
Sore yang panas. lagi-lagi gadis itu melempar semua barang yang ada di dalam rumahnya. Dia sungguh kesal dengan apa yang terjadi. Dia kesal melihat Kisya begitu mesra dengan suaminya Jino. Ingin sekali dia membuat Jino dan Kisya berpisah. Namun dia masih belum bisa melakukanya. Dia akan segera menyusun rencana baru.
Lalu Rania menelepon seseorang dan janjian dengan orang itu. Mereka janjian bertemu pada malam ini di sebuah resto ternama. Rania bertemu dengan seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam. Pria itu berpostur tinggi dan besar. Entah apa yang akan Rania perbuat kali ini. Tetapi yakin bahwa Ardi sediri sudah sangat pusing untuk selalu melindungi adiknya.
Setelah berbincang lama dengan pria tersebut. Akhirnya Rania pergi terlebih dahulu meninggalkan pria itu. Rania pulang ke mansionnya. Dia melihat ternyata Ardika sudah menunggunya sedari tadi. Rania masuk ke dalam rumah dah tidak menyapa kakaknya sedikitpun. Alhirnya Ardi menarik tangan sang adik. Saat Rania hendak naik kentangga.
"Dari mana?" Ucap Ardi sambil menarik tangan rania dengan kasar.
"Hei, ini sakit, kemu keterlaluan ya!" Rania berkata lantang.
"Duduk sini!" Ardika membawa Rania duduk di sofa terdekat.
"Kenapa kamu tadi mengamuk lagi?" Tanya Ardika.
"Mengamuk apa, siapa yang mengatakan?" Bentak Rania lantang.
"Sudahlah aku tahu semuanya, Rania ayo kita ke rumah sakit, kamu harus diobati, kamu sakit dek!" Ucap Ardi.
"Aku tidak sakit kak, aku tidak sakit!" Ucap Rania.
"Kamu sakit dek, mentalmu sakit dan kamu harus berobat, ayo ikut kakak sekarang juga!" Ucap Ardi.
__ADS_1
"Tidak, siapa yang mentalnya sakit, aku tidak sakit apapun, jangan macam-macam ya padaku!" Bentak Rania terhadap Ardi.
"Aku mohon dek, sebagai kakak, aku ingin kamu segera sembuh seperti sedia kala !" Ardi mulai merendahkam suaranya.
"Aku tidak sakit Ardika, aku tidak akan ke rumah salit, camkan itu!" ucap Rania sambil menepis tangan Ardika dengan kasar. Lalu dia berkari naik menelusuri anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dengan segera gadis itu mengunci kamarnya. Karena takut Ardika masuk ke dalam kamarnya.
Ardika terdiam. Dia hanya bisa menghela nafas dengan sembarang. Dia merasa kalut. Entah bagaimana merayu adiknya supaya mau ikut dengannya berobat ke rumah sakit. Tetapi Rania sama sekali tidak mau berangkat bersamanya.
🌺🌺🌺
Pagi itu Jino terbangun lebih awal. Dia melihat sang istri masih tergidur dengan lelap. Jino lalu mencuci mukanya dan kembali tiduran lagi di kasur. Hari ini dia berniat ingin bermalas malasan karena libur. Dia mengambil laptopnya dan membuka beberapa gambar menarik.
Sepertinya Jino hendak berangkat ke suatu tempat. Kisya yang masih tidur dengan lelap sengaja tidak Jino bangunkan. Jino merasa kasihan melihat istrinya kelelahan karena sudah melayaninya semalaman. Karena itu dia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Kisya. Dia terus mencari dan mencari. Entah apa yang Jino cari di google.
Selama ini Kisya memang tidak pernah banyak permintaan. Boleh di bilang Kisya tidak pernah meminta apapun kepada Jino. Dia merupakan istri yang sangat baik dan tidak lebih pernah rewel dan menghabiskan uang suaminya. Padahal Jino sudah memberi Kisya sebuah kartu ATM dengan isi yang begitu gendut.
Karena itu Kisya pada dasarnya memang jarang suka berpoya-poya. Dia hanya membeli kebutuhan yang dia butuhkan saja. Perihal barang bermerek lainya. Paling sesekali saja dia beli itupun kalau Lintang mau mengenakan barang yang sama dengan dirinya. Kisya selalu bersikap sewajarnya. Tidak pernah berlebihan.
9 bulan menikah dengan Kisya, Jino bahkan sudah mengenal Kisya dengan sangat baik. Jino pun merasa sangat menyesal karena belum bisa menghadiahkan sebuah perjalanan bulan madu untuk Kisya. Karena Jino begitu sibuk dan perusahaan belum bisa dia tinggalkan. Jino sungguh menyesalkan hal itu.
Dia sudah berniat ingin berbulan madu ke Korea. Namun masih belum juga terlaksana. Maklumlah Jino eksekutif muda yang sangat sibuk. Sehingga dia belum bisa mengatur waktunya untuk bisa berangkat berbulan madu bersama sang istri tercinta. Rencana tinggal rencana. Sama sekali belum terealisasi.
__ADS_1
Karena itu mungkin Jino hanya bisa memberikan Kisya beberapa perhiasan berlian sebagai hadiah. Harusnya Kisya bisa mendapatkan lebih dari itu. Dan jika Kisya meminta, bahkan Jino akan segera memberikanya. Tetapi wanita itu tidak pernah meminta apapun kedanya. Jino begitu salut kepada sang istri.
Padahal istrinya termasuk keluarga yang kaya raya. Walau sempat goyang dan hampir bangkrut karena Ayahnya meninggal. Tetapi Kisya tidak pernah melakukan hal yang aneh atau boros. Malah Kisya lebih senang berbagi kepada anak-anak di panti asuhan, ketimbang mengabiskan uang ratusan juta hanya untuk sebuah tas bermerek.
Akhirnya kini Jino sudah jatuh hati kepada kalung berlian bermata hijau itu. Kisya pasti akan sangat cantik jika mengenakan kalung itu. Membayangkannya saja sudah membuat pria itu senyum-senyum sendiri. Jino melihat istrinya melenguh. Kisya perlahan membuka matanya. Dia terlihat berat untuk membuka kedua kelopak matanya.
Dengan segera Jino menutup laptopnya. Dia tidak mau Kisya melihat kalung berlian yang sedang dia rencanakan.
"Morning sayang." Ucap Jino dengan senyuman manisnya, lalu dia mengecup kening sang istri dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.
"Dad, udah bangun." Kisya mengucek kedua matanya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan sangat lelah. Beberapa jam pada malam hari Kisya terus melayani sang suami dengan pasrah. Dan Jino memang selalu membuat Kisya merasakan kasih sayang yang penuh. Jino tidak mau Kisya merasa kekurangan kasih sayang. Karena itu setiap malam Jino selalu mencurahkan seluruh cintanya kepada sang istri.
Bukan hanya karena kebutuhan biologisnya saja. Akan tetapi itu supaya sang istri kekenyangan dan tidak berniat untuk berselingkuh dengan pria manapun. Karena Jino sudah tangguh dan kuat. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran pria berusia dua puluh lima tahun itu.
Dia akan memenuhi kebutuhan lahir dan batin sang istri. Dengan sepenuh hati. Sehingga istrinya tidak akan kekurangan apapun.
"Ayo bangun sayang, kita berenang!" Ucap Jino sambil mengecup kening Kisya untuk kedua kali. Hari ini memang Jino berencana untuk berenang. Tetapi berenang di kolam renang rumahnya saja. Dia berniat untuk mengajari Baby Vano berenang dan sekedar bermain air dengan sang istri yang cantik. Sudah lama juga dia tidak berenang. Walaupun sekedar berenang di dalam rumahnya.
🌺 Bersambung 🌺
Wah manis kan.🤭🤭😘 ini kalung yang akan di beli Jino di pelelangan. Sebagai hadiah untuk Kisya.
__ADS_1