
Wanita itu sudah terbaring dengan tatapan mata yang menggebu. Jino dan Kisya kini akan menjalankan sebuah misi. Dimana mereka akan membuat seorang bayi cantik yang mirip dengan Kisya. Rasa sejuk terasa di hati sang suami ketika sang istri mulai membalas semua sentuhannya.
Satu persatu Jino singkirkan kain yang menempel di tubuh mereka. Mereka kini saling bertatap dengan penuh cinta. Mereka saling memperhatikan tubuh polos mereka. Jino Kembali memeriksa seluruh tubuh istrinya dengan seksama. pria itu terus menghujani sang istri dengan ciuman yang penuh dengan aura romantis.
"Aku menantikan malam ini, saat aku tinggal jauh darimu!" Jino mengelus lembut area sensitif pada daerah dada sang istri. Membuat Kisya hanya bisa menarik nafas karena sentuhan sang suami membuatnya seolah tersengat listrik.
"Aku milikmu selamanya sayang, berbuatlah sesukamu," Kisya berkata dengan nafas yang menggebu. Jino seolah menerima sebuah lantunan cinta mendengar ucapan dari sang istri.
"Kamu memang miliku, kamu adalah cintaku, kamu sayangku, kamu segalanya untukku, mari kita satukan cinta kita!" Jino mulai memposisikan tubuhnya untuk segera menyatukan aura cinta mereka yang menggebu. Malam itu langit di kota Seoul menjadi saksi bisu ketika cinta Jino dan Kisya saling menyatu.
Suara tangisan manja terdengar begitu indah. Membuat sang suami semakin bersemangat untuk selalu memberi sebuah rasa nyaman. Mereka saling memadu kasih. Saling membuka hati dengan seluruh getaran asa dalam jiwa.
Rembulan seolah menatap indahnya cinta mereka. Bahkan angin membuat suasana semakin panas. Udara dingin kota Seoul saat ini berubah menjadi sebuah musim semi yang hangat. Setelah bergulat penuh cinta semanis coklat. Jino dan Kisya akhirnya terlelap karena tubuh mereka terasa lelah. Malam ini mereka tertidur saling berpelukan dengan berbalut selimut tebal.
Tetapi saat Pajar tiba, sang suami sudah membangunkan kembali sang istri. Kisya tidak terkejut akan hal itu. Karena Kisya tau suaminya pasti minta vitamin lebih. Dengan senang hati Kisya menyambut keinginan sang suami. Kisya memberi jino kebebasan untuk memilikinya kapan saja. Karena dia adalah miliknya Jino.
Jino selalu merasa senang dan bahagia ketika Kisya selalu menuruti semua keinginannya. Semakin hari, Jino semakin mencintai istrinya. Dia bahkan tidak bisa hidup bahagia tanpa ada Kisya disampingnya. Pagi ini mereka masih berkeringat. Badan mereka basah dengan segala tak terkira. Mereka kepanasan padahal suhu udara begitu dingin.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk pria itu menyesaikan misinya. Setelah misi selesai mereka pun masih berpelukan dengan selimut yang masih membungkus tubuh polos mereka. Tak henti Jino mengelus perut sang istri dengan sentuhan yang begitu lembut.
"Jika dia tumbuh di sini, dan dia lahir cantik, akan kita namakan apa?" Jino berkata sambil terus mengelus lembut perut sang istri yang begitu langsing dan rata.
"Tadinya aku mau memberi nama Naraishi... Tapi, Mommy berubah pikiran sayang, gimana kalau cinta."
"Cinta, cinta kita?"
"Iya cinta kita Dad, karena memang dia adalah buah cinta kita, gimana Daddy setuju tidak?" Kisya menatap wajah sang suami dengan tatapan penuh kasih sayang. Jino lalu tersenyum dengan manis. Jino mengecup kening sang istri dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Terserah sayang, kita akan buat berapa bayi nih?"
"Entahlah, aku ingin banyak anak berlarian di mansion kita!"
"Hmm.. apa sanggup?" tanya Jino.
"Sanggup apanya, sanggup melahirkan dan merawatnya?"
"Sanggup ko sayang, Daddy ko seolah tidak percaya sih?" Kisya berkata manja dengan mulut yang manyun.
"Hmm.. bukan begitu sayang, kan melahirkan itu kata orang sakit, ya Daddy saja tidak tahu dengan jelas sih." Jino terkekeh.
Kisya lalu tiba-tiba bangun dan kini sudah berada di atas sang suami. Jino terpana melihat aksi sang istri yang masih polos tanpa sehelai benangpun.
"Sa-sayang.. kamu menggoda ku?" Jino merasa sangat gugup dengan tingkah sang istri. Pasalnya selama ini kisya tidak pernah seperti itu.
"Sayang, siapa yang menggoda, aku hanya ingin mencoba saja." Mereka saling bertatapan dengan aura penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Kisya mengecup kening Jino lalu beranjak bangun dan hendak pergi ke kamar mandi. Namun Jino dengan sigap langsung menarik tangan sang istri sehingga tubuh kisya terjatuh di atas sang suami.
"Ah, sayaaaang." Kisya sedikit merengek.
"Mau kemana?" Jino mengelus lembut rambut sang istri. Jino tidak merasa sesak walau Kisya ada di atasnya.
"Mau mandi sayang, kita berjalan-jalan." Kisya menorehkan senyumnya.
"Tidak boleh!" Jino menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa?" Kisya kembali merengek.
"Kamu istri yang tidak bertanggung jawab, setelah membangunkan singa yang tertidur, kini mau pergi begitu saja tanpa basa basi?"
"Oh.. itu ya?" Kisya terkekeh.
"Ayo lanjutkan misi!" Jino menatap sang istri dengan begitu mesra.
"Tidak, mau kak, Kikis cape!" Wanita itu mulai terlihat begitu manja. Merengek seperti anak kecil.
"Ayolah Mom!" Jino mulai mengigit kecil telinga sang istri. Membuat kisya kegelian.
"Lelah Dad!"
"Daddy yang kerja, Mommy diam saja!" Tangan kokoh itu mulai berkeliaran di sekitar tubuh sensitif sang istri. Membuat Kisya sungguh tidak bisa menolak semua keinginan sang suami tercinta.
"Ahh, kamu nakal Dad." Kisya setengah berbisik karena sudah tak sanggup berbicara lantang lagi. Tubuhnya kini telah di kuasai oleh pria itu. Pria yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Dan selalu membuatnya merindu siang dan malam.
Mereka akhirnya kembali bermain api pagi itu. Sampai sore hari di hari itu bahkan Jino tidak memperbolehkan Kisya turun dari tempat tidur sama sekali. Mereka menghabiskan hari Dengan penuh rasa cinta. Menyatukan sebuah kerinduan yang selama ini mereka pendam.
Angin sore seolah berbisik lembut membangunkan dua insan yang kelelahan dan lemas seolah tak bertulang. Suara bunyi perut membangunkan salah satu dari mereka. Jino merasakan perutnya sudah meminta di isi. Diapun terbangun dan bergegas menelpon petugas hotel untuk membawakan dia makanan spesial apapun itu.
Dan petugas hotel mengatakan iya. Jino lalu melihat ke arah sampingnya. Terlihat wanita cantik dengan kulit seputih susu itu masih tertidur dengan lelap. Jino merasa sangat kasihan melihat istrinya tertidur seperti itu. Jino enggan membangunkan sang istri. Istri cantiknya pasti merasakan kelelahan setelah melayaninya sebari semalam.
Jino terus menatap pantulan cantik yang ada di hadapannya. Pria itu begitu mengagumi sang istri. Wajah polos kisya masih tidak berubah. Rasanya ini adalah sebuah mimpi untuknya. Dimana dirinya kini telah menjadi suami dari gadis yang telah dia siksa dan dia nodai dua tahun lalu.
Kalau mengingat hal itu. Jino menjadi sangat berdosa wajahnya selalu memperlihatkan rasa sesal karena kesalahannya saat itu. Kini dia akan menebus semua kejahatan yang dia perbuat dengan mencinta dan menyayangi Kisya sepenuh hati, seumur hidupnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Bersambung