Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
F i r a s a t


__ADS_3

Korea selatan, Jeju island.


"Kenapa pagi-pagi sudah cantik seperti ini. Emangnya kita mau ke mana?" Tanya Jino Kepada Kisya, dia sungguh heran tumben sekali istrinya itu berdandan begitu cantik di pagi hari.


"Aku ingin beli oleh-oleh, tapi ingin membelinya di pasar tradisional, apakah Daddy mau menemani Mommy?" Ucap Kisya dengan senyum yang merekah. Senyum yang sangat indah membuat Jino tak sanggup untuk berkata-kata.


"Sayang bisakah kita seharian di kamar saja, rasanya sangat enggan untuk keluar kamar," Jino mengatakan itu kepada Kisya, sambil langsung memeluk tubuh Kisya dan mendekapnya erat dari belakang.


"Apa maksudnya, apa kita mau menghabiskan waktu seharian di kamar saja, padahal Mom sudah berencana dan ingin memberikan beberapa baju untuk Baby Vano, kita kan belum beli oleh-oleh dari pulau Jeju, sedangkan dari tempat lain kita sudah beli," jawab Kisya dengan senyuman manisnya, dia benar-benar ingin pergi keluar pagi itu. Namun entah kenapa rasanya enggan untuk pergi ke luar Hotel.


"Kita di sini saja Mom, Daddy benar-benar jadi tidak mau kemana-mana, rasanya Daddy hanya ingin memeluk Mommy saja seharian," Jino Memeluk Kisya dengan begitu posesif. Dia pun melakukan pelukan itu begitu erat, namun begitu nyaman di rasakan oleh sang istri.


"Ayolah Dad kita jalan-jalan sebentar saja. Setelah itu kita kembali ke kamar dan Daddy boleh melakukan apapun yang Daddy mau," wanita itu tersenyum begitu manis membuat pria itu tidak henti melakukan pelukan dengan begitu romantis serta memberikan beberapa ciuman yang manis.


"Tinggalah disini yang, Daddy mohon, hati Daddy cemas entah kenapa," bujuk Jino Kepada Kisya, namun ia menggelengkan kepalanya, dia bersikukuh ingin pergi ke pasar itu, sebuah pasar tradisional yang ada di pulau Jeju.


"Kalau Daddy tidak mau Mom saja yang pergi sendiri," jawab Kisya dengan senyumannya.

__ADS_1


"Tidak bisa, tidak boleh pergi sendiri, kenapa Mommy sekarang menjadi nakal, membantah semua ucapan Daddy. Daddy mau mandi dulu, kita berangkat sebentar lagi ya!" Ucap Jino sambil melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri, lalu Jino pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sang istri melihat tingkah suaminya yang aneh, saat itu. Tidak biasanya Jino hanya ingin tinggal di kamar saja, padahal biasanya dia sangat senang kalau bepergian, tapi kali ini dia bahkan terlihat begitu malas keluar kamar. Tidak butuh waktu yang lama Jino akhirnya keluar dari kamar mandi, dia sudah terlihat tampan dengan kaos putih dan celana pendeknya.


Tidak henti wanita itu menatap pria yang di hadapannya, seorang pria tampan yang sangat dia cintai, yang kini telah menjadi bagian dari hidupnya. Entah kenapa rasa sayang Kisya begitu memuncak kepada Jino. Kisya tidak sanggup untuk kehilangan Jino. Bahkan untuk sedetikpun. Wanita itu benar-benar mencintai suaminya, sangat dalam. Dan pula sebaliknya Jiino juga begitu mencintai Kisya mereka berdua saling mencintai untuk saat ini.


"Sudah siap Dad, ayo kita pergi!" Ajak Kisya kepada Jino. Dan Jino pun mengangguk. Sebenarnya Jino Sangat malas untuk pergi ke luar kamar. Karena semalaman bahkan dia begitu cemas dengan mimpi yang dia rasakan, kecemasan yang teramat sangat kini telah menghantui dirinya. Bahkan dia tidak bisa tidur semalaman karena itu.


Akhirnya mereka berdua berjalan kaki dari hotel menuju ke pasar tradisional, di pulau Jeju. Mereka memang sengaja berjalan kaki. Karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari hotel yang mereka tempati. Kisya sangat ingin jalan-jalan ke pasar tradisional itu. Dan akhirnya mereka kini telah sampai di pasar tradisional yang sangat Kisya ingin datangi.


Tidak beda jauh dengan pasar tradisional yang ada di negaranya. Tetapi dia hanya ingin memiliki pengalaman yang baru belanja di pasar tradisional di Korea Selatan. Suasana Pasar yang begitu ramai membuat Jino dan Kisya begitu kelelahan dan berkeringat.


Dan juga beberapa mainan untuk Baby Vano. Seminggu lebih Jino dan Kisya di Korea dia bahkan sangat merindukan buah hati kesayangannya. Baby Vano memang selalu menjadi favoritnya. Setiap hari wanita itu memandangi foto bayi kesayangannya.


Walaupun memang Kisya berharap bisa segera mengandung buah hati mereka, yang kedua. Tetapi rasa sayang Kisya kepada Baby Vano tidak akan hilang dengan kehadiran Baby kedua.


"Sayang aku mau makan ice cream dong beliin aku ice cream," ucap Kisya sambil tersenyum kepada Jino. Jino pun membalas senyuman sang istri, dan melepaskan genggaman tangannya, lalu Jino menerangkan Kisya agar duduk di tempat mereka duduk sekarang. Jino akan segera pergi membelikan Kisya sebuah ice cream yang segar.

__ADS_1


"Pokoknya enggak boleh kemana-mana tunggu di sini, Ok!" Ucap Jino dengan senyumannya. Kisya terkekeh melihat suaminya yang ketakutan seperti itu. Seolah-olah Kisya adalah anak kecil yang akan menghilang dan tersesat padahal jarak dari tempat duduknya ke tukang ice cream hanya berjarak 5 langkah saja. Itu membuat Kisya geli karena Jino terlalu over protektif kali ini.


"Ya ampun Dad, Mommy kan bukan anak kecil, Dad," wanita itu terkekeh melihat tingkah laku sang suami yang seperti itu. Sedangkan Jino masih saja merasa ketakutan karena mimpinya tersebut.


"Diem ya diem!" Sekali lagi Jino menunjuk tangan ke arah Kisya dan memberikan perintah pada wanita itu, agar tetap diam di tempat dan Kisya hanya terkekeh.


Jino lalu membeli ice cream yang Kisya mau, Setelah itu terlihat Jino memilih beberapa topping untuk ice cream-nya. Sedangkan Kisya sendiri masih asik dengan ponsel yang dia pegang. Tiba-tiba saja ponselnya diambil oleh seseorang. Kisya begitu terkejut Kisya langsung berlari mengejar orang itu orang itu. dia adalah seorang pencopet, atau seorang jambret.


Tanpa berpikir panjang Kisya terus mengejar orang itu sampai di suatu tempat yang sepi, yaitu sebuah gang. Gang kecil di pinggir pasar yang benar-benar sepi, tak ada satu orang pun di sana. Kisya baru tersadar bahwa dia sudah terpisah jauh dari Jino, tiba-tiba saja banyak pria yang sudah mengelilinginya.


Kisya terkejut dan tersentak melihat ada 6 orang pria yang sedang mengelilingi dirinya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Kisya benar-benar merasa ketakutan. pria-pria itu bertubuh tegap dan besar. Mereka menggunakan tato di sekujur tubuh mereka. Sudah di pastikan bahwa mereka itu preman di sana.


"Dalkomhan agassi, dahaenghido ulineun cheongug-e dangsin-eul dongban hal su issseubnida."


(nona manis, beruntunglah ada kami, kami bisa menemanimu ke surga).

__ADS_1


"Ka kalian bicara apa?" Tubuh Kisya tiba-tiba dingin dan menggigil. Dia begitu ketakutan dengan pria-pria yang sekarang sedang mengelilinginya, dia benar-benar menyesal telah mengikuti penjambret itu ternyata penjambret itu telah memiliki banyak teman untuk menjebak Kisya.


😭😭😭😭😭apa yang akan terjadi pada kisya?


__ADS_2