
Jino kini masih berada di ruang operasi. dan Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam lengannya. butuh waktu satu jam sampai akhirnya Jino bisa keluar dari ruangan operasi. kini Jino sudah keluar dari ruangan dan dokter memberikan informasi bahwa operasinya berjalan dengan lancar. dan Jino dengan segera akan dipindahkan keruangan rawat inap VIP. Nona Sani sungguh senang melihat direkturnya dalam kondisi baik-baik saja.
Kini suster telah membawa Jino di atas blangkar dan hendak memindahkan Jino ke ruang rawat inap. Jino masih dalam pengaruh obat bius dan masih belum siuman. Nona Sani mengikuti perawat dari belakang. Nona Sani merasa sangat senang. perawat lalu memindahkan tubuh Jino ke tempat tidur. beberapa saat kemudian Jino mulai siuman.
"Emh." Jino meleguh.
"Pak direktur anda sudah siuman?" Nona Sani begitu senang melihat direkturnya siuaman.
Jino melihat Nona Sani dan melihat sekeliling. dia mulai membuka mataya lebar. dan meleguh karena tubuhnya masih lemas.
"Mana Edward?" tanya Jino sambil menatap sekertarisnya.
"Dia sedang di kantor dan melanjutkan pekerjaan kita Pak." ucap Nona Sani.
"Baguslah kalau begitu.'" ucap Jino lemah.
"Tadi saya sudah melaporkan semuanya pada Pak presdir." ucap Nona Sani.
"Apa, melaporkan kabar buruk ke presdir, dia sudah tua dan punya penyakit jantung, kenapa kamu bertindak sesuka hati?" Jino terlihat begitu marah ketika mendengar ucapan sekertarisnya itu. Nona Sani terlihat terkejut, mendengar semua ucapan direkturnya.
"Maaf Pak direktur saya hanya merasa bingung dan khawatir terhadap kondisi anda tadi." Nona Sani mulai berkaca-kaca.
Jino membuang muka dan terdiam. lalu dia meminta sani memberikan ponselnya. lalu Nona Sani memberikan ponsel milik Jino. ponsel itu masih dalam kondisi mati dan Jino dengan segera menyakan ponsel tersebut. ponsel yang sudah empat hari tidak dia nyalakan. Alangkah terkejutnya Jino ada banyak panggilan tak terjawab dari sang istri. bahkan tak terhitung berapa puluh kali Kisya menelepon dirinya.
__ADS_1
Jino juga melihat banyak pesan singkat dari Kisya. Jino membaca beberapa pesan Kisya. dan Jino begitu menyesal karena tidak menghubungi sang istri dengan cepat. Jino juga melihat betapa Baby Vano begitu lucu. karena Kisya mengirim banyak sekali foto sang Baby tercinta.
"Sayang, maafkan aku telah melupakan kalian saking sibuknya aku, semoga kalian baik-baik saja, aku sungguh merindukan kalian berdua." ucap Jino dalam hatinya sambil menatap layar ponselnya. tangan kirinya memang masih sakit dan belum bisa bergerak bebas. namun tangan kananya masih bisa di gerakan dengan bebas aktif, karena tidak terluka sama sekali. dia tahu dengan jelas bahwa istrinya itu pasti begitu merindukan dan mencemaskan dirinya. dia kini hanya bisa memandangi wajah cantik sang istri dalam layar ponselnya. Istrinya tidak boleh sampai tahu kejadian yang dia alami selama di belanda.
Jino lalu melakukan panggilan telepon ke ponselnya Kisya. sayangnya saat itu Kisya sedang di rumas sakit dan lupa membawa carger ponselnya sehingga ponsel Kisya mati.
🌺🌺🌺
Papa Geovandra lalu bernafas lega setelah tau putranya sedang dilakukan penangan medis dan baik-baik saja. walau memang masih tersimpan sebuah rasa cemas yang mendalam karena putranya masih belum keluar dari ruangan operasi. tetapi dia harus tetap bersikap tenang. dia tidak boleh terlihat cemas karena itu akan membuat Kisya dan Mama Murni curiga. Papa masuk ke dalam ruangan rawat Baby Vano.
"Papa dari mana?"Mama langsung memberikan sebuah pertanyaan kepada sang suami. karena tadi Mama mencurigai gerak gerik papa yang sangat aneh. Mama tahu betul bahwa papa pasti menerima berita yang sangat buruk. sehinga tubuh Papa bisa bergetar dan berkeringat seperti itu.
"Dari luar Ma, hanya mencari udara segar." jawab Papa.
papa memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. padahal papa sendiri sebenarnya sedang berfikir. dia berfikir keras mencari cara untuk bisa mengalahkan jacob. mama lalu mendekati sang suami dan menggenggam tangan papa dengan erat.
"Papa mau minum dingin?" tanya Mama. Mama tahu Papa banyak pikiran.
"tidak Ma, Papa hanya ingin merebah saja. Papa merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa Papa sakit?" tanya Kisya dengan cemas. Kisya masih memeluk Baby Vano di kasurnya. ranjang Baby Vano cukup luas untuk di tiduri berdua.
"Tidak ko, Papa hanya kecapean." jawab Papa.
__ADS_1
Sedangkan Mama Murni hanya terdiam. Mama menghela nafas berat. ingin sekali bertanya tentang masalah yang sedang Papa pikirkan. namun Mama tahu Papa pasti tidak akan menjawab pertanyaan Mama dan mungkin malah akan marah kepada Mama karena ikut campir urusan perusahaan. Papa memejamkan matanya dan terus berfikir dengan keras. dan Mama Murni hanya bisa diam saja melihat betapa resahnya sang suami.
siang itu udara kota B masih saja terik. Kisya ingin sekali membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin. tetapi Baby Vano tidak mau jauh dari sang Mommy. Baby Vano begitu manja dan hanya ingin berdekatan dengan Kisya. setelah di peluk sambil tiduran. Baby Vano juga ingin di gendong oleh sang Mommy. Kisya bahkan kesulitan untuk ke kamar kecil karena Baby Vano akan lagsung berteriak menangis memanggil-manggil sang Mommy.
"Sayang kenapa belum bobo siang Baby?" tanya Kisya pada sang buah hati yang masih memeluk tubuhnya dengan erat. Baby Vano menempel tidak mau di pisahkan. seorang anak memang seperti itu jika dia merasakan rasa sakit dalam tubuhnya. seperti halnya Baby Vano yang begitu melekat tak mau di pisahkan dengan Kisya.
"Apa Dede mau digendong oleh Oma sayang, sini oma gendong pinter!" ucap Mama Murni sambil mendekati Kisya dan Baby Vano. namun Baby Vano menggeleng. dia hanya ingin bersama dengan Mommy-nya saja.
"Dede pasti kangen Daddy ya sayang, sabar ya Daddy sedang sibuk, dia pasti akan segera menghubungi kita nak!" ucap Kisya sambil mengelus lembut kepada sang Baby tampan itu. Kisya masih saja merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada bayinya itu. Dia merasa dirinya tidak berguna karena tidak menjaga dengan baik amanah suaminya. padahal Jino mewanti-wanti agar Kisya bisa menjaga diri dan menjaga buah hati mereka. tetapi dia terlalu lebay dan bucin. sehingga dia sampai melamun saat Baby Vano sedang didalam kolam renang.
Istri mana sih yang tidak cemas ketika suaminya pergi selama empat hari dan ternyata tidak ada kabar berita sedikitpun. dan kecemasan itu sangat menggu pikiran kisya saat itu. tiba-tiba saja ponsel Papa berdering. ada telepon masuk Interlokal.
🌺🌺🌺
Bersambung
Buku my Baby silahkan order
Rp 90 rb
Tebal 286 halaman.. Kalian dijamin puas bacanya.
__ADS_1