
Jeff masuk ke dalam ruangan instalasi gawat darurat. Dia melangkah dengan cepat. Dia sudah tidak sabar menunggu giliran untuk bertemu dengan istri tercinta. Terlihat bunda Nisya sedang menyuapi Kisya makan. Jeff kini sudah berdiri di samping Kisya dan bunda Nisya.
"Kis, bagaimana sekarang kondisi kamu?" Jeff bertanya dengan kecemasan. Kisya sedikit menyunggingkan senyum seraya berkata.
"Aku baik-baik saja, setelah dapat suntikan intravena dari dokter, rasa sakit di perut dan pusingnya hilang kak."
"Syukurlah kalo begitu." Jeff tersenyum dengan lega. Bunda Nisya hanya terdiam sambil terus menyuapi Kisya makan.
"Bunda, kalau bunda mau istirahat, istirahat saja biar Jeff yang menemani kikis." Ucap jeff.
"Tidak Jeff, kita temani Kisya sama-sama, bunda tidak bisa meninggalkan kikis sendiri."
"Baiklah bunda.,"
"Maafin kikis sudah membuat kalian cemas, dan harusnya malam ini kalian beristirahat, bunda dengan kak Jeff malah begadang disini."
Kisya berkata dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa ko, jangan mencemaskan hal yang tidak penting." Jeff berkata dengan senyuman.
"Makanya jaga baik-baik pola makanmu, berhenti makan-makanan pedas. Bunda tau kalau kamu sangat suka pedas, kamu dan Lintang sama saja, tapi kalau sudah begini kan kamu sendiri yang merasakan rasa sakitnya." Bunda berkata dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Iya bunda maaf!" Kisya menundukkan wajah sesalnya.
"Sekarang nasi sudah menjadi bubur, dan kikis tidak boleh mengulanginya lagi ya!"
"Baik bunda."
Setelah selesai menyuapi kisya makan, bunda dan Jeff masih setia menemani Kisya. Diperkirakan pagi hari Kisya baru boleh pulang dari rumah sakit. Kisya sesaat menatap bunda dan Jeff yang sedang berbicara . Dia mengingat kembali ucapan sang bunda. Yang melarang keras Jino untuk mendekatinya. Kini Kisya hanya bisa merebahkan diri dalam kekalutan.
Dia memejamkan mata berpura-pura tertidur lelap padahal pikiranya menerawang jauh. Mengingat hal tadi. Dia mendengar dengan jelas bahwa bunda Nisya mengancam Jino. Hal itu yang membuat sebuah tanda tanya besar dalam hatinya. Apa yang telah terjadi pada Jino dan istrinya dulu? Sebuah pertanyaan yang sangat ingin dia dengar jawabanya. Tetapi bunda Nisya seolah tidak mendengar ucapannya tadi.
Apakah ada masalah antara Jino dan istrinya dahulu. Sampai peristiwa kelahiran baby Vano pun harus menjadi ancaman. Kanapa bisa bundanya mengancam Jino seperti itu. Apakah perbuatan Jino pada isterinya sangat jahat sehingga Jino begitu takut orang lain mengetahui perbuatanya. Ribuan pertanyaan ingin sekali dia lontarkan. Tetapi semua hanya bisa terucap di angannya saja.
Dokter mengatakan bahwa kisya tidak boleh terlalu banyak berfikir dan stres. Gangguan jiwa yang terjadi setahun lalu berakibat fatal pada kondisi mentalnya. Kepergian bunda Nisya tadi semata-mata memberi waktu untuk Kisya melepaskan stres karena rencana pernikahan. Ternyata betul. Dengan kehadiran Jino rasa stres tersebut hilang.
Penyakit asam lambung sangat erat kaitannya dengan psikis. Mental dan pikiran yang terlalu keras bekerja. Karena itu, setelah bunda Nisya mendengar ucapan dokter yang mengatakan bahwa kisya tidak boleh terlalu banyak pikiran, dengan cepat bunda Nisya memberikan ruang dan waktu untuk Jino dan Kisya bersama. Bukan berarti bunda Nisya menyetujui hubungan Jino dan Kisya. Melainkan ini semua demi mental Kisya supaya lebih tenang.
Untuk saat ini rasa benci bunda Nisya terhadap Jino belumlah hilang. Dia masih merasakan denyut kesakitan ketika mengingat perbuatan bejat jino. Rasa benci yang menjalar di urat nadi sang bunda masih mengalir mengikuti aliran darahnya. Sama sekali bunda Nisya belum bisa melupakan rasa sakit dalam hatinya. Karena itu sebuah restu untuk Jino dan Kisya sama sekali tidak akan dia ucapkan.
Kebenciannya terhadap Jino tidak bisa dengan mudah dia hilangkan. Ketika bunda Nisya melihat Jino mengecup tangan Kisya. Saya itu bunda Nisya bergemuruh merasa marah. Bunda teringat kembali pikiranya. Ingatan masa lalu nya. Sehingga terbayang sudah bagaimana dahulu Jino menyentuh Kisya. Bayangan itu membuat bunda Nisya geram dan begitu membenci jino.
"Kita percepat resepsi pernikahan kalian!" Bunda Nisya berkata dengan helaan nafas berat.
__ADS_1
"Menurut bunda kapan?"
"Secepatnya, bunda ingin Minggu depan kalian sudah tinggal satu rumah, bunda tidak bisa selalu menemani Kisya karena harus merawat Rasya di Singapura. Karena itu, tugas kamu untuk merawat dan menjaga Kisya Jeff." Tutur bunda dengan tatapan yang dalam. Menatap sang menantu.
Jeff tersenyum dengan wajah senang. Bagaimana tidak senang. Itu adalah hal yang dia nantikan. Dia ingin segera memiliki Kisya seutuhnya. Dan menyatakan kepada dunia bahwa kisya adalah miliknya.
"Baiklah bunda, Jeff berjanji akan selalu menjaga dan merawat Kisya dengan baik, bunda harus percaya semua itu!"
"Bunda percaya sama kamu Jeff, kamu adalah harapan bunda. Bunda yakin kamu akan bisa membuat kisya bahagia. Karena Kisya yang sebenarnya Kisya yang terdahulu, dia itu sangat menyayangi kamu."
Ucap bunda Nisya merasa yakin.
Jeff tersenyum dengan manis. Jeff begitu senang bunda Nisya mendukungnya. Jeff ingin segera memiliki Kisya seutuhnya. Kisya mendengar ucapan sang bunda dan jeff. Dia merasakan dadanya sesak dan sangat sakit. Denyut di kepalanya semakin nyeri. Dia tak sanggup untuk menolak itu semua. Dia harus bisa dan harus iklas menerima itu semua.
Kisya masih berpura-pura tidur padahal dia mendengar semua ucapan bunda dan Jeff.
"Semuanya kini sudah berakhir kak " Kisya berkata dalam hatinya sambil membayangkan wajah jino yang penuh dengan kekecewaan. Kisya membayangkan itu Dengan jelas. Kisya bisa melihat betapa Jino akan sangat kecewa ketika resepsi itu dilaksanakan.
"Aku bukan orang yang munafik, aku sangat mencintai kak Jino, tetapi aku tak bisa berbuat apapun ketika takdir telah menyatakan bahwa aku adalah istri dari seseorang." Kisya berkata dalam hatinya dengan mata terpejam menahan sebuah beban dalam hatinya.
Bersambung❤️
__ADS_1