
Jino menyetir mobil dengan sangat kencang. Hatinya sakit bagaikan di tusuk ribuan panah. Sesampainya di rumah. Terlihat Baby Vano sudah tertidur dengan lelap. Jino bergegas membawa Vano ke rumah pribadi mereka, rumah yang dulu dia dan Kisya tempati, rumah yang penuh dengan kenangan, tengang semua yang terindah.
"Kamu mau kemana malam-malam begini Jino?" tanya Papa Geovandra kepada Jino.
"Jino dan baby Vano akan pulang ke rumah kita Pa, kita tidak bisa terus-terusan di sini!" Kata jino sambil menggendong sang buah hati dan menenteng satu buah koper besar. Lalu sang Papa datang menghampiri membantu Jino membawakan koper besar itu.
"Papa tahu perasaanmu, tapi alangkah bagusnya jika Baby Vano dan kamu tinggal di sini, setidaknya ada yang mengasuh baby Vano pada saat kamu bekerja," kata Papa Geovandra sambil menatap punggung putranya yang terus melangkah jauh di hadapannya.
"Jino akan menghadapinya sendiri Pa, Jino berdua bersama Baby Vano, kan dari awal kita memang kami cuma berdua Pa, Jino yakin Jino pasti bisa hidup!" Kata Jino sambil menidurkan Baby Vano di jok belakang. Lalu menutup pintu mobil bagian belakang menatap sang Papa dan tersenyum kepadanya dengan senyuman yang begitu pucat. Lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya secepat kilat.
"Pergilah nak! Tenangkan dirimu, berbuatlah sesuka hatimu. Papa tahu bahwa kamu begitu tersakiti oleh keadaan ini, maafkan Papa tidak bisa membantumu!" ucap Papa Geovandra sambil menatap mobil Jino yang semakin melaju begitu jauh.
🌺🌺🌺
Sesampainya di rumah Jino hanya menatap foto pernikahan mereka saja. Bulir air mata menetes di pipinya. Dia sangat mencintai Kisya. Dia sangat mencintai istrinya. Tak ada waniya lain selain istrinya.
"Sayang... Aku adalah laki-laki terbodoh. Aku bodoh karena tidak menyadari keberadaanmu di sekitarku. Kamu menjadi teman yang baik untuk Lintangku. Ketika Lintang menceritakan tentang kebaikanmu, Aku bahkan mengabaikanmu. Kamu wanita yang baik dan cantik. Tetapi ketika aku tau kita di jodohkan. Aku sunggug idiot, malah melupakan semua ucapan Lintang tentang kebaikanmu. Aku membencimu setengah mati. Aku menyakitimu dengan kegilaanku. Aku bejad aku sampah. Tetapi kini aku sangat mencintaimu. Aku membutuhkanmu untuk berada di sampingku. Nakisya sayang. Jika suatu saat kamu mengingat kisah cinta kita. Maka pulanglah. Aku di sini bersama dengan putra kita menunggu kepulanganmu, aku sangat mencintaimu sayang, aku mohon pulanglah demi cinta kita." ucap Jino sambil menatap foto pernikahan mereka dengan air mata yang menetes.
Rasanya hatinya begitu hancur tak berbentuk. Hatinya terluka begitu dalam. Pria itu sungguh berharap sang istri segera memafkanya. Jino adalah sosok pria yang setia. Pria itu hanya menginginkan istrinya saja. Tidak ada orang lain lagi dalam hatinya. Air mata Jino menetes tanpa bisa dia bendung lagi. Dan akhirnya pria itupun terlelap.
__ADS_1
Jino tertidur sambil memeluk poto pernikahannya. Sebuah poto yang yang memperlihatkan senyum manis sang istri dan dirinya. Pria itu berharap istrinya hadir dalam mimpinya.
Dan keesokan paginya, Jino bergegas untuk bekerja seperti biasanya. Tanpa datang ke pamakaman Rasya. Jino sudah meminta maap pada bunda karena memang Kisya yang tidak mau Jino datang. Dan bunda mengerti.
Kisya yang masih menangis. Masih meraung-raung di makam sang adik tersayang. Matanya sudah bengkak dan merah. Tubuhnya sudah lemas karena terus menangis. Dengan berat hati Kisya harus meninggalkan makam sang adik.
Sesampainya di rumah. Kisya merebahkan badannya di sofa kanan. Dan bunda di sopa kiri.
"Hanya kita yang tersisa bunda," ucap Kisya dengan air mata yang menetes.
"Tidak sayang. Masih ada Baby Vano dan calon-calon anakmu kelak. Rumah ini akan ramai lagi oleh gelak tawa bayi-bayi yang kamu lahirkan sayang. Karena lahirkalah banyak bayi kis, Ayah dan Rasya pasti akan bahagia melihat keturunan baru," ucap Bunda Nisya sambil menitikan air matanya. Berharap Kisya segera mengandung kembali, agar rumah menjadi hangat.
"Vano. Iya tapi Baby Vano tinggal dengannya. Dan kisya gak mungkin punya bayi lagi bunda. Kisya mengusirnya kemarin. Dan Kisya belum bisa untuk bersamanya," kata kisya begitu pelan dengan wajah yang menunduk.
"Kisya belum bisa bersamanya bunda. Kisya masih bingung dengan perasaan kikis,"
"Itu bukan alasan kis. Jangan menggantung Jino seperti itu, jangan memberi harapan palsu pada Jino. Kasian dia kis, dia begitu mencintai kamu," kata sang Bunda sambil menitikkan air matanya.
"Kenapa bunda menyuruhku bersama pria brengsek yang sudah menodai ku? Bunda gak tau rasa nya jadi aku!"
__ADS_1
ucap Kisya dengan tangisannya.
"Oke maapkan bunda. Baiklah Bunda tidak akan lagi memaksa. Kalo kamu ingin bercerai maka bercerailah. Dan biarkan Baby Vano bersama ibu tirinya. Mungkin ibu tirinya akan menyanyanginya. Lebih dari pada kamu, Jino akan mudah mendapatkan lagi seorang istri yang cantik, karena dia begitu tampan dan mapan, cepatlah ceraikan dia, jangN lagi mengantung perasaan orang lain kis!" ucap bunda sambil pergi.
"Apa.. Bercerai?" ucap Kisya begitu terkejut dengan apa yang Bunda Nisya ucapkan. Kisya masih bingung dengan perasaanya. Tapi kata-kata perceraian membuat hatinya begitu sakit. Seolah Kisya tidak mau mengungkit kata perceraian. Kisya pun menangis dengan tersedu. Dia sebenarnya tidak mau bercerai.
"Cepatlah urus perceraian, jangan sakiti Jino dengan sikapmu, mungkin setelah bercerai, kalian akan bahagia dengan hidup baru kalian!" kata bunda Nisya sambil pergi meninggalkan Kisya sendiri.
Bunda Nisya sengaja mengatakan hal itu kepada Kisya, agar Kisya tidak lagi menggantung perasaan Jino. Agar Kisya bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.
"Kenapa Bunda mengatakan hal itu? kenapa Bunda harus menyarankan sebuah perceraian untuk aku dan kak Jino, kenapa hatiku begitu sakit mendengar kata bercerai. Apakah aku harus bercerai, apakah aku dan kak Jino harus bercerai?" ucap Kisya sambil menangis dengan begitu lirih. Wanita itu tidak sanggup untuk menuntut perceraian kepada Jino. Kata perceraian baginya begitu menakutkan seolah-olah hatinya sangat menolak untuk bercerai dengan suaminya.
Kini lihatlah, apakah Jino dan Kisya akan segera bercerai?
Bersambung.
Kakak sahabat Jino dan Kisya. Tolong kemukakan pendapat kalian. Apakah Jino dan kisya harus bercerai?
Maap kalo up-nya lama, ini semua karena mangatoon seolah enggak adil sama aku, kemaren juga tiga hari baru di terbitkan, padahal aku sudah up dari tiga hari sebelumnya.
__ADS_1
Tolong juga vote Jino dan Kisya ya kak. Salam sayang dariku.
Evangelin Harvey/ Lee.