Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Berendam air Belerang


__ADS_3

Udara yang begitu dingin. Kabut pagi hari memang sangat tebal. Bahkan matahari seolah enggan untuk memberikan sinar sepenuhnya. Jino dan Kisya masih bergandeng tangan menelusuri situ patenggang. Sebuah danau yang indah dan dinginnya luar biasa. Mereka sangat menikmati pemandangan di pagi hari. Tetapi rasa dingin itu sungguh seperti mengiris kulit tubuh mereka.


Kisya sudah sangat pucat karena tubuhnya mulai membeku. Jino melihat Kisya begitu kedinginan.


"Apa kita pulang saja sayang, kita ke tenda lagi?" Ucap Jino cemas karena melihat Kisya begitu pucat. Tidak usah kak, kita cari minuman hangat dulu!" Ucap Kisya dengan bibir yang bergetar. Lalu Jino pun mengangguk. Jino dan kisya kini mulai berjalan menelusuri danau menuju ke resto kapal yang sangat tinggi.


Mereka lalu masuk ke resto tersebut dan mulai naik ke lantai tiga. Mereka memesan minuman hangat agar tubuh mereka tidak kedinginan lagi. Sebuah bandrek khas Ciwidey sudah siap di dalam gelas. Gelas itu mengepul saking panasnya minuman bandrek tersebut. Dengan perlahan. Kisya mengambil gelas itu dan meninumnya sedikit demi sedikit.


"Wah, jahenya terasa banget kak." Ucap Kisya dengen senyumannya. Wanita itu terlihat begitu menikmati minuman bandreknya. Jino tersenyum manis. Lalu dia pun mencoba meminum-minuman tersebut. Memang benar Jino juga merasa minuman itu begitu hangat.


"Ini namanya apa?" Jino menyeruput kembali minumanya.


"Entahlah aku tidak tau kak, baru kali ini aku minum minuman jahe seperti ini." Ucap Kisya dengan senyumanya. Dia masih memperhatikan minuman yang menyulapnya menjadi hangat dengan seketika."Kita bawa pulang untuk oleh-oleh ya sayang!" Ucap Kisya pelan.


"Baiklah yang." Mereka melanjutkan minum mereka kembali.  Setelah agak siang mereka lalu berencana untuk berendam air hangat di ciwalini. Sebuah kolam pemandian air hangat yang terkenal di daerah itu. mereka kini sudah siap memesan ruangan satu kamar sempit untuk berendam secara pribadi. Mereka tidak mau bergabung dengan yang lain.


Kisya sudah melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi yang penuh dengan air panas itu. Air panas alami yang katanya bisa menyembuhkan semua jenis penyakit kulit. Itu mitos dari warga Setempat. Jino sudah tidak sabar ingin bergabung juga. Jino kini mulai nakal kembali.


Kisya merasa begitu hangat berendam di dalam air belerang itu. Suaminya mulai memeluk Kisya dan mereka akhirnya mulai menambah panas air panas itu. Padahal kemaren Jino sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Tetapi kini dia ingkari. Mereka berendam air panas dan membuat adik bayi untuk Baby Vano. Di sana mereka begitu menikmati cara berendam yang dengan seperti itu.

__ADS_1


Selang beberapa menit Jino menuntaskan pekerjaanya. Seolah dia tidak pernah bosan dengan semua aktivitasnya yang begitu melelahkan.


Mereka merasakan sensasi belerang yang tercium di sekitar bak mandi tersebut. Jino sudah bersandar di bak mandi tersebut. Dia mengatur nafanya dan Kisya pun mulai menyandarkan kepanya di dada sang suami.


"Sayang!" Ucap Jino.


"Hmm." Jawab Kisya.


"Sebenarnya aku ingin menunda kehamilan dulu sampai 4 tahun kedepan." Jino mengelus perut Kisya dengan lembut.


"Kenapa harus di tunda?" Kisya mulai manyun.


"Karena luka bekas operasi usus buntu kamu belum sepenuhnya kering. Baru satu tahun dan itu takut melah membahayakan dirimu yang!" Jino terus mengelus dan menyentuh luka bekas operasi Kisya.


"Iya sih, cuma garis putih saja sekarang, dari tadi aku mencari memang sudah tidak ada!" Ucap Jino.


"Iya, memang sudah tidak ada, jadi aku bisa hamil dan melahirkan kak!" Ucap Kisya dengan senyuman manisnya.


"Semoga saja semuanya akan baik-baik saja ya, karena aku sangat takut, jika kamu hamil kelak, malah akan membahayakan tubuhmu!' Jino menyecup kening sang istri dengan lembut.

__ADS_1


"Dia pasti akan tumbuh, suatu saat nanti, kamu sudah menitipkan banyak calon bayi di perutku!" Ucap Kisya dengan senyuman manjanya.


"Iya, aku bahkan tidak persiapan pengamanan sama sekali, aku tidak menyangka bahwa bandung telah memberikan kita ruang untuk bersatu sayang."


"Untuk apa menggunakan itu, aku akan kuat dan sehat, aku janji tidak akan sakit lagi yang!" Kisya berbalik kini menghadap ke arah Jino. Mereka saling memandang. Jino melihat Dengan jelas betapa istrinya sangat cantik. Lalu Jino mengecup bibir sang istri dan memulai kembali pekerjaanya.


Perasaan cinta mereka berdua tak terbendung. Mereka adalah sepasang kekasih yang bersatu atas takdir dari tuhan. Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berendam. Mereka sudah kelelahan dan kulit mereka sudah keriput karena terlalu lama terendam oleh air. Mereka lalu mandi dengan air sabun dan membilasnya dengan air hangat dari shower.


Setelah itu mereka berencana untuk berkemas dan kembali pulang ke rumah. Mereka sudah sampai di glamping dan mulai mempersiapkan koper mereka. Mereka berkemas untuk pulang. Dua hari di kota Bandung memang sangat menyenangkan untuk mereka. Mereka berencana untuk berbulan madu minggu depan.


Jino menyarankan agar Kisya tunggu dulu di tenda saat Jino mau membayar tagihan menginap. Lalu Kisya mengangguk. Jino pun pergi. Kisya duduk di kursi dan bersandar. Dia begitu lelah dua hari di kota bandung. Bahkan selangka nya agak lecet dan perih karena terus di hajar oleh sang suami. Tetapi Kisya hanya diam saja karena tidak mau mengecewakan suaminya.


"Aku harus bilang apa pada dokter, aku ke dokter pun, akan terasa malu!" Ucap Kisya dalam hatinya. Dia sendiri merasa Malu. Alhasil Kisya hanya akan mendiamkanya saja. Jino memang agak sedikit buas. Dia memporsir sang istri terus menerus. Mungkin dia balas dendam karena Kisya mendiamkanya selama delapan bulan. Sehingga kini Jino menggempur secara terus-menerus ladang surga milik sang istri.


Kisya sendiri hanya menurut saja. Kisya tau bahwa suaminya adalah sorang atlit dan sangat kuat. Maka kisya sebisa mungkin mengimbangi kegiatan sang suami. Kisya menyentuh perutnya. Dia ingin segera menandung dan memiliki seorang bayi perempuan.


Khayalanya sangat tinggi jika mengangkut soal kehamilan dan persalinan. Rasa ingin nya sangat kuat. Karena dia melihat Lintang melahirkan, jadi Kisya merasa sangat iri dan ingin mengandung juga.


"Semoga saja kamu cepat hadir di perut Mommy ya nak, Mommy dan Daddy pasti akan menyambutmu dengan bahagia!" Ucap Kisya memejamkan matanya sambil mengelus lembut perutnya. Jino melihat kejadian itu. Jino menyadari bahwa Kisya begitu ingin mengandung bayi. Jino duduk di samping sang istri dan ikut mengelus lembut perut Kisya.

__ADS_1


"Bayi kita kelak pasti akan sangat cantik seperti kamu sayang!" Jino berbisik lembut. Kisya tersenyum manis. Dia merasa senang Jino tidak berniat menunda kehamilanya lagi. Karena Kisya sudah tidak sabar menantikan hal itu.


🌺 Bersambung 🌺


__ADS_2