Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Ruang hampa


__ADS_3

Lantai 3 ruang anak"


Pesan yang yang lintang beritakan kepada Jeff. Dia bergegas turun dari mobil dan berlari menuju ruangan anak.



"Ceklek


Jeff membuka pintu dan terlihat Lintang dan Kisya sedang duduk disamping baby Vano.



"Kak Jeff


Kisya tersenyum dengan sangat cantik melihat kedatangan sang kekasih.



"Sayang, jadi..


Ucapan Jeff terhenti Jeff berjalan mendekati Kisya dan Lintang . Jeff melihat baby Vano sedang tertidur dengan oksigen dan selang infus yang masih menempel padanya.



"Baby Vano kenapa?..


Jeff menatap baby Vano penuh iba.



"Hipotermia berat kak, tapi Alhamdulillah sekarang baby sudah keluar dari masa kritis."



"Kasian sekali apa papa sudah tau?..



"Belum kami bahkan tidak membawa ponsel."



"Baiklah biar kakak yang memberitahu papa nanti, dia pasti merasa sangat cemas.



"Baiklah kak."



Lintang hanya terdiam sambil memegangi tangan baby Vano. Jeff lalu menatap Lintang.



"Minuman apa yang kamu berikan padaku semalam?


Ucap Jeff dengan inten menatap Lintang.



Boy dan Lintang terkekeh.



"Kalian tertawa?..


Jeff semakin penasaran.



"Itu hanya air do'a kak Jeff."



"Mana mungkin itu air do'a, setelah meminum air yang kamu berikan aku tidak ingat apa-apa lagi"


Ucap Jeff merasa kebingungan.



"Sudahlah kak air itu sangat mujarab menghilangkan rasa cemasmu yang berlebih!..


Lintang terkekeh begitu pula dengan Boy.



"Kalian membahas apa sih?..


Kisya merasa ingin tau.



"Tidak apa-apa ko kis"

__ADS_1


Lintang Masi terkekeh geli.



"Gara-gara kamu Lin, kepalaku pusing sekali"


Ucap Jeff tersenyum.



Mereka tertawa membahas perbuatan Lintang semalam.


Beberapa saat kemudian Lintang dan Boy pamit untuk kembali ke hotel karena Masih ada pesta yang akan segera dimulai. Kini hanya tersisa Jeff dan Kisya.



Jeff menatap Kisya dengan penuh rasa rindu. Kisya lalu duduk mendekati sang kekasih.



"Sayang."


Ucap Kisya dengan suara yang lembut.



Jeff tersenyum dengan tampan dan langsung meraih tubuh Kisya dan mendudukan nya di pangkuannya.


Kini Kisya sudah duduk dalam pangkuan sang kekasih.



"Apa kamu tau betapa aku merindukanmu"


Jeff mengelus rambut Kisya yang lebat dengan sentuhan yang sangat lembut.



"Iya Kikis juga rindu kakak"


Kisya bersandar di dada sang kekasih. Jeff memainkan Rambut Kisya dengan lembut.  Mengelus dan menciumi rambut indah itu dengan penuh kasih sayang. Seolah rambut Kisya adalah bunga yang sedang mekar. Jeff begitu menikmati harumnya.



"Aku mencemaskanmu sayang ."



Kisya tersenyum manis.



"Aku seperti orang gila mencari keberadaanmu sayang , jangan menghilang lagi seperti semalam , aku tidak sanggup jika harus tanpamu!..


Ucap Jeff menatap Kisya dengan tatapan lembut penuh kasih sayang .


Kisya lalu memeluk Jeff dengan sangat erat.



"Tidak akan, aku tidak akan menghilang lagi, tidak akan pergi tanpa sepengetahuan kakak, semalam  aku ingin memberi kabar padamu, tetapi ponselku sepertinya tertinggal"


Kisya Masi asik memeluk Jeff .



"Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang."


Jeff menatap Kisya lalu menggecup kening kisya penuh kelembutan. Kisya memejamkan matanya dan merasakan ketulusan sang kekasih. Jeff memeluk sang istri dengan sangat erat seolah Jeff tidak mau kehilangan Kisya.



Kisya Masi betah dalam pangkuan sang kekasih. Betapa tenangnya kisya berada dalam pangkuan kekasih hatinya.



"Kikis sayang kakak, terimakasih sudah mencemaskanku sayang!..


Kisya lalu mengecup bibir Jeff dengan penuh rasa cinta. Jeff membalas kecupan dari sang istri . Kecupan yang hangat dan penuh rasa cinta sama sekali tanpa nafsu . Jeff melumat bibir Kisya yang manis. Kisya mengimbangi lumayan Jeff dan mereka saling bertukar Saliva.



Kerinduan Jeff terhadap Kisya terbayar sudah oleh kecupan ini. Begitu pula dengan Kisya.



"Ceklek."


Pintu terbuka dan sesosok mata elang menatap tajam ke arah sepasang suami istri yang saling melepas rindu.


Mata itu berkaca-kaca. Helaan nafas menggebu. Dan rasa panas menghinggapi seluruh tubuhnya.


__ADS_1


Kisya dan Jeff Masi asik saling memadu kasih tanpa menyadari keberadaan seseorang di depan pintu.


Pria itu menutup pintu perlahan dan pergi meninggalkan Jeff dan Kisya tanpa menggangu mereka.



Jino menghela nafas berat. Dadanya terasa amat sesak. Entah kenapa jino merasakan sesuatu yang tak biasa dalam hatinya ketika melihat kemesraan adiknya. Padahal Jino tau betul selama 5 tahun Kisya adalah miliknya Jeff . Tetapi kenapa seolah Jino merasa sangat sesak menyaksikan adegan itu.



Jino berdiri dibalik pintu dengan wajah yang terlihat kacau. Kenapa hatinya terasa sangat sakit seolah ada sesuatu yang menusuk dan membuatnya berdarah. Helaan nafas berat dia hembuskan. Kini dia hanya bisa bersandar pada pintu yang seolah menjadi teman sepinya.



"Ada apa denganku, kenapa ada perasan sakit?..


Jino berkata dalam hatinya. Mata elangnya berubah sayup dan redup. Wajahnya menjadi sangat pucat. Dan kini hatinya merasa sangat kosong.


Dia bagaikan berada disebuah ruang hampa yang terselubung oleh bayangan semu.



Hatinya terasa kosong. Lamunanya tak bisa dia pungkiri lagi. Sesekali tanganya mengusap wajah yang terlihat sangat pucat tanpa sinar. Seberkas cahaya kini telah meninggalkan aura wajahnya.



"Aku tidak boleh seperti ini , dasar bodoh!


Jino merutuki dirinya sambil mengacak rambutnya penuh kekesalan.



Jino beranjak dari sandaranya. Berjalan perlahan meninggalkan lorong itu. Langkah demi langkah terlihat hampa. Helaan nafas terasa sangat kosong. Hatinya terasa sangat sepi dengan menyisakan ruang hampa yang membuatnya seolah menggambarkan hidupnya yang kesepian.



Langkahnya terhenti di sebuah taman di depan rumah sakit. Dia terduduk di bangku dengan tatapan mata yang kosong. Nafasnya masih terasa berat. Seolah sangat sulit untuk berhembus.


Kini Jino berada dalam khayalanya. Dimana dirinya sedang bersama kisya saat dimana dia memeluk dan mengecup lembut Kisya. Menggenggam erat tangan lembut itu.   Dan kini semua itu bagaikan bayangan semu.



Hatinya kini berdetak tak karuan. Seolah ada sebuah amunisi yang ampir saja meledak. Matanya terpejam merasakan betapa terpuruknya dia saat ini.



"Vano."


Bayangan sang buah hati datang menghampiri relung hatinya.


Rasa sesak itu kini sedikit mereda. Dia mengatur nafasnya . Vano seolah menjadi pengobat rasa hampa nya.



"Geovano, Daddy tidak butuh siapapun, Daddy hanya butuh kamu saja seorang!...


Ucap Jino dengan mata berkaca-kaca .


Jino menghela nafas perlahan. Rasa sesaknya masih ada namun sedikit mereda. Jino bangkit dari tempat sendunya. Berjalan kembali ke dalam rumah sakit.



Lorong itu seolah menjadi saksi Jino yang sedang mengumpulkan kekuatanya demi sang buah hati. Nafasnya Masi tersenggal-senggal karena rasa berat dalam hatinya belum mereda. Dia berusaha untuk menjadi kuat dan berusaha tegar , berjanji Takan membiarkan hatinya layu dan terpuruk lagi.



Kini Jino berada di depan pintu. Langkahnya terhenti dan mematung untuk sesaat. Dia mencoba untuk mengatur degup jantungnya dan mencoba untuk bernafas lebih kuat . Dia harus mengumpulkan semua kekuatanya dan mencoba berkata seolah semua baik-baik saja.



Terasa berat gerakan tangannya untuk meraih gagang pintu itu.  Matanya terpejam dan dia menarik nafas sesaknya.



"Vano Daddy datang nak!..


Ucap Jino dalam hatinya dengan matanya terpejam penuh penekanan.


Hati yang layu dan rapuh itu berusaha untuk menguatkan diri demi sang buah hati. Jino meraih gagang pintu dan membuka pintu ruang perawatan itu.





Bersambung.




__ADS_1


__ADS_2