
Akhirnya kini Jino sudah sampai ke kediamannya, dengan segera dia menggendong si buah hati masuk ke dalam rumahnya. Terlihat dari atas sang istri sudah menyambutnya dengan suka cita, Kisya berlari menelusuri tangga dan itu membuat Jino begitu Shok Jino takut istrinya terjatuh.
"Sayang jangan berlari seperti itu. Mom buat Daddy ketakutan." Jino terlihat begitu marah kepada sang istri, tidak mau istrinya terluka apa lagi sampai terjatuh di tangga.
"Rindu sekali, sudah tidak sabar ingin memeluk Daddy seperti ini," rengek Kisya sambil memeluk suaminya, beserta buah hatinya tersayang, tetapi jagoannya memang sudah terlelap, lalu dengan perlahan Jino berjalan bersama sang istri untuk merebahkan buah hatinya di kamar kesayangannya.
"Kita tidur kan dulu si dede ya," kata Jino dengan perlahan, lalu Kisya pun mengangguk, setelah itu mereka langsung menuju ke kamar buah hati mereka.
Setelah memastikan baby Vano tertidur dengan lelap di kamarnya, Kisya langsung memberitahukan bibi pengasuh untuk segera masuk kamar, agar baby Vano tidur ditemani oleh bibi pengasuh di kamar tersebut, karena Jino dan Kisya tidur di kamar seberangnya.
"Sayang mau mandi dulu apa mau makan?" tanya Kisya kepada suaminya tercinta.
"Sayang. Mohon maaf sekali, dari tadi aku makan terus di sana, sampai perut rasanya mau meledak. Bagaimana kalau kita mandi saja?" kata Jino dengan wajah yang penuh sesal, karena tidak bisa menikmati masakan sang istri.
"Tidak apa-apa kalau sudah kenyang. Kenapa harus minta maaf Dad, sekarang Dad mandi dulu, biar Mom siapkan baju tidur buat Daddy," kata Kisya sambil menarik suaminya masuk ke dalam kamar.
"Bersama," kata Jino dan senyum Devil-nya.
"Bersama apanya, ya ampun Mom sudah mandi, Sayang," Kisya terkekeh mendengar kan ajakan suaminya untuk mandi bersama, dia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mandi, tetapi bukan Jino namanya kalau dia tidak bisa memaksa Kisya untuk mengikuti keinginannya.
"Tidak apa-apa kita mandi lagi," tangkas Jino sambil menggendong sang istri masuk ke dalam kamar mandi, setelah itu sang suami langsung membantu sang istri untuk melepaskan semua pakaian yang dikenakannya. Sampai kini akhirnya sang istri sudah polos dengan tubuhnya yang begitu seksi dan sangat memikat.
Berkali-kali Jino menelan saliva. Karena sudah tidak tahan ingin segera menyantap makanan lezat di hadapannya.
"Ya Tuhan. Inikah yang disebut bidadari? Cantik sekali," ungkap Jino dengan senyuman yang manis.
__ADS_1
"Apaan sih Dad udah di sini gabung cepat," ucap Kisya melambaikan tangannya ketika kini wanita itu sudah duduk di bak mandi dengan tubuhnya yang polos dan basah dengan air sabun.
"Ashiap." dengan tergesa-gesa pria itu menjawab dan langsung melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Lalu melangkah masuk ke dalam bak mandi tersebut.
"Semenjak menikah, mandi jadi lebih menyenangkan dari pada dulu, rasanya kamar mandi ini sudah seperti kamar mandi hotel," ungkap Jino pada sang istri sambil terus memperhatikan kemolekan dan kecantikan sang istri yang kini berada di hadapannya.
"Semenjak menikah juga Daddy jadi semakin genit," ucap Kisya dengan senyumannya, lalu menyipratkan beberapa air ke tubuh sang suami, jelas saja itu membuat Jino terkekeh, mereka saling menyipratkan air, lalu mereka pun tanpa sengaja saling menyentuh tubuh masing-masing dan ternyata itu telah membuat sesuatu terbangun.
"Sayang, kamu harus bertanggung jawab kepadaku," ungkap Jino dengan wajah yang memelas.
"Apa yang Mom lakukan sehingga di tuntut harus bertanggung jawab?" Kisya terkekeh melihat tingkah sang suami yang seperti anak anj*ng kebasahan.
"Lihat ini Sayang, Mom tidak kasihan kepadaku, Mommy telah membangunkan naga yang telah tidur," kata Jino dengan memelas, menunjuk kearah dimana naga itu mulai terbangun.
"Ya ampun ...." Wanita itu terbelalak benar-benar tidak tahu harus berkata apa, dan dia mau tidak mau harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
"Ehmm ... Ini ... Ini besok saja tanggung jawabnya, ya Sayang," ungkap Kisya dengan suara yang rendah, selalu mundur menjauhi Jino.
"Sayang kamu tega sama aku," kata Jino dengan mata yang begitu memelas.
"Emhh ... Dad, ini," ucapan Kisya terhenti karena tiba-tiba saja sang suami langsung menyambar bibir ranum sang istri dengan begitu gemas.
Mereka saling mengecup madu di bibir masing-masing. Jino sendiri begitu terbuai dengan manisnya bibir ranum sang istri yang merekah seindah bunga mawar. pria itu tidak henti mengecup manisnya gula-gula tersebut. Sehingga bahkan dia melupakan sesuatu bahwa istrinya kini sudah kehabisan napas.
Dengan perlahan Jino mencoba melepaskan tautan bibir mereka dan akhirnya membiarkan sang istri untuk menghirup oksigen sejenak.
__ADS_1
"Hah hah ... Sesak tahu Dad," ucap Kisya sambil terengah-engah, lalu Jino langsung memposisikan istrinya untuk duduk di pangkuannya. Dan terjadilah sebuah penyatuan di sana.
"Ahh Dad nakal banget sih," ucap Kisya dengan manja tatkala tubuh mereka mulai bersatu dengan posisi Kisya yang duduk di pangkuannya.
"Bukankah ini menyenangkan, Sayang," bisik Jino dengan mesra sambil menggigit kecil telinga sang istri.
"Cowok nakal," Kisya berkata sambil mencoba bergerak membuat bak mandi ikut bergetar.
Cipratan air terdengar ke lantai benar-benar membuat suasana semakin romantis. Pria itu kini hanya bisa memejamkan matanya untuk menikmati relaksasi yang diberikan oleh sang istri.
"Kak ... Emhh Dad," ucap Kisya dengan pelukan erat memeluk punggung sang suami dengan kekuatannya.
"Ya Mom," ucap Jino dengan napas yang memburu. Dia tak sanggup untuk hanya dia saja. Dengan gerakan sang istri yang kini telah membuat dirinya terbang ke nirwana.
"Help mee Dad," bisik Kisya mesra. Lalu Jino langsung melepaskan penyatuan tubuh mereka, mencoba untuk memposisikan sang istri dogg style di atas bak tersebut. Dan kini pria itu langsung menyatukan kembali tubuh mereka. Membuat kembali cipratan air yang sangat berisik. Suasa yang semakin romantis membuat suara-suara halus itu kini semakin terdengar begitu keras.
Raungan layaknya srigala telah Jino keluarkan, saking tak bisa lagi dia tahan. Sedangkan sang istri terus terisak dengan bahagia. Suasa seperti ini adalah moment paling di tunggu oleh keduanya, karena bahkan setelah baby Vano besar. Kesempatan seperti ini sudah sangat jarang mereka lakukan.
Setelah peraduan panjang akhirnya sang suami langsung melepaskan tembakan dan berharap dia berhasil kali ini, memberikan benih yang unggul untuk sang istri.
"Lelah?" ucap Kisya pelan.
"Jelas saja, apalagi bak mandi ini keras sekali, membuat lutut Daddy sakit," kata Jino sambil mencoba membuang air dalam bak mandi tersebut, karena memang kini air itu sudah tercemar.
🎄🎄🎄
__ADS_1
Gimana suka engga heheh udah lama kan 😂😂😂.