
"kamu jangan bodoh seperti itu sayang!" Ucap pria itu sambil terus memeluk tubuh kisya dengan erat.
"Lepaskan aku kak, aku mau mati saja menyusul kak Jeff." Tangis Kisya semakin menjadi. Malam sudah semakin larut. Suasana semakin sepi dan dingin. Namun tangisan Kisya seolah tak terdengar karena posisinya di atas. Gedung rumah sakit. Kisya terus menangis dan meronta. Jino terus memeluk Kisya tanpa menyerah.
"Kamu tega meninggalkan aku dan Baby Vano?" Ucap Jino dengan bisikan lembut. Kisya sesaat terdiam. Ucapan Jino bagai sebuah sihir yang membuat dirinya berhenti menangis. Benar saja, dia sekarang berfikir bahwa masih ada bayi kecil yang harus dia sayangi. Bayi yang menurutnya sudah tidak memiliki seorang ibu. Kisya terdiam dan menatap Jino dengan mata basahnya.
"Aku menyesal membagi hatiku denganmu, aku telah menduakan kak Jeff karena mu!" Kisya menangis dalam lirih. Jino hanya bisa menelan saliva. Menatap wajah wanita yang sangat dia cinta. Wajah yang kacau dan rambut yang berantakan. Lalu Jino merapihkan rambut Kisya. Dan membetulkan ikatan rambutnya.
"Ini semua karena kamu kak, harusnya kamu tidak menggodaku, kenapa kamu sendiri malah diam dan tak mengatakan apapun padaku, kamu malah menyembunyikan kenyataan, kenyataan bahwa Jeff dan aku sudah menikah." Kisya menatap Jino dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar. Dan tubuhnya melemah.
"Karena aku mencintaimu." Ucap Jino pelan namun sungguh bisa menusuk sampai ke dasar hati Kisya. Kisya menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan Jino .
"Tapi semuanya salah kak, karena kamu berbohong aku jadi mencintaimu, aku jadi menghianati suamiku, aku membagi hatiku denganmu, aku berdosa, aku berdosa, cinta kita ini salah." Kisya masih menangis dengan lirih.
Lalu jino meraup bibir Kisya dan mengecupnya dengan lembut. Kisya mendorong tubuh Jino dan Jino begitu terkejut. Kisya menolak ciumanya.
"Tidak, jangan sentuh aku kak, semua ini tidak benar, kita tidak boleh menari di atas penderitaan kak Jeff, aku sudah memutuskan bahwa aku akan segera melupakanmu kak, aku akan membecimu, aku akan berusaha membencimu." Kisya masih menangis.
"Lakukan apa maumu, lakukan Kis, tetapi jangan melarang aku untuk selalu mencintaimu, aku akan selalu mencintaimu, aku akan menyimpan namamu dalam hatiku, walau kamu berniat untuk melupakan aku dan berusaha membenciku, aku akan tetap memberikan hatiku untukmu sayang." Ucap Jino sambil memeluk Kisya dengan erat.
__ADS_1
"Lepas, lepas!" Kisya menagis sejadi jadinya. Dia tidak mau Jino nemeluknya. Kisya merasa bersalah kepada Jeff. Dia sudah berdosa karena membagi hati dengan Jino. Dan sekarang dia tidak mau seolah dirinya bahagia di atas luka hati Jeff. Dia tidak mau melukai Jeff untuk kesekian kalinya. Karena itu Kisya ingin menjauhi Jino. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan semua sesal itu karena hatinya yang rapuh.
Kisya yang tak mampu menolak datangnya cinta baru dalam kehidupannya. Sehingga Kisya membiarkan Jino masuk ke dalam hatinya. Tanpa dia sadari dia telah menjadi istri yang berdosa karena sudah menduakan suaminya. Itulah perasaan kisya saat ini. Malam semakin dingin suhu yang membuat tubuh keduanya membeku. Rootrop yang basah karena air hujan yang mengguyur satu jam sebelumnya. Membuat kedua pakaian sepasang kekasih ini kotor dan basah.
Kisya masih menangis dengan sesal yang menusuk dadanya. Air matanya tak kunjung berhenti menetes. Saat ini dia hanya ingin sesal itu hilang namun semuanya tidak kunjung jua menghilang.
"Ayo kita masuk , disini sangat dingin!" Jino berbisik pelan. Kisya masih terisak dengan tubuhnya yang lemas. Tubuhnya lemas karena terlalu banyak mendorong jino saat dia tadi mengamuk.
"Aku tidak mau masuk, aku mau di sini, atau tolong antarkan aku ke danau!" Lirih Kisya. Jino menghela nafasnya begitu dalam dan membuangnya sembarang.
"Ini sudah pukul dua dini hari, semua orang sudah tertidur dengan lelap, sebaiknya kita juga beristirahat!"
"Tidak bisa, aku segera menemukan kak Jeff, aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf, aku ingin menjadi istri yang baik dan shalehah untuk dia. Aku mohon antarkan aku padanya!"
"Aku ingin meminta maaf padanya, aku akan berjanji tidak akan menduakan dia lagi, aku berjanji."
Tangis Kisya sambil menatap Jino dengan penuh rasa pedih.
"Besok aku akan mencari dia lagi, sabarlah, besok kita bisa bertemu dengan dia!" Ucap Jino pelan.
__ADS_1
"Aku ingin dia kembali padaku, aku ingin dia pulang kak, aku mohon bantu aku kak, aku mohon ajak kak Jeff pulang!" Ucap Kisya dengan tangisan lirih.
Jino mengecup kening Kisya dengan lembut. Kisya masih sesegukan dan mulai lemas. Jino lalu menggendong Kisya untuk turun dari rootrop. Kisya terlihat lemah dan rapuh. Kisya kini memejamkan mata basahnya dan memeluk jino erat. Jino membawa kisya dalam pangkuannya. Mereka merasakan rasa sakit karena kehilangan.
Memang selalu seperti itu. Manusia akan merasa sedih dan menyesal ketika orang itu sudah pergi. Ketika orang itu sudah tiada lagi di sampingnya maka rasa sesal pasti selalu hinggap. Begitulah perasaan kisya saat ini. Bukanya Kisya tidak mencintai Jino. Tapi karena Kisya mencintai Jino maka Kisya merasa sangat menyesal.
Keputusan Kisya sudah bulat. Dia akan berusaha melupakan Jino. Dia tidak mau seolah dia memanfaatkan musibah ini. Dia ingin menunggu Jeff sampai Jeff kembali padanya. Kisya kini sudah tertidur dalam pangkuan Jino. Jino sudah masuk ke kamar rawat inapnya Kisya. Bunda Nisya terbangun. Dia terkejut Jino menggendong Kisya dari luar.
"Ada apa ini Jino?" Bunda tersentak.
Jino merebahkan Kisya di atas ranjang kesakitanya. Lalu menyelimuti tubuh Kisya.
"Baju Kikis basah bu, sebaiknya anda ganti!" Ucap Jino pelan.
"Katakan padaku apa yang terjadi?" Bunda Nisya berkata agak lantang.
"Kisya mau menjatuhkan diri dari rootrop." Jino berkata sambil mengelus rambut Kisya lembut. Bunda Nisya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Yatuhan, kasihan sekali putriku, dia pasti defresi." Ucap bunda Nisya dengan mata yang berkaca-kaca. Bunda menatap kisya penuh iba. Dia sungguh sedih melihat putrinya seperti ini. Tapi apalah daya, dia tak bisa melawan takdir dari yang kuasa. binda nisya hanya bisa berdoa saja untuk kebagian sang putri tercinta. Jino melihat bunda Nisya sepertinya hendak menitikan air mata. Dia tidak mau menggangu privasi sang Bunda . Karena itu Jino memutuskan untuk pergi dari sana. Membiarkan Bunda Nisya berdua saja bersama kisya. Jino melangkah menjauhi mereka berdua. Dengan perlahan Jino menarik knop pintu. Menarik dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras.
__ADS_1
"Aku permisi." Ucap Jino pelan.
Bersambung 🌺