Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Sebuah rasa


__ADS_3

Jino menyentuh dengan lembut setiap luka yang ada pada siku Kisya. Jino memperhatikan dengan seksama.


Kini dia menatap mata kisya Dengan tatapan iba penuh rasa sayang.


"Kenapa bisa begini ?..


Ucap Jino pelan.


"Ini karena jatuh kak."


Kisya membalas tatapan mata Jino. Jino menelan Saliva dan bernafas sangat berat.


"Kenapa kamu sangat ceroboh ,kenapa bisa terjatuh ?..


Ucap Jino dengan tatapan mata sangat iba.


"Ini karena kakak."


Kisya mulai mengisak. Dan air matanya menetes secara tiba tiba.


"Apa?...


Jino terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Ia, ini karena kakak."


Kisya mengisak dan air matanya sudah keluar sangat banyak. Jino merasa sangat bingung dengan ucapan Kisya.


"Kenapa bisa karena aku?...


"Karena aku mengejar mobil kakak sampai aku terjatuh."


"Apa?..


"Kakak jahatin aku, kakak pergi tanpa tau aku ngejar mobil kakak, kakak jahat."


Isak tangis Kisya sangat melirih.


"Kis, kapan itu terjadi ?


Jino masih tidak mengerti.


Dia tidak tau kapan Kisya mengejarnya .

__ADS_1


"Saat kakak membawa pulang baby Vano dari rumah sakit."


Isak Kisya sangat lirih. Jino termenung menerawang jauh. Dia menatap mata Kisya yang basah. Wajahnya merah karena menangis. Jino melihat lagi luka di siku tangan Kisya dan melihat daerah lututnya juga. Jino menelan Saliva dengan sangat susah. Dia sungguh merasa menyesal telah membuat Kisya seperti ini.


Tangan Jino tanpa sadar telah menyentuh kulit pipi Kisya yang merah. Dengan halus menghapus air mata gadis yang kini telah menggetarkan hatinya. Bukanya bergetar lagi tetapi memang telah membuat hidupnya berubah haluan.


"Maapkan aku, jangan menangis lagi, tangisanmu melukai hatiku."


Ucap Jino sangat pelan dengan tatapan penuh rasa cinta.


Kisya membalas tatapan Jino namun Kisya malah semakin menangis. Kisya memukul dada Jino perlahan beberapa kali.


"Kikis benci kak Jino !..


Tangis Kisya melirih.


Jino lalu memeluk Kisya dengan sangat erat.


"Maapkan aku !..


Kamu pantas membenciku."


Jino mengeratkan pelukannya. Kisya Masi menagis dalam peluk Jino. Jantung Jino berdebar begitu kencang dan seolah darahnya naik dan mendidih. Jino merasakan. Sebuah perasaan hangat nyaman dan tenang ketika memeluk gadis mungil itu.


"Kamu harus tau kis , hatiku bergetar ketika ku tau kamu terluka karena aku, tetapi ada satu hal yang tak bisa aku pungkiri , kamu adalah adalah calon adik iparku, lain kali jangan menatapku, jangan mengejarku jika tanpa sengaja lagi kita bertemu , tolong menghindarkan dariku!..


Ucap Jino dengan air matanya yang menetes. Lalu melepaskan pelukannya.


Jino beranjak dan hendak pergi keluar kamar. Kisya terkejut mendengar ucapan Jino. Kisya mematung dengan kebingungan.


Kisya menatap punggung Jino sampai Jino pergi menjauh. Dia mengusap air mata , dan menyentuh dadanya yang seolah bergemuruh merasakan sakit mendengar ucapan dari calon kakak iparnya.


Helaan nafas berat kisya lontarkan seolah menyakinkan akan hatinya yang tidak karuan. Ada sebuah perasaan yang mengganggunya . Yang membuat seolah hatinya tertusuk dan perih.


"Kenapa rasanya sesak?...


Ucap Kisya dalam hatinya. Mencoba menghela nafas dalam-dalam dan memejamkan mata sesaat . Lalu Kisya mengalihkan perhatian dengan memandangi wajah tampan sang baby kecil yang sedang tertidur dengan lelap. Di kecupnya kening lembut bayi itu dengan penuh kasih sayang.


"Siapakah wanita hebat yang melahirkanmu nak?..


Ucap Kisya mengelus lembut rambut pirang yang tipis itu . Dirinya Masi tidak tau bahwa bayi kecil itu adalah buah hatinya.


"Kenapa memandangmu saja hati aunty begitu tenang dan damai, kenapa kalian ayah dan anak membuatku kebingungan seperti ini?...

__ADS_1


Kisya terus mengelus rambut bayi yang masih terlelap itu. Memandangnya dengan tatapan penuh cinta.


Kisya akhirnya terlelap di samping sang buah hati. Jino sedari tadi sebenarnya berdiri di balik pintu. Matanya terpejam dengan helaan nafas yang menggebu. Rasa sakit yang dia rasakan karena harus menjauh dari seorang gadis yang kini selalu ada dalam hatinya.


Rasa nya seperti ada aliran darah yang mendidih merasuk ke dalam setiap nadinya membuatnya sangat panas dan sesak. Hatinya tak bisa menahan air mata yang sedari tadi dia tahan. Nafas nya menggebu dan serasa berat dan tak terhingga. Rasa sesak yang bercampur dengan sesal sungguh menyiksa hatinya. Seperti ada luka namun tak terlihat seperti ada ruang namun tak terbuka.


Sesekali Jino membuang nafas sembarang dengan susah dia menarik nafas.


"Kisya."


Nama yang sangat sulit untuk dia ucapkan. Air mata menetes tanpa bisa dia bendung lagi. Tak pernah dia bayangkan bisa menyukai gadis lain selain lintang. Tak pernah dia mimpikan memiliki tambatan hati yang tidak boleh dia sentuh.


"Tuhan tolong ambil perasaan ini dari hatiku, aku sungguh tidak bisa terus merasa sesak dan sakit seperti ini!...


Ucap Jino dengan air mata yang tak bisa di tahan. Semua ini terlalu indah untuk dia lupakan. Terlalu sulit untuknya melangkah mundur. Rasa sesak dan sakit di dadanya. Menyiksa setia setiap relung hatinya. Tangannya mengepal keras ketika mengingat bahwa ini semua adalah kesalahanya sendiri.


Kebodohanya telah menjerumuskan dia ke dalam lubang tanpa dasar. Menjatuhkan dia ke dalam perasaan cinta yang tak bisa dia miliki. Mungkin ini semua adalah takdir tuhan untuknya. Cara Tuhan membalas semua kejahatannya. Gadis yang dulu sangat dia benci bahkan kini menjadi satu-satu nya gadis yang bisa membuatnya merasakan cinta yang yang tak biasa.


Tuhan sudah menuliskan setiap takdir seseorang. Setiap garis tangan memiliki jalan hidup yang berbeda. Kisah cinta itu tidak semanis Rama dan Shinta. Bahkan Romeo dan Juliet pun tidak bisa bersama permainan takdir tuhan. Jino terus mengisak dengan nasib cintanya yang tak mungkin bisa dia gapai.


"Aku tersadar, ternyata aku telah mencintaimu, entah sejak kapan itu akupun tak tau, tolong bantu aku untuk melupakanmu!..


Ucap Jino dalam hatinya. Hatinya benar-benar terasa sangat sakit. Sakit ini adalah pembalasan dari Tuhan untuknya. Jino berpikir seperti itu . Jino menghapus air matanya dan menelan Saliva. Dia mengatur nafas dan melangkah meninggalkan Kisya yang masih terlelap bersama baby Vano. Jino turun tangga dan terlihat Jeff sudah kebingungan mencari keberadaan kisya .


"BangĀ  apa kamu melihat Kisya?..


Ucap Jeff lantang.


"Di kamar menidurkan Vano."


Ucap Jino dengan suara yang berat. Sebisa mungkin mengatur perasaanya juga mengatur suaranya agar tidak terdengar serak seusai menangis.


Jino lalu duduk di meja makan dan meneguk cangkir teh nya. Sedangkan Jeff segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Jino untuk melihat sang istri. Jino hanya bisa menatap Jeff dengan tatapan kosong.


Bersambung


catatan kecil author.


Hai readers tersayang , aku mendapatkan sebuah photo dari fans nya Jeff yang membantu aku meng edit photo Jino dan Kisya. namanya Kim Miso . Miso berkata dia menangis sambil mengedit photo jino dan Kisya. kenapa dia menangis, itu karena dia tidak suka Jino, tetapi dia senang bisa memberiku photo editanya.


terimakasih Nona Kim Miso yang sudah berjuang menguatkan hati mengedit Poto Jino dan Kisya.


Untuk yang tidak bisa melihat visual Jino dan Kisya, silahkan kalian upgrade mangaToon kalian ke versi terbaru. salam sayang dari ku , terimakasih.

__ADS_1



__ADS_2