
Jino masih memeluk sang istri dengan lembut. Dia tak henti mengecupnya untuk menenangkanya. Setelah di beri obat, wanita itupun segera tidur dengan lelap. Kini Jino menggendong Kisya dan merebahkan tubuh sang istri di tempat tidur. Sedang Jino segera kembali ke ruangan bawah. Jino melihat keadaan Mama.
"Pa, gimana kondisi Mama?" Tanya Jino kepada Papa Geovandra.
"Sedikit membaik, coba lihat Mama sudah tenang kan?" ucap Papa.
"Mama, bisa ceritakan semuanya yang terjadi?" ucap Jino kepada Mama Murni.
"Jino, Mama tidak tahu yang sebenarnya, tadi hanya ada seseorang kurir paket, dan kami segera membuka paket tersebut, tadinya kami hanya ingin menonton sambil menunggu kalian pulang, tetapi malah itu membuat hati Mama sangat sakit Jino!" ucap Mama dengan air mata yang menetes kembali.
Papa Geovandra menggenggam erat tangan sang istri dengan lembut. Papa begitu sedih mendengar ucapan sang istri. Jino lalu memeriksa bungkusan paket tersebut. Dan ternyata memang tidak ada pengirim paketnya. Nama pengirimnya kosong. Dan itu adalah paketan kaleng.
"Brengsek." Jino berteriak.
"Siapa yang berani-beraninya menggangu ketentraman keluargaku, jika aku menemukan pelakunya, aku akan segera membunuh orang itu." Jino berteriak dengan murka. Dia merasa sangat sedih dan pilu. Mereka baru saja bisa mengecup kebahagiaan. Tetapi kini mereka harus kembali merasakan kesakitan karena teror jahat orang tersebut.
"Kita kerahkan penjagaan di sekitar rumah, dan sekitar Mama dan Kisya!" ucap Papa dengan wajah yang merah padam. Papa geram kepada peneror itu. Sama seperti halnya Jino. Papa sangat ingin mengetahui siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Jika Papa menemukannya maka Papa tidak akan memafkan orang tersebut.
Papa akan menghukum orang itu dengan caranya sendiri.
"Semua rangkaian kejadian ini pasti pelakunya orang yang sama Pa!" ucap Jino sambil menatap papa Geovandra dengan tajam.
"Iya betul, semua pasti orang yang sama!" Ucap Papa Geovandra dengan kening yang mengerut. Dia berfikir dengan keras tentang apa yang terjadi.
"Mama sebaiknya jangan keluar rumah sendirian ya Ma!" Ucap Jino sambil menatap sang Mama dengan tajam. Mama Murni mengangguk dan melamun kembali.
"Papa akan menyuruh pengawal untuk menjaga Mama dan Kisya!" Ucap Papa sambil menggenggam tangan sang istri dengan lembut.
"Kalau Kisya, Jino sudah memerintahkan James menjaganya Pa!" Ucap Jino pelan.
__ADS_1
" Yasudah tinggal perintahkan James membawa salah satu temanya untuk menjaga Mama!" Ucap Papa.
"Baiklah Pa, Jino akan segera menghubungi James." ucap Jino sambil mengambil ponsel androidnya dan langsung menelepon James.
"Hallo james." Ucap Jino menelepon James.
"Ia bos ada apa?" Tanya James.
"James, bawa beberapa orang anak buah kamu untuk berjaga-jaga di sekitar rumah, dan aku juga butuh satu pengawal yang kuat dan pintar untuk menjaga mama!" Ucap Jino kepada James.
"Baik bos, apa ada kejadian?" Tanya James.
"Iya Betul sekali, orang itu memberikan paket berisi vidio kecelakaan Jeff, dan itu membuat Mama dan Kisya shok."ucap Jino.
"Benarkah bos, baiklah akan segera aku hubungi anak buahku, untuk segera berjaga!" Ucap James.
"Ok!" Balas Jino.
Baru saja mereka bisa hidup dengan tenang dan sedikit melupakan tentang tragedi kecelakaan yang menimpa Jeff, tapi kini semuanya malah berantakan. Semua luka yang sudah tertutup dengan rapat. Kini terbuka lagi dan berdarah lagi. Jino duduk dalam pikiranya yang melambung tinggi.
Tiba-tiba terdengar suara tangis Baby Boy nya. Dengan segera Jino masuk kedalam kamar Mama dan menggendong Baby Vano dalam peluknya. Jino menenangkan Baby Vano secepat kilat. Karena memang Jino sudah sangat ahli merawat dan mendiamkan Baby Vano jika sedang mengamuk.
"Kemarilah nak, biar Mama yang menggendong!" ucap Mama Murni dengan lemah.
"Mama bukannya masih lemas?" ucap Jino pelan.
"Tidak apa-apa ko Jino, bahkan Baby Vano adalah obat dari segala kesakitan Mama ini!" Ucap Mama Murni dengan air mata yang menetes mengalir membasahi pipinya. Lalu Jino datang dan memberikan Baby Vano ke dalam pangkuan sang Mama.
Mama langsung mendekap erat cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
Baby Vano adalah obat dari semua kecemasan dan kegalauan yang di rasakan oleh sang Mama. Baby Vano bisa menenangkan hati Anggota keluarganya. Senyum dan tawa mulut kecil sang bayi adalah sebuah kekuatan untuk keluarga.
"Jino sebaiknya kalian tinggal di sini untuk sementara waktu ya, Mama merasa takut di rumah sendirian!" Ucap Mama Murni dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya ma, Jino sudah berencana seperti itu. Jino tidak bisa tenang meninggalkan Kisya di rumah berdua saja dengan Baby Vano!" ucap Jino sambil menatap sang Mama. Dan Mama begitu senang mendengar ucapan putranya itu. Mama Murni ketakutan tentang kejadian yang baru saja menimpanya. Mama sangat takut ada kejadian lain yang akan menimpanya.
"Mama jangan keluar rumah sendirian, ya Ma!" ucap Papa.
"Baiklah Pa!" Mama mengangguk. Terlihat Mama Murni kini sudah lebih tenang. Karena baby Vano sudah mulai membuat mana tertawa dengan senang. Bayi itu adalah obat penawar dari semua kegalauan Mama.
"Apa kalian sudah makan?" Tanya Jino.
"Belum nak, tadi Kisya sudah memasak semuanya, dia sangat bersemangat memasak untuk kamu nak, tetapi tiba-tiba saja ada pengirim paket." ucap Mama.
"Yatuhan, berarti Kikis tidur dan dia belum makan sama sekali ya!" ucap Jino merasa kasihan terhadap istrinya.
"Ia betul sekali!" ucap Mama sambil menatap Jino.
"Yasudah, biarkan kisya tidur dengan tenang, dan mari kita makan saja!" Ucap Papa sambil menatap Jino. Jino pun mengangguk. Tidur adalah hal yang paling baik untuk kisya dari pada dia harus terus bersedih. Jino Mama dan papa akhirnya makan dengan tenang. Mama sebetulnya tidak bernafsu makan setelah kejadian tadi. Tetapi Papa memaksa karena takut Mama sakit.
Akhirnya Mama menuruti perkataan Papa Geovandra dan makan walaupun sedikit. Mereka makan dengan kecemasan. Masakan Kisya begitu nikmat, tetapi karena pikiran mereka semua sedang kacau, mereka sama sekali tidak bisa menikmati makanan dengan benar.
Baby Vano mulai makan nasi yang Mama suapi. Batita itu sudah mulai suka dengan nasi dan sayur sop. Anak Tampan itu menjadi pengobat rasa sakit sang Mama. Karena semua rasa sakit Mama Murni berkurang dengan kehadiran Baby Vano di dekatnya.
🌺 Bersambung 🌺
Catatan kecil author.
Mohon maaf aku kemaren up cuma satu eps. Kemaren saya kurang enak badan, saya usahakan hari ini saya up dua ya, walau tidak bersamaan di pagi hari, saya usahan up pada siang hari. Terimakasih banyak masih setia pada Jino dan Kisya. Salam sayang
__ADS_1
Evangelin harvey.