
Jino lalu memeluk sang Mama. Lalu jino menatap Kisya yang masih menangis dalam pelukan Bunda Nisya. Bunda Nisya menangis dengan haru. Melihat Kisya menikah. Jino lalu menggendong Baby Vano dan memeluknya dengan lembut. Jino mengecup bayi kecilnya itu dengan gemas.
"Lihat, itu Mommy sayang!" Ucap Jino menunjukan ke arah Kikis. Baby Vano tersenyum lucu sambil menjerit girang. Kisya lalu menatap Baby Vano yang kini sudah menjadi anaknya.
Kisya melepaskan pelukan Bunda Nisya dan mengambil alih menggendong Baby Vano. Kini giliran Jino yang sungkem kepada Bunda Nisya.
"Bunda titip Kisya padamu Jino, jangan lukai dan sakiti Kikis walau seujung rambutpun, jika itu sampai terjadi maka Bunda akan mengambil Kisya kembali." Ucap Bunda Nisya sambil memeluk Jino dengan erat. air mata sang Bunda sangat deras, Bunda Nisya sungguh merasa sangat haru karena ini adalah hari bahagia Jino dan Kisya.
"Jino berjanji Bunda, Bunda harus percaya terhadap janji seorang Georjino." Jino memeluk sang Bunda dan kini mereka melepaskan pelukan mereka. setelah bersalaman kepada seluruh keluarga kini Jino dan Kisya diajak masuk ke dalam sebuah kamar untuk berganti baju. namun para wartawan keburu menyerbu akhirnya Jino dan Kisya memamerkan buku nikah mereka berdua dan berfoto. Jino dan Kisya tersenyum dengan manis mengiringi kebahagiaan mereka. rasa suka cita dan sebuah rasa cinta yang menggebu membuat wajah mereka terlihat gugup namun masih terlihat manis.
setelah selesai berfoto, dengan cepat mereka masuk ke dalam sebuah kamar untuk mengganti pakayan. Jino mulai membuka jaz putih yang dia kenakan. lalu membuka kemeja nya. kisya memalingkan wajahnya ketika melihat dada Jino terlihat. tanpa sadar Jino menangkap gerak gerik Kisya yang merasa malu. dengan segera Jino mengenakan sebuah tuxedo berwarna hitam. Jino lalu duduk di samping Kisya. Kisya lalu pindah duduk di depan cermin rias. penata rias satu persatu mencoba membantu Kisya membuka kebaya putihnya. hingga tersibak semua kain yang menutupi kulit putihnya. Jino menahan nafas dan segera menelan saliva. bukan pertama kali Jino melihat kemolekan tubuh Kisya. namun kali ini suasananya berbeda. kali ini status Kisya dalah istrinya. jadi Jino merasakan sesuatu saat Kisya mengganti baju di hadapan dirinya.
kini Kisya sudah mengenakan gaun pengantin yang sangat indah. dia terlihat begitu cantik. selalu tampil cantik dan itu membuat Jino berkali-kali mencuri pandang padanya. Kisya sudah menyandang nama David di belakang namanya. Jino sungguh bahagia karena akhinya dia bisa menjadi suami sahnya Kisya. dia mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah dia lakukan dan akan menebus semuanya dengan cinta dan kasih sayang sepanjang hidupnya. mereka sudah bersiap. Jino dan Kisya tampak seperti lukisan yang sangat indah dan menyilaukan untuk setiap mata yang memandang. mereka berdua sangat serasi. dan itu menjadi buah bibir tamu undangan.
mereka berjalan menuju kursi pelaminan yang sudah penuh dengan riasan bunga hidup yang sangat wangi. Jino dan Kisya kini bersanding di pelaminan . seseorang datang untuk memberikan selamat pada Jino. Dia adalah Rania. rania tersenyum saat memberikan ucapan selamat pada Jino dan Kisya. Namun dibalik senyum itu ada sebuah tatapan mata tidak senang. Rania seolah tidak senang dengan pernikahan mereka.
"Selamat!" Rania terseyum dengan manis. senyuman Rania seperti ular. tersimpan sebuah kebencian yang dalam ketika mengucapkan sebuah ucapan selamat tersebut.
"Terimakasih." Ucap Jino datar.
"kis, aku turut berbahagia ya." Rania menatap Kisya. Kisya tersenyum manis.
"terimakasih Rania, kamu datang sendiri?" Ucap Kisya basa basi.
" Iya betul, aku datang sendirian, Ayah dari bayiku sedang pergi ke luar negri." Rania berbohong.
"Apa, kamu sedang mengandung Ran?" kisya terkejut.
__ADS_1
"Iya, kami akan segera memiliki seorang bayi." Ucap Rania dengan senyuman manis sambil mengelus perutnya yang rata.
"Lantas kapan kamu menikah?" Kisya spontan bertanya soal pernikahan Rania.
"Jaman sekarang tidak perlu menikah untuk mendapatkan seorang bayi Kis, bukankah begitu kak Jino." Ucap Rania sambil menepuk tangan Jino. Jino terkejut dengan ucapan Rania. Jino langsung bisa menebak bahwa wanita ini tau tentang dirinya dan Kisya. Dia menebak bahwa wanita itu menyimpan sebuah rahasia yang besar. Jino menatap Rania dengan tajam.
"Wanita ini menyimpan maksud jahat terselubung." Ucap Jino dalam hatinya.
Rania masih tersenyum dengan tatapan manis menatap Jino. Jino lalu memalingkan wajahnya. dia tidak suka terlalu akrab dengan wanita asing. Jino kini memasang wajah datar tanpa ekresi. Kisya tersenyum dengan kebingunganya. dia tidak bisa mencerna ucapan Rania. dia begitu polos karena tidak mengerti perkataan temanya itu. Rania terlalu banyak bicara di depan pengantin. sehingga membuat antrian panjang bagi para tamu undangan yang ingin bersalaman dan mengucapkan ucapan selamat pada pengantin. Lintang melihat itu dari kejauhan. dengan segera Lintang berjalan mendekati kursi pelaminan.
Lintang datang dari sebelah kanan dan langsung menarik tangan Rania dengan senyuman yang dia buat.
"Aduh apan sih Lintang?" Rania mengeluh karena tangannya kesakitan ditarik oleh Lintang.
"Aduh Ran, kamu tidak lihat apa, kamu membuat antrian panjang, membuat para tamu lain pegal karena mengantri." Ucap Lintang kesal.
"Sebentar dari mananya Nona, uwh ya ampun aku bisa gila jika terus berbicara dengan kamu." Lintang sangat geram dibuatnya. lalu Lintang meninggalkan Rania dan berjalan menuju ke arah sang suami. dari kejauhan Boy sudah melihat bahwa istrinya sudah sangat kesal.
"Ada apa sayang?" Boy berkata sambil menarik Lintang untuk duduk di pangkuannya. Lintang duduk dipangkuan sang suami dengan wajah yang menekuk. lalu Lintang beranjak dan duduk di kursi di samping suaminya.
"Jangan memasang wajah cemberut seperti itu, terlihat sangat jelek!" Boy terkekeh. Lintang menatap Boy dan menghela nafas lalu mengeluarkanya sembarang.
"Ah aku hanya kesal saja." Lintang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Apa kita pulang saja?" Boy meremas jemari Lintang dengan lembut. dan Lintang menggeleng.
"Yasudah, ayo pasang senyuman manisnya, ini kan hari bahagia sahabat karibmu."
__ADS_1
"Iya ini adalah hari bahagianya kisya, tapi kenapa hatiku tidak bahagia?" Lintang kini menatap mata sang suami dengan tatapan pilu. Boy mengecup kening Lintang dengan lembut.
"Mereka saling mencintai, sepertinya kita juga harus belajar saling mencintai." Boy mengelus lembut rambut Lintang. dan Lintang hanya bisa terdiam mencerna semua perkataan sang suami. sepertinya memang benar dia harus secepatnya melupakan Jino dan memulai untuk membuka hati untuk suaminya. Lintang menatap pantulan wajah sang suamidengan intens. dia berusaha penuh untuk bisa jatuh cinta pada suaminya.
"Baiklah Boy, kita coba."
Besambung 🌺
coba gambar yg mana yg lebih cocok
gambar satu
gambar 2
gambar 3
gambar 4
gambar lima
__ADS_1