
Jeff masih sibuk dengan laptopnya. Dia terlihat lelah karena terus bekerja. Pikiranya menerawang jauh ketika menadapat pesan singkat dari Rania. Rania meminta Jeff untuk bersama dengannya lagi malam ini. Jeff merasa sangat kesal terhadap dia. Gadis itu terlalu nekad dan dia tidak suka. Siang itu Rania terus menelepon Jeff namun Jeff tidak mengangkat telepon sama sekali .
"Kalau kakak tidak datang, aku akan Mengirimkan semua Poto kak Jino dan Kisya pada wartawan." Rania mengancam Jeff dalam sebuah pesan singkat. Membuat kepala Jeff semakin berdenyut kencang. Kejadian tadi malam pun masih belum dia ingat sama sekali . Dan sekarang Rania meminta Jeff untuk menemuinya lagi.
Hati Jeff yang bergemuruh. Membuat dia tak bisa fokus dalam bekerja. Dia sudah tidak makan semenjak pagi.
Siang itu Mama Murni mengirim pesan singkat agar Jeff segera ke butik untuk mencoba baju pengantin. Jeff tersenyum manis ketika membaca pesan singkat dan sang mama. Jeff bergegas pergi menuju ke butik yang telah di tentukan.
Jeff berkendara begitu kencang karena ingin segera menemui Kisya di butik. Secepat kilat Jeff sudah sampai di depan butik. Jeff membuat pintu mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam butik. Jeff di sambut Dengan senyum manis sang mama.
"Mana Kikis, Ma?" Jeff sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kisya. Dia melihat kekiri dan kekanan untuk mencari keberadaan kekasih hatinya. Entah kenapa dua hari tidak bertemu membuatnya begitu rindu. Setumpuk rindu yang kini sudah berada di dadanya terbayar sudah ketika pintu ruang ganti terbuka. Sesosok cantik layaknya bidadari keluar dari ruang ganti pakaian dengan menggunakan sebuah gaun pengantin yang begitu cantik.
Jeff terpana dibuatnya. Kisya begitu cantik menggunakan gaun pengantin itu. Jeff tersenyum puas melihat betapa Kisya seperti rembulan yang bersinar terang. Dia merasa sangat beruntung bisa menjadi suami dari wanita secantik Kisya . Kisya menatap Jeff tanpa senyum. Mereka saling bertatapan. Tatapan Jeff adalah tatapan kasih sayang penuh cinta. Sedang tatapan Kisya adalah tatapan kegundahan .
"Cantik sekali." Jeff berkata dengan terkesima. Kisya tersenyum tipis.
"Terimakasih!"
__ADS_1
"Yatuhan gaun itu sangat cocok, kamu cantik sekali sayang." Mama murni begitu takjup melihat kecantikan sang putri menantu.
"Terimakasih Ma!" Kisya tersenyum tipis. Dia merasakan bibirnya begitu kaku. Bahkan untuk tersenyum rasanya sangat sulit. rasanya dia tak tau harus bagaimana. Apakah dia harus bahagia. Atau kah harus merasa kecewa dengan kenyataan. Kini pikiran Kisya entah seperti apa. Dia sendiri tidak bisa merasakan bahagia sama sekali. Tatapan mata selalu kosong. Dan tidak bergairah sama sekali.
"Gaun ini gaun terindah yang ada di butik ini." Ucap mama murni dengan tatapan penuh kasih sayang. Kisya terdiam tanpa bicara sepatah kata pun. Lalu sekarang giliran Jeff untuk mencoba tuxedonya. Jeff terlihat tampan dengan tuxedo berwarna putih. Dan sangat cocok bersanding dengan Kisya. Mama Murni menatap Jeff dan Kisya dengan tatapan senang penuh kasih sayang.
"Ya Tuhan, anak Mama sangat tampan." Mama Murni sangat terkesima. Kisya sesaat menatap Jeff dan tersenyum tipis. Jeff terlihat sangat tampan namun sayang untuk saat ini Kisya tidak memiliki getaran yang sama seperti dahulu kala. Entah kenapa yang ada di pikiran Kisya saat ini hanya Jino saja. Kisya sudah mencoba untuk melupakan. Tetapi dia belum bisa untuk sepenuhnya melupakan Jino.
Setelah mereka mengenakan pakaian pengantin. Maka mereka bersiap untuk berpoto. Kini Jeff dan Kisya sudah siap untuk berpoto. Beberapa gambar diambil dengan sempurna. Rasa lelah mulai menjalar di tubuh Kisya. Mamun sama sekali rasa lapar tidak hinggap di perutnya.
Mereka berganti baju lalu langsung pergi ke sebuah resto untuk makan siang. Sesampainya di sebuah resto. Jeff, Kisya dan mama segera turun dari mobil dan memilih meja yang nyaman. Mereka kini duduk di meja dekat kaca. Mama memilih beberapa menu kesukaan Jeff dan Kisya. Tiba-tiba saja seseorang datang.
"Permisi Kis, kak Jeff, Tante." Ucap seseorang dan langsung duduk di kursi yang kosong.
Jeff merasa terkejut Rania bisa nekad duduk satu meja bersama dengan dia dan keluarnya.
"Hai Ran, Kisya membalas sapaan Rania dengan sedikit senyum. Jeff diam dengan wajah kesal. Jeff sama sekali tidak mau menyapa Rania sama sekali.
"Apa gadis cantik ini teman mu sayang?" Mami Murni tersenyum manis sambil menatap Rania dengan hangat. Rania begitu bahagia mendapat sambutan dari Mama Murni.
__ADS_1
"Iya Ma, dia teman sekolah menengahku, kenalkan Ma, dia Rania ." Ucap Kisya.
"Hallo Tante, saya Rania teman sekelasnya Kisya ." Rania menyodorkan tangannya sambil tersenyum dengan manis. Lalu Mama Murni dengan senang hati menyambut tangan Rania. Mereka berkenalan saling berjabat tangan. Sedang Jeff masih dalam suasana dingin memendam seluruh kekesalan dalam hatinya . Rania sesekali mencuri pandang menatap sang pria pujaan hati yang sudah membuat dia tergila-gila.
"Kamu dari mana Ran?" Kisya bertanya dengan menatap Rania. "Aku menunggu teman , tetapi dia tidak kunjung datang, ehm Kis, Tante , kak Jeff boleh kan aku duduk dan makan bersama kalian? Sepertinya temanku tidak jadi datang, sangat tidak nyaman duduk sendirian ."
Ucap Rania menebarkan senyuman manisnya.
"Boleh saja." Ucap Kisya datar. Kisya sedikit malas dengan Rania tetapi dia tidak tega membiarkan Rania duduk sendirian.
"Boleh, duduk saja bersama kami, jarang-jarang kan kita makan bersama." Mama murni tersenyum manis.
"Makasi Tante, Kis, Rania tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Dia terlihat sangat senang di buatnya. Dia sangat ingin dekat dengan Mama Murni. Karena itu dia sengaja mendekatkan diri. Jeff masih mematung dan memainkan ponselnya. Jeff tak menatap Rania sama sekali. Rania lalu memesan makananya. Mereka berbincang cukup asik, Rania dan Mama Murni. Sedang Kisya hanya terdiam dengan wajah yang pucat.
Jeff sendiri seolah tak perduli dengan kehadiran Rania. Dia begitu kesal terhadap gadis itu. Namun apalah daya, tak mungkin dia mengusir gadis itu begitu saja. Pasti Mama dan Kisya akan sangat curiga.
Bersambung❤️
Gambar ini cocoknya jadi siapa ya?
__ADS_1
wajahnya cantik tapi penuh kesedihan.