
"Apa? Jadi ini semua adalah permainan Bunda dan semuanya?" Kisya meneteskan air matanya. Wanita itu lalu menangis dengan tersedu.
"Iya Sayang, ini rencana suami kamu Jino sih, Bunda dan yang lain hanya membantu saja," kata bunda Nisya dengan senyuman manisnya.
"Sayang, happy anniversary ya, maafkan Daddy karena sudah membuat Mommy sedih," kata Jino sambil mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
Kisya memejamkan matanya. Tangisnya terdengar begitu nyaring. Tetapi tiba-tiba saja dia memegang kepalanya. Dan wanita itu merasakan kepalanya berdenyut begitu kencang, rasa sakit tak bisa dia tahan lagi. Pandangan matanya kabur, tubuhnya lemas seketika. Akhirnya kakinya tak sanggup lagi untuk bertumpu.
Wanita itu lemas dan pingsan. Kisya hampir terjatuh. Beruntunglah Jino dengan sigap memeluk tubuh sang istri.
"Sayang, Sayang, apa ini, ya Tuhan!" teriak Jino dengan suara yang begitu lantang. Karena dia terkejut dan sangat takut terjadi sesuatu hal kepada sang istri.
"Kikis!" jerit bunda Nisya dengan mata yang membulat. Lalu bunda Nisya hendak memeluk Kisya.
"Bunda nanti saja meluknya, biar kak Jino membawa Kisya ke sofa terlebih dahulu," kata Lintang mencoba memeluk bunda Nisya.
"Ada apa dengan Kisya?" Mama Murni menitikan air matanya. Sedang bunda Nisya terus menangis. Semua yang ada di sana terkejut dengan pingsannya Kisya. Semua ikut meneteskan air matanya, karena sedih melihat Jino menangis sambil memeluk istri tercintanya.
Kini Jino sudah merebahkan tubuh sang istri di sopa di aula tersebut. Semua orang sudah sangat cemas dan panik.
"Tolong panggilkan Dokter dengan segera tolong-tolong!" Jino berteriak dengan sekuat tenaga sambil memeluk istrinya, sesekali pria itu pun mengecup kening sang istri dan mengecup punggung tangan sang istri, dia terus menangis karena tidak tahan melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya seperti itu.
__ADS_1
"Baik-baik Papa akan segera menelepon Dokter," kata Papa Geovandra.
"Ya ampun Kikis. Kamu kenapa sih kamu membuat bunda begitu cemas,"
tangis bunda Nisya tak terelakan lagi, sebagai seorang ibu dia benar-benar merasa sakit hati tentang apa yang terjadi sama putrinya, beribu pertanyaan berada di benaknya. Kenapa putrinya bisa sampai pingsan seperti itu.
"Kak Jino, ini coba oleskan kayu putih ini ke hidung Kikis," kata Lintang dengan mata yang berkaca-kaca. Jino pun mengambil kayu putih tersebut dengan tangannya yang bergetar.
"Ini memang sebuah kejutan untuk Kisya, tetapi aku tidak menyangka kejutan kita malah membuat Kisya sakit seperti ini, aku jadi menyesal," kata Lintang dengan tangisannya yang melirih.
"Sudahlah toh semua sudah terjadi, yang penting sekarang kita bangunkan Kikis dulu," kata Mama Murni sambil menatap Kisya dengan penuh iba.
Dengan perlahan Jino mengoleskan minyak kayu putih tersebut ke hidung Kisya. Agar Kikis bisa cepat siuman dari pingsannya tersebut.
"Jangan," kata Kisya dengan suara yang begitu lemah, wanita itu terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya.
"Sayang. Ya Tuhan syukurlah, Sayang kamu tidak apa-apa kan? Jangan membuat aku cemas, Sayang," kata Jino sambil merengkuh tubuh sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah Kikis, kamu tidak apa-apa, Nak? Apa asa yang sakit, tunggu sebentar lagi Dokter akan datang," kata bunda Nisya dengan mata yang basah, karena air matanya terus menetes tanpa henti. Wanita itu sangat ketakutan, dia takut terjadi sesuatu hal kepada putrinya, dia tidak mau lagi merasakan kehilangan setelah dia kehilangan putra bungsunya.
"Jangan Bunda. Kikis tidak apa-apa. Jangan panggil Dokter," pinta Kisya kepada sang Bunda. Sambil menatap bundanya dengan mata yang sendu.
__ADS_1
"Tidak bisa Sayang, kamu harus segera diperiksa, kamu sudah membuat aku begitu ketakutan. Mom Sayang, jangan lagi membuat Daddy takut seperti ini," kaya Jino dengan kesedihannya.
"Sayang, jangan panggil Dokter, aku baik-baik aja, aku sudah ke Rumah Sakit tadi pagi, Dokter mengatakan aku terlalu stress dan kecapean, kejutan yang sudah direncanakan oleh semuanya membuat aku tambah stres," kata Kisya dengan tetesan air matanya.
"Sayang maafkan aku. Sayang ini semua gara-gara aku. Kamu tampak begitu stres, aku sungguh benar-benar tidak berselingkuh. Dan ini semua tadinya untuk membuat kamu bahagia, kalau saja aku tahu bahwa kamu akan sakit seperti ini, tidak akan aku buat pesta kejutan yang membuat kamu stres," kata Jino sambil mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut.
"Kamu sakit apa Kikis? Apa kata Dokter? Kenapa kamu diperiksa sendirian?" tanya bunda Nisya dengan kecemasannya, wanita paruh baya itu sangat takut putrinya terkena sebuah penyakit yang mematikan.
"Bunda, hasil pemeriksaan ada di tas. Tolong berikan itu kepadaku," pinta Kisya dengan suara yang begitu rendah.
Dengan segera Bunda Nisya membuka tas milik Kisya, ternyata di dalam itu ada sebuah amplop.
"Ini Kiss, amplopnya," kata bunda Nisya sambil menyodorkan amplop tersebut kepada Kisya.
"Kamu sakit apa, Sayang?" tanya Jino sambil menitikan air matanya, gurat cemas terlihat di wajah pria tampan tersebut, takut dan teramat ketakutan, takut terjadi sesuatu kepada sang istri, kalau saja istrinya terkena sakit yang parah, atau penyakit yang berbahaya, maka dia tidak akan bisa tidur dengan tenang.
"Sayang, kamu telah berhasil membuat aku terkejut. Lintang kamu jahat sudah membuat aku mencurigai persahabatan kita, tetapi terimakasih untuk pesta ini, sekarang. Daddy ... ini hasil pemeriksaan, Dokter," kata Kisya sambil menyodorkan amplop tersebut kepada Jino dengan tubuh yang bergetar pria itu mengambil amplop tersebut.
Rasa takut telat berselubung di dalam otaknya, tubuhnya seolah-olah kaku dan beku, mulutnya pun bergetar menahan tangis, dia cemas apa sebenarnya isi dalam amplop tersebut.
"A-apa ini?" tanya Jino dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
"Buka saja, Sayang," jawab Kisya kepada sang suami.
"Ba-baiklah." Dengan perlahan akhirnya Jino membuka amplop tersebut. Alangkah terkejutnya Jino tatkala melihat isi amplop itu. Ada sebuah kertas berisi diagnosis Dokter tentang hasil pemeriksaan sang istri. tubuhnya bergetar hebat dan dia pun menangis memeluk sang istrinya, tidak percaya dengan apa yang telah dia baca barusan.