
"Dengarkan aku baik-baik, jangan menyakiti dirimu sendiri, Jeff akan sangat sakit jika tau kalo kamu terpaksa menikah dengannya."
Ucap Lintang pelan.
"Tidak bisa Lin, aku hanya akan menikah dengan kak Jeff, semuanya terlalu rumit, dan tak akan bisa diterima oleh akal sehat."
Ucap Kisya sambil menundukkan wajahnya yang sendu.
"Rumitnya dimana?..
Tanya Lintang.
"Tak bisa aku sebutkan , karena dengan batalnya pernikahanku dan kak Jeff itu malah akan membuahkan masalah yang baru."
Kisya menghela nafas dengan berat. Gadis itu sudah tidak menangis lagi. Namun air matanya masih tersisa di pelupuk mata. Wajah sendu dengan aura semu. Membuat Lintang begitu tak tega melihatnya.
"Apa itu begitu rumit, tidak bisakah kita anggap semuanya mudah?..
"Tidak semudah itu Lin, tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena ini menyangkut hati dan perasaan mereka orang-orang yang mencintaiku. Jika aku akhirnya memutuskan pernikahan kami, bukan cuma kak Jeff yang tersakiti, tetapi keluarga dan itu akan menambah masalah baru, aku belum siap untuk itu Lintang."
"Bisakah kamu jangan melihat orang lain, tetapi lihatlah hatimu sendiri."
Ucap Lintang dengan pilu.
Kisya menggelengkan kepalanya seraya berkata.
"Hatiku sendiri biar aku yang mengaturnya , jika aku sakit aku sendiri yang merasakanya. Jika aku terluka maka aku Sendiri yang akan membalut lukanya. Aku bisa mengaturnya jika itu aku, tetapi jika aku malah menyakiti hati banyak orang yang mencintaiku, maka aku tidak akan sanggup menanggung beban sebanyak itu Lin, aku tak bisa ."
Kisya mengehela nafas sangat berat. Dadanya terasa sangat sesak dan seperti terhimpit sebuah batu besar .
Lintang menatap Kisya dengan pilu. Lintang tahu betul sifat Kisya memang seperti itu. Kisya akan rela tersakiti dari pada menyakiti. Tidak ada gadis sebaik Kisya dan seputih hati Kisya di mata Lintang. Karena itulah Lintang selalu menyayangi Kisya karena sifatnya yang begitu mengagumkan dimatanya.
Di sisi lain. Di sebuah perusahaan. Terlihat Jino sedang sibuk dengan berkas yang harus dia tandatangani. Karena kesibukanya pagi itu sesaat dia melukapan rasa sakit dalam hatinya. Jino sesekali menatap buah hatinya yang sedang tertidur lelap di temani oleh bibi. Jino selalu membawa baby Vano ke kantor bersama bibi.
Tak mau sedetikpun Jino jauh dari buah hatinya. Karena rasa lelahnya saat bekerja akan hilang setelah melihat senyuman buah hatinya tercinta. Siang itu Jino akan berangkat meeting ke sebuah resto ternama di pusat kota. Jino meninggalkan baby Vano di kantor bersama bibi. Jino pun berangkat bersama sekretarisnya.
Dalam perjalanan Jino hanya terdiam . Tak ada sepatah katapun. Dia ucapkan. Entah kenapa dia merindukan Kisya padahal tadi pagi mereka masih bertemu. Rasa rindu yang membuatnya begitu sesak . Entah apa yang akan dia lakukan jika rindu itu menyerangnya. Dia masih ingat waktu itu Jino pernah mengambil poto Kisya bersama baby Vano. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan membuka galeri.
Disana ada satu Poto Kisya bersama dengan baby Vano. Jino tersenyum sesaat ketika dia melihat begitu cantik parasnya Kisya . Dadanya semakin sesak menahan kerinduan. Sesak barat dan sakit. Sebuah kisah cinta yang tak bisa tersampaikan. Dan hanya bisa dia rasakan dalam kegundahan.
"Pak saat ini yang akan bertemu kita adalah seorang direktur dari almony grup. Dia bernama Talita ."
Ucap Rosa . Rosa adalah salah satu sekretaris Jino. Jino memiliki beberapa sekretaris.
"Hmm..." Ucap Jino datar sambil terus memandangi Poto Kisya. Rosa tersenyum melihat bos nya. Karena baru kali ini boss nya terlihat mengagumi sebuah poto google. Rosa pikir Jino sedang membuka google.
"Miss Talita cantik Pak, dia seperti model dengan lekuk tubuh bak gitar spanyol."
__ADS_1
Ucap Rosa kembali memberi informasi kepada Jino yang masih seperti orang snewen karena menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
"Hmm iya ." Ucap Jino pelan. Sambil tak henti memandangi Poto Kisya dan sang buah hati. Rosa sesaat mencuri pandang menoleh ke arah ponselnya Jino.
"Mis Talita lebih cantik dari gambar perempuan yang sedang anda pandangi pak."
Ucap Rosa dengan senyumanya. Jino menelan Saliva. Menutup ponselnya dan memasukan ponselnya ke kantung jas yang dia pakai.
"Apakah wanita itu lebih cantik dari model Lintang ayu?..
Ucap Jino sambil menatap rosa.
"Emh , kalo di bandingkan dengan model Lintang ayu mungkin agak sebanding ya pak."
Ucap Rosa.
"Oh, jadi lebih cantik mana?..
Ucap Jino sambil menatap rosa lekat.
"Sepertinya Lintang ayu menang , karena dia kan mantan pacar bapak ."
Ucap Rosa dengan senyumanya.
"Begitukah?..
"Apa kamu tau, bahwa ada seorang gadis yang lebih cantik dari Lintang ayu?....
"Menurutku , Lintang ayu sudah sangat sempurna pak, saya tidak berani membuat persaingan, dia kan mantan bapak." Ucap Rosa dengan menorehkan senyum yang manis.
"Menurutku ada."
Ucap Jino pelan .
"Benarkah pak."
"Wanita ini."
Ucap Jino sambil memperlihatkan photo Kisya pada Rosa.
"Wanita ini tidak lebih cantik dari Mis Talita pak." Ucap Rosa tersenyum seolah menertawakan .
Jino mengeraskan rahangnya dan dadanya bergemuruh. Wajah Jino merah padam.
"Namamu Rosa siapa?... Jino pelan.
"Rosa Amelia pak."
__ADS_1
Ucap Rosa dengan melontrakan senyum manisnya.
Jino lalu menelphone seseorang.
"Halo Angel, kamu di mana?..
Ucap Jino datar.
"Halo pak , maaf saya di kantor."
"Angel cepat datang ketempat meeting, siang ini saya meeting bersama Mis Talita."
"Pak ,bukankah. Sudah ada Rosa ."
"Rosa siapa, Rosa Amelia maksud mu,?..
"Iya pak Rosa Amelia ."
" Dia sudah bukan sekretaris ku lagi, dia saya pecat, tolong bilang sama HRD kalo aku memecat Rosa Amelia barusan."
Ucap Jino datar.
Rosa begitu terkejut mendengar ucapan jino. Tak menyangka kalo dia akan di pecat karena berpendapat soal kecantikan seorang wanita.
"Baiklah pak , saya akan menghubungi HRD dan akan menyusul bapak dengan segera."
Ucap Angel . Lalu Jino mengakhiri panggilanya.
Jino tersenyum sambil menatap rosa.
"Pak maaf, kenapa saya di pecat, apa salah saya?..
Rosa mulai berkaca-kaca.
"Karena aku tidak suka kamu menghina ibu dari anaku."
Ucap Jino dengan penuh penekanan.
"Apa , jadi, jadi dia istri bapak."
Ucap Rosa merasa sangat terkejut. Dia merutuki dirinya dan sangat menyesal.
"Pak supir tolong berhenti ,biarkan gadis ini turun." Ucap Jino sambil menatap Poto Kisya kembali.
"Baik pak." Ucap sopir itu dan langsung menepikan kendaraanya di pinggir jalan.
"Pak , maafkan saya, pak saya mohon." Rosa sudah mulai menangis. Namun Jino hanya terdiam acuh dan cuek. Sopir lalu menarik tangan Rosa agar cepat keluar dari mobil . Dan Jino hanya asik memandangi Poto Kisya dan baby Vano.
__ADS_1
Bersambung.