Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Rumah kita


__ADS_3

Angel pun datang dengan menggendong pangeran kecil yang kini terlihat anteng. Kisya tersenyum manis dan langsung membuka pintu mobil langsung mengambil alih menggendong baby Vano dengan penuh kasih sayang.


"Thanks Angel." Ucap Jino datar. Jino tidak berani lagi tersenyum pada wanita lain di depan Kisya. Dan Angel tersenyum lalu pamit. Kisya kini sudah menggendong baby Vano. Baby Vano terlihat sangat senang melihat Kisya. Kisya sendiri merasa sangat hangat. Hatinya merasa penuh dengan kebahagiaan ketika bersama dengan bayi tampan ini.


"Sayang, aauhh gemesnya ini pipi apa bakpau?.. Kisya memainkan pipi gembil milik baby Vano. Baby Vano tersenyum dengan ceria. Bayi itu terus tersenyum karena Kisya terus memainkanya. Jino menatap baby Vano dan Kisya begitu bahagia. Dia menorehkan senyum senang pula.


"Aih kenapa bisa setampan ini ?... Ucap Kisya sambil mengecup lembut kening bayi yang kini berada dalam pelukanya.


"Itu karena dia sangat mirip denganku." Ucap Jino sambil mengelus kening baby Vano lembut. Kisya menoleh sesaat dan menatap Jino . Lalu kembali menatap baby Vano.


"Iya betul mirif sekali." Kisya tersenyum .


"Ayo kita pulang ke rumah!..


Ucap Jino sambil mulai mengemudikan alvarnya. Jino melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang. Dan kini dia sudah sampai di lobi apartemenya. Kisya tersadar bahwa dia berhenti bukan di depan rumahnya melainkan di tempat parkir sebuah apartemen.


"Kita di mana ?...


Ucap Kisya terlihat agak kebingungan.


"Di rumah kita."


Jino tersenyum tipis lalu keluar dari mobil. Dia langsung membukakan pintu mobilnya agar Kisya bisa keluar . Kisya keluar dengan perlahan sambil menggendong baby Vano. Mereka lalu berjalan menuju apartemen Jino yang berada di lantai 7. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di depan apartemen.


Jino membuka pintu apartemenya dan mempersilahkan Kisya untuk masuk. Kisya masuk dan langsung duduk di sofa. Kisya melihat sekeliling. Terlihat rapih dan tertata.


"Mana maid nya?..


Ucap Kisya pelan.

__ADS_1


"Bibi hari ini aku liburkan , tadi dia ikut ke kantor bersama baby Vano, tapi aku sudah meliburkan dia mulai siang ini." Ucap Jino sambil duduk di samping Kisya.


"Kenapa diliburkan ?.. Ucap kisya pelan.


"Karena aku hanya ingin kita berdua saja, tidak ada orang luar, hanya aku kamu dan bayi kita." Bisik Jino dengan lembut. Kisya terdiam sesaat dan dia menelan Saliva ketika mendengar Jino mengatakan bayi kita. Entah apa yang harus dia ucapkan. Apakah dia harus senang atau sebaliknya. Memang tidak di pungkiri dia sangat menyayangi baby Vano, tetapi untuk menjadi ibu dari baby Vano sendiri itu sangat berat baginya.


Berat karena terlalu banyak yang harus berkorban demi sebutan seorang ibu. Harus ada yang tersakiti untuk menyandang seorang ibu dari baby Vano. Dan dia tak mau melakukan itu semua. Dia tak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain dan rasa sakit orang lain .


"Kenapa hanya terdiam, apa kamu tidak senang menjadi ibu dari anaku?.. Jino berbisik mesra. Kisya masih terdiam dengan seribu kekalutanya. Padahal cuma menjawab Tetapi kenapa bibirnya kelu dan kaku.


"Tidak apa-apa kalo tidak mau." Ucap Jino sambil memeluk tubuh Kisya dari pinggir. Kisya merasa terkejut dan dadanya bergetar hebat.


"Kak, jangan merayuku!...


Ucap Kisya Pelan.


"Siapa yang merayu?... Jino terkekeh.


"Ini namanya memeluk, bukan merayu."


"Jangan membuat pertahananku goyah kak." Bisik Kisya dengan halus.


"Aku tidak bisa menjauh darimu, apalagi kita hanya berdua Disni."


Bisik jino.


"Kita bertiga ,bukan berdua." Ucap Kisya dengan senyuman manisnya.


Sekali lagi Jino terpukau oleh manis senyum wanita di hadapannya. Kini senyum itu selalu ada dalam pikirannya dan membuat degupan jantungnya semakin kencang. Kini sangat menyukai senyum wanita itu. Sebuah senyuman yang seimbang dah bunga mawar.

__ADS_1


"Sayang." Jino berbisik.


"Hmm."


"Jangan tersenyum seperti itu lagi dihadapan pria lain!..


Ucap Jino . Dan itu membuat Kisya tersenyum kembali.


"Kakak saja tersenyum manis di hadapan wanita-wanita itu, kenapa aku tidak boleh?... Ucap Kisya masih dengan senyuman manisnya.


"Aku berjanji takkan senyum lagi pada mereka, asalkan kamu berjanji sama kakak, tidak boleh tersenyum pada pria lain, sekalipun itu dosen di kelasmu." Ucap Jino semakin. Posesif memeluk Kisya. Kisya sendiri tak bisa menepis pelukan dari Jino karena dia sedang menggendong baby Vano .


Jino mulai mengecup leher Kisya dengan lembut. Terus dia melihat masih ada beberapa bekas ciumanya semalam. Jino tersenyum tipis .


"Kak , jangan menambah warna merah di leherku, tidakah kakak tau sulit sekali mencari baju berkerah tinggi seperti ini." Kisya sedikit Mangun dan manja.


Jino terkekeh dan malah semakin menjadi. Jino mengecup leher jenjangnya Kisya. Namun Jino tidak menambah warna merah lagi. Kisya  hanya bisa memejamkan mata. Dia menggigit sedikit bibinya karena menahan sebuah perasaan geli yang Jino perbuat padanya.


"Lihat sayang daddy mu tidak tau malu, padahal aunty sedang menggendong kamu baby." Ucap Kisya pelan.


Jino terkekeh dan mengentikan kecupanya. Jino memeluk Kisya dengan erat seolah tak mau melepaskan pelukan itu. "Biarkan aku  memelukmu dengan erat, karena disini saat ini kamu adalah miliku seirang." Jino dengan bisikan mesra. Membuat bulu Roma Kisya merinding .


Kisya hanya bisa terdiam sambil menelan Saliva. Dan Jino semakin posesif memeluk wanita yang kini amat dia cintai. Jino seolah tak memperdulikan status Kisya. Yang Jino tau bahwa kini dirinya telah mendapatkan sebuah kenyamanan yang dia inginkan selama ini.


"Kenapa rasanya begitu nyaman, sampai aku seolah tak mau melepaskan pelukan ini sayang." Ucap Jino pelan.


Kisya hanya terdiam dia masih bingung harus menjawab apa, dia sebenarnya merasakan lebih dari rasa nyaman , tetapi ada hal lain yang dia takutkan. Sehingga dia hanya bisa berdiam diri dengan lidah yang kelu. Kisya hanya bisa memejamkan matanya menikmati pelukan mesra dari pria yang sangat dia cintai untuk saat ini. Benar dia sangat mencintai Jino saat ini.


"Andai saja kita bertiga adalah sebuah keluarga,mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini." Ucap Kisya dalam hatinya masih dengan mata yang terpejam menikmati hembusan nafas Jino di lehernya.

__ADS_1


Bersambung❤️


__ADS_2