih dalam posisi posesif-nya. Masih bermain dengan telinga Kisya yang notabene daerah sensitif Kisya. Kisya menelan Saliva dengan sangat berat. Sedang Jino masih asik dengan pelukan eratnya.


"Hmm...?


Gumam Jino.


"Kak."


Kisya menarik nafas sangat panjang , mengeluarkan satu patah kata pun membuatnya sangat sulit.


Jino tak menjawab ucapan Kisya. Jino memejamkan matanya merasakan degupan jantungnya yang seolah naik bersama dengan panas darahnya. Dengan sangat sulit Jino menahan seluruh hasratnya. Sebenernya Jino ingin sekali menggendong kisya lalu menidurkan dia di atas kasurnya dan tentunya melanjutkan bercumbu dengannya. Tetapi jino tidak sepeti itu lagi. Dengan seluruh kekuatanya Jino menahan nafsu yang kini telah mencekik tenggorokannya dan mengepung seluruh tubuhnya.


Bagaimana tidak, suasana sangat mendukung , udara malam hari yang begitu dingin. Dan Kisya yang hanya mengenakan baju tipis dengan paha yang ter-umbar jelas. Membuat nafsu seorang laki-laki pasti naik. Tetapi dengan segala kewarasannya kini Jino bersusah payah menolak untuk menyakiti Kisya kembali. Kini dalam hati Jino hanya ada rasa ingin melindungi Kisya dari segala bentuk marabahaya yang mengancamnya . Termasuk dirinya sendiri.


Jino sadar betul bahaya terbesar adalah dirinya sendiri. Jino dengan sekuat hati meyakinkan dirinya agar tidak melahap Kisya untuk kesekian kali. Sifat binatangnya kini sudah tak ada lagi. Dia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan mengontrol emosinya yang sangat sulit dia lakukan.


Cekrek.


Kisya mengunci pintu kamar itu. Membuat Jino terkejut dan membuka matanya. Lalu Kisya berbalik menghadap ke badan Jino. Kisya menatap Jino dengan manis matanya yang indah. Sedang Jino masih dengan tatapan biru dan menggebu. Jino menatap seluruh wajah Kisya yang dia lihat begitu sempurna. Keindahan mata Kisya mampu membuat Jino melemah . Tanganya lalu mengelus rambut hitam yang selembut sutra itu.


"Cup .


Jino mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut. Dan Kisya hanya bisa memejamkan mata saja. Kisya seolah tak bisa menolak pelukan dan kecupan pria yang kini Masi menatapnya inten. Degupan jantung Kisya yang tak beraturan mungkin bisa Jino rasakan. Karena eratnya Jino memeluk bahkan dada mereka bersentuhan.


Jino menarik nafas beratnya.


"Ini salahmu karena tidak mendengarkan ucapanku!... Aku tidak bisa menahan diri untuk memelukmu ketika kita hanya berdua, aku ingin mengecupku , memelukmu dan bercumbu denganmu."

__ADS_1


Ucap Jino menatap Kisya dengan mata mulai berkabut .


Kisya yang melemah mendengar ucapan Jino kini hanya bisa menatap mata elang yang membuatnya terkesima. Baru kali ini dia merasakan sebuah perasaan aneh dalam dirinya. Tubuhnya yang melemah dan hanya bisa menurut pada pria itu.


Kedua pasang bola mata itu saling memandang. Mereka bertemu dalam warna cinta yang menggebu. Semilir angin malam membuat tubuh mereka menjadi sangat dingin.


"Sepertinya aku ."


Ucapan Jino terhenti, Jino menelan Saliva dengan sangat berat. Dan Kisya masih terus menatap Jino dengan tatapan redupnya .


"Pergilah menjauh dariku sejauh nungkin!..


Ucap Jino dengan suara seraknya.


Ucapanya bertolak belakang dengan tubuhnya . Jino berkata supaya Kisya menjauh darinya sejauh mungkin. Tetapi tubuh kekarnya tidak melepaskan tubuh gadis itu.


Kisya tersenyum dan kini Kisya membalas pelukan jino. Jino tertegun melihat reaksi Kisya yang membalas pelukanya. Kisya membenamkan wajahnya pada dada bidang Jino yang kekar. Seolah Kisya sedang mendengarkan degupan jantung pria yang tampan itu.


"Aku tidak akan pergi malam ini."


Ucap Kisya dengan suara yang halus .


Jino seolah menjadi bodoh mendengar ucapan Kisya.


Kisya mengeratkan pelukan Jino.


"Berada dalam pelukan kakak kenapa terasa nyaman ?..


Ucap Kisya Masi dalam posisi semula.


Jantung Jino semakin berdebar tak karuan ketika mendengar ucapan halus dari gadis yang kini telah menguasai hatinya. Pikiran nakal dan jahat Jino Sudan membungkus otaknya. Jino ingin sekali membuat Kisya tak berdaya dan merasakan Auranya yang menggebu. Tapi beruntunglah kali ini Jino sudah berubah total. Jino bisa menepis semua keinginan jahatnya.


Karena perasaan Jino kepada Kisya kini berubah menjadi rasa cinta yang hangat.


"I love you so much."


Ucap Jino sangat pelan. Dan bahkan Kisya pun mungkin tidak mendengarjan dengan jelas.


"Hmm... Apa?


Ucap Kisya sambil menatap mata Jino yang seolah berubah warna menjadi lebih biru. Jino menggeleng dan tersenyum dengan manisnya.

__ADS_1


Kisya masih ingin mendengar ucapan tadi. Tetapi jino malah menggeleng.


"Aku tidak bisa mendengar dengan jelas!..


Ucapnya dengan penuh tanda tanya.


Jino lagi-lagi hanya tersenyum.


"Tidak perlu di dengarkan tetapi cukup kamu rasakan saja!..


Ucap Jino sambil menorehkan sebuah senyuman manisnya. Membuat Kisya tak berdaya melihat senyuman pria yang terlihat begitu tampan. Tanpa aba-aba Jino langsung menggendong tubuh mungil gadis itu.


"Ah."


Kisya agak terkejut. Dan Jino tersenyum.


Jino membawa Kisya dalam gendonganya dan merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur di samping buah hati mereka.


Kisya tersenyum dengan manisnya membuat Jino semakin mabuk.


"Jangan tersenyum seperti itu, membuat aku ingin meneguk manis madu di bibirmu." Ucap Jino .


Dan Kisya malah tersenyum lagi. Membuat Jino semakin frustasi.


Kisya malah tersenyum dengan lebar. Menertawakan ucapan Jino. Membuat Jino mengerutkan dahi-nya dan menghela nafas kasar.


"Aku bukan beruang madu, mana mungkin di bibirku ada madu?..


Kisya Masi dengan senyuman yang mekar seindah bunga.


Jino semakin frustasi melihat begitu cantik gadis yang ada di sampingnya.


"Jangan tersenyum lagi , aku bisa gila...! Ucap Jino menarik tubuh mungil itu mendekapnya dalam peluknya lalu membenamkan wajahnya di dada Kisya. Posisi sembunyi yang nyaman . Entah kenapa Kisya hanya membiarkan Jino  bertingkah posesif seperti itu. Kisya mengelus rambut Jino dengan perlahan. Lalu mencoba memejamkan matanya. Rasa kantuk kini sudah menyerang dirinya. Sedang Jino masih bertarung dengan hawa nafsunya.


Bersambung.


Catatan kecil author ❤️


Hai.. readers tersayang, apakah sudah tekan love ,jempol dan bintang?..


Dan lagi mohon maap aku belum bisa kasih visual Jeff, karena masih bingung.

__ADS_1


__ADS_2