Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Kepingan Ingatan


__ADS_3

Pria itu mencoba memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang, melihat istrinya begitu mengigil karena ketakutan.


"Tenanglah sayang, mereka sudah aku bereskan, tidak usah takut lagi, ada aku di sampingmu tidak akan ada yang berbuat jahat padamu lagi," tutur Jino sambil memeluk sang istri dan mengecupnya penuh dengan kasih sayang.


Gadis itu masih menggigil ketakutan dia tidak bisa menstabilkan degupan jantungnya.


"Aahhhhhh... Kepalaku Sakit huhuu... ," Wanita itu menjerit dengan tangisannya begitu nyaring. Jino begitu terkejut melihat istrinya istri seperti itu. Dengan segera dia mendekap erat tubuh sang kekasih membelainya dengan penuh kasih sayang, serta memberikan kecupan yang hangat untuk menenangkannya.


"Tenanglah sayang, tenang. Apanya yang sakit? kepalanya sakit, iya?" Jino mencoba berkomunikasi dengan sang istri. Dia benar-benar merasakan kekhawatiran yang begitu dalam melihat istrinya seperti itu.


"Sakit, sangat sakit, kepalaku sakit, hatiku juga sakit, semuanya sangat menyakitkan, aku benci, aku benci semua ini, kenapa ini harus terjadi kepadaku, kenapa?" Wanita itu menatap wajah Jino dengan sangat sendu.


Air mata berjatuhan dengan begitu deras. Wanita itu memperlihatkan wajah kesakitannya, membuat Jino sungguh tidak tahan karena tidak tega. Jino pun meneteskan air matanya karena sangat kasihan kepada sang istri.


"Tenanglah sayang, ada aku, aku akan selalu melindungimu, lupakan semuanya ya!" Tutur Jino dengan mesra, mencoba untuk menenangkan istri tercintanya.


"Sakit, sakit.. ," wanita itu kembali menjerit kesakitan, merasakan rasa sakit yang amat sangat. Jino sangat kuatir melihat sikap sang istri seperti itu.


Pria itu lalu memunguti pakaian yang ada di sekelilingnya, lalu mencoba memakaikannya kepada sang istri. Tetapi tiba-tiba istrinya mendorong Jino dengan sangat kencang. Sehingga pria itu terjatuh.


"Sayang, ada apa?" Tanya Jino dengan rasa terkejutnya. Karena sang istri tiba-tiba saja mendorong tubuhnya begitu kencang.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku. Aku tidak mau kamu menyentuhku, hiks hiks hiks," wanita itu berkata dengan tangisan yang sangat meledak. Air mata sudah ber Uraikan tak bisa lagi terbendung. Tatapan mata yang begitu menyedihkan kini terfokus kepada Jino yang sedang terkejut melihat sikap istri.


"Sayang ini aku, suamimu. Ini aku Jino, Georjino!" Jino meyakinkan kepada istrinya, bahwa dia itu adalah suaminya, bukan orang lain. Jino yakin bahwa Kisya kembali defresi seperti dahulu kala, karena ketakutan yang dia dera.


"Kalian sama saja, kalian sama-sama bejadnya, kalian tidak ada bedanya, kalian hanya menginginkan tubuhku, kalian benar-benar binatang! Aku benci kalian. Aku benci kalian huhuhu!" wanita itu menjerit dengan sangat nyaring membuat Jino tersentak. Apa yang sudah di katakan oleh Kisya barusan membuat Jino merasa sangat tersakiti. Apakah kisya sudah mengingat kembali ingatannya.


"Sayang kamu mengenalku? Ini aku suamimu, orang yang sangat mencintaimu!" Sekali lagi Jino meyakinkan kisya bahwa dia adalah orang yang sangat mencintai Kisya. Namun kisya menatap Jino dengan tangisan yang memilukan, tanpa menjawab sepatah kata pun.


Wanita itu masih menangis dengan getaran yang begitu hebat. Tubuhnya masih belum mengenakan pakaian. Dia masih memeluk tubuhnya dengan begitu erat, dengan kemeja yang di kenakan oleh sang suami pada punggungnya.


"Sayang ayo kita pulang. Ayo kita pulang sekarang!" bujuk Jino kepada sang istri, Jino berharap istrinya mau mengikuti semua kata-katanya. Jino yang kini mencoba membantu kisya untuk memakai pakaiannya. Namun kisya lagi-lagi kembali mendorong Jino dengan sangat kencang.


Jino kembali tersentak, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.


Helaan nafas berat Jino lontarkan saat itu. Ketika melihat sang istri begitu terpuruk karena keadaan ini. Dia menyesali perbuatannya karena tidak menjaga sang istri dengan baik. Pria itu merasa sangat berdosa dan bersalah karena membiarkan istrinya menderita seperti itu.


Andai saja dia bisa menjaga Kisya dengan baik, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Dan mungkin dia tidak akan merasa terpuruk lagi, seperti kali ini. Pria itu menatap kisya dengan mata basahnya. Dia meneteskan air mata karena tak tahu harus berbuat seperti apa.


Kisya masih menangis meraung-raung, dia menyembunyikan wajahnya di balik lututnya. Tangannya masih memeluk erat kakinya. Menyembunyikan wajah yang penuh dengan duka. Tangisan Kisya sungguh sangat mengiris hati, membuat Jino sendiri tidak bisa menahan air matanya.


Wanita itu terlihat begitu defresi, menderita, terluka, dan benar-benar kesakitan.

__ADS_1


"Bunda, Bunda, Bunda aku mau Bunda!" Kembali Kisya menyerukan nama Bundanya. Dia menjerit dengan tangisan yang meledak, tidak tahu harus seperti apa lagi, karena yang kisya rasakan saat ini adalah sebuah kesakitan.


"Iya.. Ayo kita pulang, ayo kita temui bunda Nisha, sayang!" Kali ini Jino kembali menyentuh tangan Kisya dengan lembut. Tetapi Kisya menepis tangan Jino dengan sangat kasar.


"Jangan pernah sentuh tanganku, Jangan pernah sentuh apapun yang ada di tubuhku. Aku benci padamu!" Ucap Kisya menatap Jino dengan penuh kebencian. Mata itu berurai air mata dan penuh tatapan dendam.


Jino tersentak dengan apa yang Kisya ucapkan. Jino melihat Kisya dengan tatapan penuh kebencian untuknya. Bagaikan tersambar sebuah petir, Jino mendengar semua ucapan Kisya. Hatinya tercabik dan sangat sakit, dia baru menyadari bahwa mungkin kepingan ingatan Kisya kembali menyatu.


Kisya terus menangis, air matanya terus mengalir, dia menatap Jino dengan penuh amarah, dan rasa sakit. Jino benar-benar tidak tahan dengan sikap Kisya seperti itu, pria itu pun meneteskan air matanya.


"Sayang, kamu, kamu sudah mengingat semuanya?" Jino berkata dengan bibir yang bergetar, menahan tangis. Dia merasakan kesakitan di lubuk hatinya, dia benar-benar ketakutan karena istrinya pasti akan membencinya, jika mengingat semua kejadian yang terdahulu.


"Iya, aku sudah mengingat semuanya. Aku mengingat semua yang kamu lakukan padaku, semua perbuatanmu yang membuat aku tersakiti, membuat hidupku hancur, membuat hidupku tak berguna seperti sekantung sampah. Aku mengingat semua luka yang kurasakan saat itu, aku mengingat semua kesakitan yang ku rasakan pada saat itu, aku mengingatmu ketika kamu melakukan itu padaku, menyiksaku, membuat aku berteriak menahan rasa sakit yang kamu berikan pada ku, aku mengingat ketika kamu tertawa menertawakanku. Aku mengingat semua itu, semuanya tanpa terkecuali, sekarang yang tersisa hanyalah rasa benci, rasa sakit hati, aku sangat membencimu Jino, tolong pergilah tinggalkan aku. Biarkan aku sendiri!" Wanita itu menangis meraung-raung mengatakan semua isi hatinya, dia benar-benar mengingat semua kenangan buruknya di masa lalu.


Sedangkan Jino sendiri begitu terkejut mendengar semua ucapan sang istri. Apa yang ditakutkannya selama ini ternyata terwujud sudah. Istrinya telah mengingat semua perbuatan bejatnya di masa lalu. Kini kisya begitu membencinya. Akankah Jino bisa membujuk Kisya kembali?


Bersambung....


Oke kak sampai di sini kita lanjut besok ya.


Udah mau tamat😭😭😭😭. lihatlah hati Kisya sesakit ini.dia terpuruk sendirian.

__ADS_1



__ADS_2