Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Manis


__ADS_3

Jino masih setia duduk di samping ranjang kesakitan sang kekasih. Tak henti dia Menggenggam tangan lembut seperti sutra itu. Kisya perlahan membuka matanya dan menatap Jino dengan tatapan sendu.


Jino tersenyum dengan manis. Mengecup lembut punggung tangan gadis itu.


"Jangan sakit lagi ya, ini terakhir kalinya, ok!" Jino terus mengecup lembut punggung tangan Kisya. Dia tidak memperdulikan jika ada orang yang akan melihat perbuatanya. Yang dia tau saat ini adalah sebuah kecemasan. Cemas karena takut terjadi sesuatu pada Kisya.


"Kak."


Kisya berucap pelan.


"Hmmm." Jino menjawab pelan.


"Pertanyaanmu membuatku pusing, tolong jangan tanyakan hal itu lagi?"


"Aku hanya ingin kita menikah, kita bertiga akan pergi jauh dari sini, dan hidup bahagia."


Jino berkata sambil menatap mata Kisya dengan dalam.


"Mimpi kakak indah sekali, tapi untuk mewujudkan semua mimpi itu, ada yang akan terluka."


"Kenapa harus mengkhawatirkan orang lain, belum tentu mereka memikirkan kita."


"Kita tidak boleh egois kak, kita tidak boleh menjadi orang jahat!" Gadis itu mulai memperlihatkan wajah sedihnya. Jino sungguh tak tega jika sudah melihat Kisya seperti itu. Jino menghela nafas berat. Lalu tersenyum dan mengecup kening kisya dengan lembut.


Kisya tersentak Jino berani mengecupnya di tempat umum. Dia takut Jeff dan keluarga melihat itu semua.


"Kenapa kaku seperti itu?" Jino terkekeh. Melihat berapa pucatnya wajah Kisya saat dia mengecup kening gadis itu.


"Ia jelas saja." Kisya membuang muka dengan wajah kesal yang bercampur rasa cemas.

__ADS_1


"Ternyata begini ya kalo marah?' pria itu kembali menyunggingkan senyuman manisnya. Dia menggoda sang kekasih yang tingkahnya begitu menggemaskan.


"Kenapa kakak nekad, kenapa ucapanku tidak kakak dengarkan?" Kisya mendengus kesal. Mulutnya sedikit manyun dengan manja. Jino menatap betapa imutnya gadis itu. Sesaat Jino menelan Saliva dan dia mencoba untuk bangkit dari duduknya.


Kisya masih memalingkan wajahnya. Dia seolah tidak mau menatap Jino Karena masih merasa kesal. Jino berdiri dan tersenyum menatap kekasih hatinya. Dia lalu mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh Kisya.


Cup.


Pria itu mengecup bibir kisya yang sedang manyun. Sontak itu membuat kisya terkejut. Jino tersenyum setelah memberi Kisya sebuah kecupan lembut.


Kisya terdiam seolah tak percaya dia mendapatkan kecupan dari Jino di ruang terbuka . Jino masih menatap Kisya dengan senyum merekah dan merasa menang.



"Manis." Jino membasahi bibirnya seolah merasakan ada eskrim yang meleleh di bibirnya.


Kisya terkejut mendengar ucapan jino  dan tersipu malu. Gadis itu memegang bibir dengan jemarinya. Masih tak percaya Jino melakukan itu di depan banyak orang. Di antara pasien dan yang berjejer di atas  blangkar.


"Baru tau kah?" Jino membalas senyuman Kisya. Mereka lalu saling memandang merasakan sebuah ruang rindu yang menggebu. Jino duduk di kursi samping ranjang kisya. Dia kembali menggenggam tangan kisya. Kembali dia mengecup punggung tangan kekasih hatinya. Kisya menerima dengan senyuman manis.


"Banyaklah tersenyum, jangan menangis lagi!" Dengan lekat pria itu menantap wajah gadis yang baginya begitu cantik dan sempurna. Kisya hanya terdiam sambil membalas tatapan pria yang sudah membuatnya terbuai api asmara.


Mereka adalah dua insan yang sedang di buai oleh indahnya cinta. Namun sebuah keadaan yang tak mungkin menyatukan mereka. Rasa cinta mereka begitu besar. Entah kenapa duduk dengan memandangi faras wajah ayunya saja sudah membuat Jino merasa sangat bahagia. Gadis polos dan lugu itu sungguh telah membuatnya takluk.


"Apa masih sakit, sayang ?" Jino masih menatap Kisya dengan sebuah tatapan hangat penuh cinta. Kisya menggeleng dan tersenyum dengan manis. "Cuma sedikit lemas saja."


Rasanya Jino ingin sekali memeluk tubuh gadis cantik itu. Mendekapnya Dengan sebuah pelukan hangat dan memberinya beberapa kecupan mesra penuh cinta. Tetapi itu semua menjadi sebuah khayalan indahnya saja. Bahkan dia tersenyum membayangkan hal itu.


"Kenapa, ada apa?" Kisya bertanya.

__ADS_1


"Aku hanya bermimpi." Jino masih tersenyum menatap sang kekasih.


"Padahal tidak sedang tidur, apa bisa bermimpi?" Dengan lembut Kisya berkata.


"Iya, aku bermimpi dengan mata terbuka, hehe.. aku sudah gila, aku gila sayang." Jino terkekeh. Wajahnya terlihat begitu tampan. Lesung pipinya bahkan terlihat dengan sangat jelas. Membuat Kisya begitu terpana di buatnya.


"Gila?" Kisya tersenyum seolah mengejek sang pria pujaan hati.


"Iya aku gila, gila karena begitu mencintaimu."


Sesaat mereka tersenyum dan kembali saling bertatapan. Tatapan yang menusuk sampai ke dasar sanubari. Wajah Kisya yang merah merona dan wajah Jino yang terlihat penuh dengan cinta. Mereka berdua kini tersenyum dan mengecup indahnya cinta. Untuk sesaat mereka melupakan keluh kesah hati mereka. Melupakan bahwa di luar sana ada yang sedang cemas ingin bertemu dengan Kisya.


Saat ini mereka berdua seolah tak perduli. Dan hanya ada perasaan hebat yang menggebu diantara keduanya. Sebuah rasa yang hanya bisa merasakannya.


Di sisi lain Jeff dengan kecemasanya menunggu di luar ruangan. Berharap Jino segera keluar dan bergantian untuk menjaga Kisya di dalam. Hatinya seolah menggebu dan rasa cemburu menjalar di dalam nadinya. Jeff ingin segera masuk tetapi memang tidak boleh terlau banyak orang di dalam.


Tak henti Jeff mondar-mandir layaknya setrikaan. Dengan wajah cemas dan gelisah karena ingin segera masuk ke dalam.


"Duduk saja Jeff, Kisya sudah ditangani!" Ucap papa Geovandra dengan suara rendah. Sesaat Jeff mengangguk dan duduk di samping sang papa.


"Kenapa bang Jino Tidak mau keluar juga?" Jeff mendengus kesal. Dia mengacak rambutnya dengan wajah menekuk.


"Sabar saja Jeff, kenapa kamu menjadi tidak sabaran seperti ini ." Mama murni mendekati sang anak sambil menggendong baby Vano yang sedang tertidur.


"Jeff cemas." Jeff menatap mama dengan kecemasanya.


"Tunggu beberapa saat ya!"


"Tapi ini sudah lebih dari setengah jam, ah bikin frustasi saja ma."

__ADS_1


"Dasar anak kecil."mama terkekeh melihat putranya seperti ikan kekurangan air. Dan Jeff tetap menggebu ingin masuk ke dalam. Jeff tidak tau bahwa Jeff bisa masuk ke dalam. Padahal itu semua hanya bualan bunda Nisya saja. Bunda Nisya seolah memberi ruang untuk Jino dan Kisya berdua dulu.


Bersambung❤️


__ADS_2