
Jino menggendong Lintang dari mobil ke IGD rumah sakit. Dengan perlahan Jino merebahkan Lintang di blangkar. Perawat lalu memindahkan Lintang ke tempat tidur kesakitan di IGD. Kisya masuk bersama Jino ke dalam IGD. Kini dokter sudah datang dan hendak memeriksa Lintang dengan seksama.
Perawat memasang infus pada tangan Lintang. Beberapa saat kemudian Lintang membuka matanya dengan perlahan. Rasa sakit pada kepalanya membuat Lintang tidak tahan.
"Apa yang anda rasakan saat ini?" Tanya dokter.
"Pusing dok, semua terasa gelap dan berputar." Ucap Lintang dengan lemah.
"Apa ini terasa sakit?" Dokter menyentuh daerah lambung Lintang.
"Ah.. tidak ada rasa sakit, hanya terasa penuh dan ujungnya ingin muntah." Lintang meringis ketika Dokter menekan bagian lambung.
"Baiklah ada beberapa hal yang harus saya pastikan, kami akan melakukan beberapa tes." Ucap Dokter. Dan Lintangpun mengangguk.
"Baik dok."
Lintang lalu melakukan beberapa tes. Sedang Jino dan kisya menemani. Kisya yang masih menempel di lengan kanan Jino. Seolah Kisya tidak mau melepas sang suami. Kejadian tadi memang membuat Kisya terasa hancur. Bagaimana pun Kisya begitu mencintai Jino. Istri mana yang mau kehilangan suami tercinta.
"Lintang sakit apa ya?" Kisya berkata pelan.
"Entahlah, semoga tidak apa-apa." Jino Menggenggam tangan istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Oh ya ampun aku lupa memberitahu Boy." Dengan segera Kisya melepaskan genggaman tangan Jino dan mengambil ponselnya. Dia mulai melakukan panggilan telepon. Namun Boy tidak mengangkat telepon tersebut. Akhirnya Kisya memutuskan untuk mengirim pesan.
-Nakisya-
"Kak, Lintang masuk rumah sakit, tolong cepatlah datang. Kita menunggu di rumah sakit harapan."
Boy masih tidak membaca pesannya. Yang penting Kisya sudah berusaha memberi kabar. Kisya kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Jino begitu senang Kisya bisa semanja itu.
"Sayang." Ucap Jino.
"Iya." Jawab Kisya.
"Sayang malam ini kita titip Baby Vano ya di rumah Mama!" Ucap Jino tersenyum nakal.
"Kak kamu ko gitu, kan kasian Baby Vano!"
"Cuma malam ini saja!" Ucap Jino sambil mengecup kening Kisya lembut. Jino sepertinya sudah tidak sabar ingin melakukan tugas besar. Sudah sebulan lebih dia tahan semuan auranya. Kisya tersenyun dengan rona yang memerah.
__ADS_1
Tiba-tiba saja seseorang datang. Perawat datang memanggil keluarga Lintang. Jino dan Kisya berdiri dan segera masuk ke dalam ruangan.
Lintang sudah terbaring dan masih terlihat lemah. Jino dan Kisya duduk berdampingan di hadapan meja Dokter.
"Bagaimana dok, Lintang sakit apa?" Ucap Kisya penasaran.
"Nyonya Lintang mengalami kurang gizi dan telalu lelah, sebaiknya beliau di rawat untuk beberapa hari di rumah sakit, ini demi kebaikanya, dan kebaikan janin yang beliau kandung!" Ucap Dokter.
"Ah, janin?" Jino terkejut.
"Li, Lintang hamil dok?" Mata Kisya membulat.
"Iya Nyonya Lintang sedang mengandung, selamat ya Pak, anda akan segera menjadi Ayah!" Ucap Dokter sambil tersenyum ke arah Jino. Kisya lalu menatap Jino dengan kening yang mengkerut.
Lintang perlahan membuka matanya, dia begitu senang karena mendengar bahwa kini ada seorang bayi sedang tumbuh dalam rahimnya.
"Terimakasih Tuhan!" Ucap Lintang dalam hatinya. Dia menitikan air mata kebahagiaan. Akhirnya dia akan segera menjadi seorang ibu. Sesuatu hal yang tidak pernah di rasakan sebelumnya. Dia merasa mendapatkan sebuah harta kekayaan yang tak terhingga.
"Ah, tapi saya bukan suaminya dok." Ucap Jino tersenyum manis.
"Oh, mohon maaf saya pikir anda suaminya nyonya Lintang." Ucap Dokter terkekeh.
"Apa suaminya sudah di hubungi?" Tanya Dokter.
"Tadi kami sudah mencoba menghubungi. Mungkin dia akan segera datang kemari." Ucap Jino dengan senyumanya.
"Baiklah kalo begitu Pak, nanti kalo suaminya datang, tolong sampaikan kabar gembira ini ya!"
"Iya dok terimakasi, jadi apa Lintang akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap dok?" Ucap Jino.
"Iya, perawat yang akan mengantar, saya permisi dulu ya!"
"Iya Dok."
Dokter itu lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Dia orang perawat laki-laki membatu Lintang untuk duduk di kursi roda. Mereka hendak memindahkan Lintang ke ruang perawatan. Jino dan Kisya hanya mengikuti dari belakang. Kisya menelepon Papa Geovandra agar masuk ke ruang rawat inapnya Lintang.
Akhirnya kini Lintang sudah terbaring di kasur kesakitan perawatan. Sebuah kamar rawat inap dengan pasilitas seperti hotel bintang empat. Sangat mewah dan indah. Papa Geovandra datang bersama Mama dan si Baby.
"Sebenarnya sakit apa nak?" Tanya Mama cemas. Lintang tersenyum dengan malu.
__ADS_1
"Ini bukan sakit Ma tapi karena pengaruh hormon saja!" Ucap Lintang lemah.
" Hormon?" Mama mengerutkan keningnya.
"Hormon kehamilan Ma." Ucap Kisya dengan senyuman lebar. Mama Murni tersenyum bahagia.
"Selamat ya Lintang!" Mama Murni memeluk Lintang dengan lembut. Papa Geovandra juga memeluk Lintang. Lalu papa membuka dompetnya. Mengeluarkan selembar cek dan memberikan cek itu pada Lintang.
"Apa ini pa?" Lintang terkejut. Karena jumlah uang dalam cek itu begitu banyak. Tertulis 100 juta rupiah.
"Itu kado untuk kamu Lintang." Ucap Papa Geovandra dengan senyuman bahagia. Mereka memang sudah sangat dekat dengan Lintang. Karena Jino berpacaran dengan lintang selama lima tahun. Jelas saja Papa dan Mama sudah sangat akrab kepada Lintang.
"Ya ampun Papa, terimakasih banyak!" Lintang tersenyum dengan bahagia.
"Sama-sama nak, tetapi maaf Mama dan Papa tidak bisa menemanmu lebih lama, karena Papa mau bantu Mama masak,untuk makan malam!" Ucap Papa Geovandra.
"Ahh aku mau!" Ucap Lintang.
"Nanti Mama kirim via gojek ya sayang!" Ucap Mama murni dengan senyumannya. Dan Lintangpun mengangguk dengan bahagia. Papa dan Mama Murni pun akhirnya undur diri. Tersisalah ketiga mahluk itu. Jino Kisya dan Lintang.
"Selamat ya Lintang!" Ucap Jino dengan tatapan penuh rasa bahagia.
"Terimakasih, mana hadiahnya?" Rengek Lintang.
"Hadiah apa? Ucap Jino.
"Aku mau hadiah dari kalian!"
"Apa dong, aku tidak punya uang sebanyak Papa." Ucap Kisya manja.
"Aku sudah punya banyak uang, tetapi, aku hanya ingin hadiah dari kalian, tolong hadiahi aku seorang bayi yang akan menjadi sahabat untuk bayiku!" Ucap Lintang.
Jino dan Kisya terkejut. Mereka lalu saling memandang. Dan Kisya tersenyum dengan wajah memerah.
"Lintang, Baby Vano masih kecil, kita akan menunda dulu kehamilan !" Ucap Jino. Jino masih ingat dengan benar bahwa proses persalinan Kisya itu dengan cara sesar. Dokter pernah mengatakan. Bahwa Kisya boleh hamil kembali setelah minimal 3 tahun paska operasi sesar. Sedang kisya baru 6 bulan paska operasi sesar.
"Up, baiklah maaf aku melupakan itu!" Ucap Lintang menutup mulutnya. Dan Jino pun tersenyum.
🌺 Bersambung 🌺
__ADS_1