Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Bobo bobo siang


__ADS_3

"Sudah-sudah Jangan bahas itu lagi, sebaiknya kita makan saja sekarang," kata Kisya mencoba menepis semua perdebatan ini.


"Baiklah," ucap Jino sambil duduk di meja makan. Mama Murni pun tersenyum manis, dia sudah tidak menangis lagi, dia memang sempat menitikkan air mata tapi ya harus bagaimana lagi.


"Jino, Kisya, besok adalah hari pernikahan Jeffan apaa kalian akan datang?" tanya mama Murni kepada kedua anaknya.


"Sepertinya kak Jino saja yang ikut Ma, Kikis di rumah saja bersama baby Vano," kata Kisya dengan memberikan sedikit senyum.


"Baiklah kalau begitu, kalo memang Jino yanh akan berangkat. Mama berdo'a semoga pernikahan ini berjalan lancar dan Jeff segera melupakanmu Kis." Mama Murni berkata dengan penuh harap, dirinya pun kini hanya bisa mengangguk, wajahnya tiba-tiba saja sendu jika mengingat soal Jeff.


"Jino akan berangkat Ma, tenang saja," kata Jino kepada sang ibu, lalu mereka pun melanjutkan acara makannya.


Setelah mereka makan, mama Murni pun pamit kepada Jino dan Kisya, dia hendak pulang ke kediamannya, karena masih banyak yang harus dibereskan di rumah, untuk persiapan besok.


Jino dan Kisya hanya bisa mengantar sampai pintu saja, karena mama Murni memang diantar oleh supirnya. Kini Kisya terlihat begitu murung, melihat istrinya seperti itu, dan dia pun begitu sedih.


"Lupakan saja apa yang dikatakan oleh mama kalau memang Mom tidak mau Rosaline keluar, maka Dad akan segera tangani itu, dan membuat rose masuk kembali ke dalam tahanan," kata cinta kepada sang istri.


"Sudahlah Sayang, Papa berhak melakukan itu semua, biarlah papa Geovandra berbuat sesuka hatinya," kata Kisya dengan wajah yang murung.


"Sekarang kita ke kamar," kata Jino sambil menggendong sang istri.


"Eh Sayang apaan inikan siang hari, lagian baby Vano juga masih terbangun," kata Kikis dengan wajah yang merona merah.


"Ya ampun Sayang, baby Vano lagi berenang tuh sama Bibi," ucap Jino sambil terus menggendong sang istri masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, hati-hati! Aku takut jatuh," kata Kisya merengek manja kepada sang suami.


"Aku hati-hati kok, Dad selalu hati-hati," ungkap Jino dengan senyumannya, akhirnya mereka pun sampai di kamar, dengan segera Jino mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Pria itu langsung mengecup kening sang istri, dan mengecup bibir sang istri dengan penuh kasih sayang. Dan kini pria itu sudah berhasil membuka seluruh pakaian yang di kenakan istrinya. Jino pun sudah melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Mereka berdua sudah siap untuk bertempur, sudah sangat bernafsu, saat itu Jino mengelus dan menggenggam kedua bongkahan kenyal sanh istri dengan lembut, membuat Kisya tidak bisa berkutik lagi.


"Sayang, kamu sangat seksi," kata Jino sambil mencoba mengecup seluruh leher jenjang sang istri.


"Dad ... Tidakkah Daddy terlalu berisik," bisik Kisya dengan senyuman manisnya.


"Berisik apanya?" tanya Jino.


"Terlalu membual," kata kisya tersenyum manis.


"Ya ampun Sayang. Jadi aku tidak boleh bercakap lebih lama ya, aku akan diam tetapi tubuhku saja yang berbicara," kata Jino langsung hendak menyatukan tubuhnya dengan sang istri, tetapi tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


"Dad! Mom!" teriak baby Vano sambil memukul-mukul pintu kamar orangtuanya.


Jino dan Kisya yang sedang sangat bernafsu begitu terkejut mendengar baby Vano memanggil, mereka langsung bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali begitu pula dengan Kisya.


"Di mana tadi Daddy lupa moms, pakai saja ini," tangkas Jino sambil melempar sebuah kaos oblong miliknya, untuk di kenakan oleh sang istri. Kisya langsung menangkap kaos itu dan mengenakannya, setelah itu ia berjalan ke arah pintu dan hendak membuka pintu kamarnya, tapi kayaknya Kisya lupa bahwa Jino bahkan belum mengenakan pakaian bawahnya.


"Tunggu Moms, Daddy lagi pakai celana dulu," kata Jino sambil menggunakan celana pendeknya.


"Daddy sih, ini kan masih siang, Baby Vano masih bangun. Buktinya apa coba," kata Kikis sambil tersenyum manis, karena sang suami. Jino hanya bisa tersenyum, pasangan itu kesusahan membuang nafsu mereka berdua, Jino dan Kisya hampir terciduk oleh anak mereka.


"Daaaadd! Mommy Mommy!" Sekali lagi balita itu berteriak memanggil kedua orang tuanya, memukul-mukul pintu sambil berjingkrak-jingkrak.


"Jangan berteriak seperti itu baby Mommy dan Daddy pasti sedang tidur, kita main di bawah saja," kata dang pengasuh kepada baby Vano.


"No no no aku mau Mommy," ungkap baby Vano dengan tegas, anak itu memang sungguh menginginkan gendongan dan pelukan mesra dari ibunya.


"Setidaknya pakai dulu pakaiannya. Ayo kita pakai pakaiannya, kan baru saja berenang, baru saja mandi, masa masih menggunakan handuk sudah berlari di sini," kata bibi asuh baby Vano mencoba membujuk balita itu.

__ADS_1


"Tidak mau, tidak mau, tidak mau!" a/Anak itu merengek terus-menerus sampai akhirnya pintu kamar kedua orangtuanya pun terbuka.


"Halo Baby kenapa menangis, Sayang?" tanya Kisya kepada buah hatinya, sambil langsung menggendong balita kesayangannya.


"Mommy apain?" tanya baby Vano kepada sang ibu.


"Bobok siang," jawab Kisya menorehkan senyum yang manis dan lembut.


"Bobok siang with Daddy?" Anak itu berceloteh kembali.


"Iya Sayang, bobo siang With baby Vano, gimana? Apakah berenangnya sudah selesai?" tanya Kisya kepada buah hatinya.


"Sudah Mommy, Vano mau bobo ciang juga," kata baby Vano sambil menatap sang ibu lalu saat menatap ayahnya.


"Bibi ambilkan baju buat baby Vano ya, biar saya yang memakaikan pakaiannya," kata Kisya memberikan perintah kepada Bibi asuhnya anaknya.


"Baiklah Nyonya, tunggu sebentar," kata bibi asuh, lalu pergi meninggalkan mereka.


Wanita itu langsung membawa buah hatinya duduk ke dekat sang suami. Jino kini sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur langsung mengambil alih baby Vano ke dalam pelukannya.


"Kok berenangnya sebentar, dlDek?" tanya Jino sambil mendudukkan baby Vano di atas perutnya.


"Vano mau bobo ciang sama Mom and Dad." Anak itu menjawab dengan senyuman yang begitu tampan.


"Ya sudah setelah kenakan pakaian kita bobok siang bersama ya," kata Jino sambil mencubit hidung putra kesayangannya, baby Vano langsung masuk ke dalam selimut, berada diantara kedua orangtuanya.


Walau pekerjaan pribadi Jino dan Kisya terganggu karena ketukan pintu dari buah hatinya. Tetapi kehadiran baby Vano tetap sangat berarti di antara keduanya. Anak adalah segalanya untuk mereka.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2