
"Jauhkan tanganmu dari tubuh istriku!" Boy berteriak lantang. Matanya memerah dengan wajah menahan kemarahan. Rasa cemburu mulai meradang dalam selaput otaknya. Dia kini memanas dan sangat ingin menghajar lelaki yang telah berani menyentuh wanita yang sangat berharga miliknya.
Jino dan Lintang terkejut dengan suara yang nyaring itu. Jino dengan segera menjauhkan diri dari Lintang. Boy datang menghampiri sang istri dan jino. Boy menatap Jino dengan tatapan tidak senang. Sedangkan Jino seolah malas untuk menatap wajah Boy.
"Aku tidak suka kamu sembarang menyentuh istriku!" Ucap Boy menatap Jino dengan kemarahanya.
Jino malas menanggapi ucapan Boy dan Jino segera pergi. Boy merasa tidak senang dengan sikap Jino. Jino hendak meraih knop pintu tiba-tiba saja bajunya di tarik dari belakang oleh Boy.
Bugh.
Boy memberikan sebuah tinjuan tepat di wajah jino. Kemudian Jino melawan. Kini giliran Jino membalas pukulan Boy. Jino melayangkan pukulannya tepat di wajah sang lawan.
"Ahhh, kalian berhenti!" Jerit Lintang namun tubuhnya begitu lemah bahkan jeritannya pun tidak terdengar begitu keras.
mereka saling memukul,
melesatkan tinju satu sama lain.
ke kanan, ke kiri, ke bawah. Dari mulai kepala, bahu, hingga perut. Akhirnya Lintang dengan lemah turun dari tempat tidurnya. Berjalan Perlahan sambil membawa cairan infusnya. Lintang sudah menangis ketakutan. Suami dan mantan kekasihnya kini sedang tertengkar hebat lewat sebuah sentuhan pisik yang mematikan.
Kini Boy dan Jino bahkan sudah saling berdarah. Muka mereka sudah babak belur. Mereka tak berhenti saling melepar tonjokan. Sepertinya keduanya begitu semangat dan tak ada yang mau mengalah. Boy dengan kecemburuanya yang menggebu dan Jino dengan perasaan tidak senang karena sikap arogan Boy padanya.
Mereka sama kuatnya. Tubuh mereka sama gagahnya. Mereka imbang dalam perkelahian ini. Sampai akhirnya Jino berhasil menjatuhkan Boy sampai Boy tersungkur ke lantai. Boy terbangun dan hendak memukul Jino kembali namun saat itu Lintang sudah berada di tengah.
"Berhenti kak, berhenti kalian!" Tangis Lintang dengan tubuh yang bergetar. Tubuhnya seolah tak bisa menopang keseimbangan. Tetapi dia bertahan sekuat tenanga untuk memisahkan kedua lelaki yang sedang di buru nafsu binatang mereka.
Posisi Lintang lebih dekat ke Jino. Lintang hendak jatuh dan dengan sigap Jino menangkap tubuh Lintang dalam peluknya.
"Lintang , bangun!" Jino merasa cemas melihat Lintang begitu lemah.
"Brengsek, lepaskan istri gue!" Boy berteriak. Lalu mengambil Lintang dalam peluknya. Boy mengecup kening Lintang. Lalu merebahkan tubuh kurus itu di tempat tidur kesakitanya.
__ADS_1
Jino menatap Lintang penuh rasa khawatir. Tubuhnya lemah karena pergulatannya bersama Boy. Jino bukan atlit beladiri tetapi setidaknya dia bisa mengalahkan Boy sampai Boy jatuh.
"Sayang, sayang ,bangun sayang!" Boy merasakan sebuah kecemasan dalam hatinya. Dengan perlahan Lintang membuka matanya. Dan menangis dengan diam. Air matanya menetes tak terbendung. Dia merasakan kesakitan ketika melihat Boy dan Jino bersitegang dan bahkan saling menyakiti seperi tadi.
Jino pergi meninggalkan kamar rawat inapnya Lintang. Boy masih menggenggam tangan sang istri dengan lembut. Boy menitikan air matanya tak tega melihat Lintang selemah itu.
"Jangan, jangan bertengkar dengan dia!" Ucap Lintang dengan air matanya yang menetes.
"Aku hanya tidak suka dia menyentumu!" Jawab Boy dengan suara seraknya.
"Aku yang meminta tolong padanya, agar dia membantuku bangun, dia tidak melakukan apapun, kamu harus percaya padaku!" Ucap Lintang dengan Tangisanya yang melirih.
"Mataku menggelap melihat dia menyentuhmu, tolong jangan buat aku cemburu lagi, aku bisa membunuh dia kalau aku melihat kalian sedekat tadi!" Ucap Boy sambil menggenggam tangan Lintang dengan lembut.
"Tidak usah cemburu, dia tidak mencintaiku lagi, dia mencintai Kisya!" Ucap Lintang dengan tangisannya.
"Tapi kamu masih menyukainya, jadi itu membuatku sangat cemburu!" Ucap Boy mengelak.
"Jangan seperti itu, aku tidak tega kalian terluka seperti ini, Jino bukan Siapa-siapaku lagi Boy, aku punya seseorang yang sangat aku cintai Sekarang!" Ucap Lintang.
"Dia sangat berarti bagiku, dia adalah hidupku, dia prioritasku, kak Jino tidak ada apa-apanya di banding dia sekarang!" Ucap Lintang.
"Siapa dia, kenapa dia begitu datang langsung merebut kamu dariku?" Boy menatap Lintang dengan keingintahuannya.
"Dia seseorang yang berarti dalam hidupku!"
"Ah kamu main rahasia dia antara kita!" Boy menghela nafas.
"Minta maaflah sama kak Jino!" Ucap Lintang.
"Yang, apa maksud kamu, aku tidak sudi minta maaf kepada si brengsek itu!" Ucap Boy masih marah.
__ADS_1
"Minta maafkah Boy!"
"Tidak!" Tangkas Boy.
"Minta maaflah sayang!" Lintang terus memohon.
"Yang, kamu mau harga diriku jatuh di mata pria itu!" Ucap Boy.
"Aku mohon, dia sudah membawa aku ke rumah sakit kak, dia menggendongku saat aku tidak sadarkan diri, dia tidak menyukai aku lagi kak, dia hanya murni menolongku!" Ucap Lintang.
Boy berfikir sesaat namun ego nya masih sangat kuat. Boy terdiam masih befikir keras. Namun dia tetap menggelengkan kepalanya. Pertanda dia tak setuju.
"Jangan egois sayang, dia membatu aku dan bayi kita sampai di rumah sakit, dan sekarang kamu malah menghajarnya sampai babak belur seperti itu!" Ucap Lintang pelan.
"Karena aku kesal dan cemburu melihat dia menyentuh kamu sayang, eh.. apa tadi, bayi?" Boy membulatkan matanya.
"Iya, minta maaflah demi bayi kita! Ucap Lintang.
" Ba, bayi, apa maksudmu Dengan bayi kita, sayang apa, apa kamu, kamu hamil?" Boy menatap Lintang Dengan mata penuh haraf. Lintang menganggukan kepalanya sambil tersenyum dengan manis.
"Yatuhan, istriku hamil, terimaksih!" Boy memeluk tubuh lemah sang istri. Boy menangis dengan penuh kebahagiaan. Dia tidak menyangka bahwa dia akan segera menjadi seorang ayah. Lintang menangis haru. Melihat sang suami begitu bahagia. Seperti dirinya yang bahagia. Mereka seolah mendapat sebuah aura segar dalam kebidupan mereka. Kini ada sesuatu yang harus mereka jaga bersama-sama.
"Sayang, terimaksih!" Boy mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Lintang mengangguk dan lintang pun tersenyum dalam tangis haru. Boy lalu menyentuh perut Lintang yang masih rata.
"Benarkah dia tumbuh di sini?" Boy menyentuh dengan sangat lembut. Tanganya bergetar saat menyentuh calon bayi dalam perut sang istri.
"Iya kak, dia adalah bayi kita, dokter bilang usianya sudah 4 minggu!" Ucap Lintang halus.
"Ini sangat mengagumkan, sayang terkmkasih karena mau mengandung keturunanku!" Boy kembali mengecup kening Lintang dengan penuh kemesraan. Dan kini beralih mengecup perut Lintang.
"Dede, ini Papi nak, sehat selalu di perut Mami ya!" Ucap Boy penuh rasa bahagia. Boy merasa sangat bahagia karena dia akan segera menjadi seorang Ayah.
__ADS_1
"Sayang, jadi minta maaflah sama kak Jino, karena dia telah membatu aku sama bayi kita sampai di sini!" Ucap Lintang pelan. Boy terkejut Lintang masih meminta hal itu.
🌺Bersambung🌺