
Hati yang bergemuruh itu menjadikan batin Jino seolah ingin menjadi egois. Menatap pilu sang buah hati dan menatap wanita yang kini tengah dia peluk dalam pangkuannya. Membuat dia seraya ingin berbuat jahat dengan membawa seluruh isi hatinya menjauh dari mereka yang tertawa di atas luka hatinya.
Jino
Aku menggendongnya. Dia yang tengah lemah dengan kekalutan hatinya. Aku yang selalu berusaha menjadi kuat karenaya. Kini aku tak berdaya karena cinta seolah menusuk hati kita berdua. Sekali lagi ku tatap mereka yang sedang tertawa di atas luka hati kami. Mereka yang tak tau betapa kami menderita karena ego mereka. Sungguh ini tak adil untuku dan Kisya. Apalagi untuk anak kami.
Seorang bayi yang bahkan tidak memiliki dosa sedikitpun. Aku tau aku dipenuhi oleh lumpur dosa. Berdosa karena telah membuat wanita ini menjadi terpuruk dan menderita. Berdosa karena membuat dia menjadi enggan hidup dan seolah mati tak menyisakan sebuah harapan sedikitpun. tetapi ternyata Tuhan telah memberikan kami waktu untuk bisa bersama.
Tuhan telah mempertemukan kami dalam sebuah rasa cinta. Mungkinkah ini sebuah hukuman untuku atas semua kebidabanku? Jika itu benar, tolong ampuni aku Tuhan. Aku ingin bertobat dan ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatanku pada wanita ini. Wanita yang telah aku nodai. Wanita yang hampir mati karenaku. Aku ingin membalas semua rasa sakitnya seumur hidupnya dengan rasa cinta yang aku punya.
Aku salah, aku penjahat, aku biadab dan binatang. Dan aku ingin bertanggung jawab untuk semuanya. Untuk semua tetesan air mata yang menetes karenaku. Akan ku balas dengan membuatnya tersenyum seumur hidupnya. Aku telah mengecup manisnya cinta bersamanya. Aku tau diapun mencintaiku. Aku tau kami saling mencintai. Perasaan kami tulus dan bukan sebuah kebohongan.
Tapi mungkin cinta kami itu adalah sebuah cinta terlarang. Karena kenyataanya Kisya sudah menjadi istrinya. Tapi bagiku ini bukanlah sebuah cinta terlarang. Tetapi sebuah perasaan tulus yang kami miliki . Aku kini berada dalam kekalutan yang mendalam. Aku ingin mengeluarkan semua keegoisanku. Rasa yang lelah karena kesakitan ini mendorongku untuk membuat sebuah kejutan. Bagaimana kalo aku membawa gadis ini pergi jauh dari mereka semua. Aku kan pergi jauh membawa semua isi hatiku dan hidup bahagia jauh dari semua rasa sakit ini.
Aku ingin membawanya pergi jauh dari sini. Di sudut hatiku yang terdalam tersimpan sebuah mantra jahat seperti itu. Tetapi jika aku melakukanya , apakah Kisya sendiri akan menerima?... Sayang lihatlah dirimu begitu lemah dan tak berdaya. Aku lihat ke dalam mata sayupnya rasa cintamu besar untuku.
Aku masih mematung menggendong wanita yang tak berdaya ini. Mereka masih belum menyadari kehadiran kami.
__ADS_1
"Yatuhan." Papa berteriak terkejut menatap ke arahku dengan mata yang membulat. Sontak semua mata tertuju ke arah kami.
"Kikis." Jerit bunda merasa terkejut. Bunda berdiri dan menghampiriku. Tiba-tiba Jeff datang ingin mengambil alih memeluk Kisya. Rasanya aku tak ingin melepas pelukan ini. Tak ingin aku melepas Kisya dari dekapanku. Sesaat aku tetap bersikeras memeluk Kisya tanpa memberi Jeff celah untuk mengambilnya dari pelukanku.
Hatiku bergemuruh ketika Jeff sudah dengan hawa panas menatapku penuh kekesalan. Aku ingin mengatakan padanya bahwa yang Kisya cintai bukanlah dia, melainkan aku. Aku adalah pria itu pria yang Kisya cintai saat ini. Tetapi sungguh mulutku Kelu dan suaraku seolah tak bisa keluar . Tak bisa ku lontarkan kata-kata itu di depan semuanya. Entah sihir apa yang membuatku tak berdaya dan tak bisa berucap satu katapun.
"Bang , biarkan aku menggendong kisya!" Jeff menatapku dengan tatapan garang seolah sedang menyalakan genderang perang. Tak ingin aku melepaskan kisya ke dalam pelukan Jeff. Karena Kisya adalah miliku. Harusnya aku berkata seperti itu terhadap Jeff. Tapi pada kenyataannya kisya adalah miliknya Jeff. Dan aku hanyalah seorang yang tak ada artinya.
Nafasku seolah tersenggal. Kini aku menjadi pusat tatapan mata para orang tua karena tak mau melepaskan Kisya dari pelukanku. Aku dengan egoku bertarung dengan kelemahanku. Egoku berkata jangan lepaskan Kisya dan katakan bahwa kamu mencintanya. Tetapi kelamahanku berkata aku hanya seonggok sampah di mata mereka. Dan jefflah yang terbaik untuk Kisya.
"Jino ada apa dengan Kisya?" Papa bertanya dengan kening yang mengkerut.
"Mana mungkin, tadi dia baik-baik saja." Jeff menatapku dengan penuh rasa curiga.
"Jino, kamu tidak melakukan apa-apa kan pada putriku?" Bunda Nisya menatapku dengan wajah curiga. Apa sebejad itukah aku di mata mereka. Apakah mereka pikir aku akan mengulangi hal yang sama terhadap Kisya. Hatiku bergemuruh merasakan sakit. Aku tak percaya mereka menilai aku serendah itu.
"Aku sudah berubah, kenapa kalian masih tidak mempercayaiku?" Aku sedikit meninggikan suaraku. Dan itu membuat Kisya membuka matanya.
__ADS_1
"Bunda." Suara Kisya terdengar sangat lemah.
"Iya sayang?"bunda Nisya merasa sangat cemas melihat sang putri.
"Kikis hanya pusing." Sekali lagi dia berbicara dengan lemah.
"Sayang, putriku, ayo Jino kita bawa kisya ke rumah sakit!" Bunda Nisya bergetar menahan tangis. Mendengar perintah dari bunda Nisya aku segera membawa Kisya berjalan ke arah mobilku. Sesaat aku lihat Jeff terlihat kesal karena aku tidak melepaskan pelukanku. Aku masih menggendong kisya sampai ke mobil. Sedang baby Vano bersama dengan mama murni.
Sepanjang jalan tak kulepaskan tubuh mungil yang lemah ini. Aku memeluknya dengan erat. Aku duduk di kursi belakang bersama bunda dan Jeff duduk di kursi samping supir. Aku lihat Jeff terus memperhatikan aku dan Kisya. Sedang bunda Nisya sendiri masih cemas sambil menggenggam erat tangan sang buah hati. Sayang, aku bahkan Takan melepaskan pelukanku apapun yang terjadi. Aku lihat Kisya membuka matanya dengan perlahan.
Dia menatap mataku dengan sayup. Aku tersenyum tipis membalas tatapannya. Kisya hanya menatapku dengan tatapan sendu.
"Jangan sakit!" Aku berbisik lembut dan membuat kisya memejamkan matanya dengan anggukan halus.
Bersambung❤️
Waaahh bagus, makasi Natali Ernison
__ADS_1