
Selang seminggu setelah pesan itu terkirim. Jino masih belum bisa menemukan siapa pengirim teror pesan tersebut. Jino tau dengan jelas bahwa dirinya harus segera menemukan orang itu secepat mungkin. Orang itu telah menanam sebuah bibit jahat dalam keluarganya. Karena pesan tersebut, kini Kisya tidak mau bicara sama sekali kepada Jino.
Kini Jino dan Kisya sudah pulang ke apartemennya Jino. Kisya merawat Baby Vano dengan penuh kasih sayang. Namun Kisya sama sekali tidak menyapa Jino sepatah katapun. Jino merasa sangat sedih dengan sikap sang istri seperti itu. Karena itu Jino akan mencari orang itu sampai dapat.
Seperti biasa Kisya bangun dan membuat sarapan untuk sang suami. Kisya menyiapkan baju dan bekal makan siang untuk Jino. Jino Sangat menyukai masakan sang istri. Mereka masih berdiam. Kisya tidak pernah menyapa Jino. Rasa sakit hati Kisya masih tersimpan. Membuat mood nya hilang tanpa sisa.
Teror pesan itu membuat perubahan drastis. Tetapi Jino tidak patah semangat. Dia terus mengajak Kisya berbicara walaupun Kisya tidak menjawabnya. Satu hari Jino pamit untuk pergi bekerja. Kisya mengantar Jino sampai ke pintu. Waktu itu pernikahan mereka sudah sampai satu bulan. Bahka Jino dan kisya seperti orang asing.
Jino hendak pergi ke luar negri untuk perjalanan bisnis.
"Aku pergi ya sayang, paling lusa aku pulang!" Ucap Jino sambil menatap Kisya dengan tatapan penuh cinta. Sedang Kisya hanya mengangguk saja. Lalu Jino pun berangkat. Sebenarnya Jino ingin sekali mengecup kening sang istri. Dia sangat merindukan istrinya yang lembut. Namun sekarang istrinya sama sekali tidak mau berbicara padanya. Kisya masih rajin meminum obat. Setiap malam Kisya meminum obat dengan rutin. Sehingga Jino sama sekali tak bisa menyentuh Kisya yang tertidur dengan sangat lelap.
Jino setiap malam tidak bisa tidur. Dia menahan aura lelakinya sekuat tenaga. Jino hanya bisa memeluk sang istri dengan lembut ketika istrinya tertidur. Karena pada saat kisya bangun. Kisya akan langsung menghindari Jino dan menjauh. Karena setiap malam begadang Jino jadi terlihat pucat dan mata panda.
Seperti saat itu. Jino hendak pergi ke bandara. Namun malah ketiduran di kantor. Awalnya cuma mau mengambil berkas yang tertinggal. Tetapi malah ketiduran di kantor. Sekretarisnya datang dan segera membangunkan Jino. Karena mereka harus segera berangkat ke belanda.
"Kita sudah terlambat pak!" Ucap Angel.
"Yatuhan kenapa aku bisa ketiduran seperti ini, ayo Angel kita berangkat!" Ajak Jino. Mereka lalu dengan segera berangkat menuju bandara. Waktu itu pukul 10:00.00. Jino dan Angel sampai di bandara.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Kisya sedang sibuk mempersiapkan bahan untuk Presentasi di kampusnya. Kini Kisya sudah mulai masuk kuliah. Lintang sekarang sudah menjadi kakak kelasnya. Mereka tidak lagi satu kelas seperti dahulu. Tetapi setiap jam istirahat mereka selalu bersama dan tak terpisahkan. Lintang merasa ada yang aneh pada diri Kisya. Pasalnya kini Kisya lebih banyak diam.
Kisya berbeda dari biasanya. Kini Kisya selalu murung dan terlihat sedih. Lintang tau dengan jelas pasti ada sesuatu hal. Lintang mengajak Kisya untuk berbicara dari hati kehati. Namun Kisya sama sekali tidak mau berbicara apapun. Lintang dengan sabar memberu waktu kepada Kisya untuk bisa berbicara kapanpun itu. Walau bukan sekarang. Setidaknya Lintang sudah berusaha.
Setiap hari Lintang menjemput Kisya untuk berangkat ke kampus. Sedang Baby Vano di titip bersama Mama Murni. Karena Bunda Nisya harus kembali ke Singapura untuk merawat Rasya.
"Ayo ke kantin Kiss!" Ajak Lintang. Dan Kisya pun mengangguk. Disana mereka memilih makanan dan beberapa minuman dingin. Kebetulan Kisya dan Lintang duduk di depan televisi. Betapa terkejutnya Kisya saat mendengar sebuah berita kecelakaan sebuah pesawat. Pesawat menuju ke Belanda meledak dan jatuh ke lautan. Sekarang tim SAR sudah mulai mencari keberadaan bangkai pesawat.
"Hah, belanda, suamiku, Jino?" Kisya terkejut air matanya menetes tak terkira. Kisya langsung berdiri dan berlari menuju ke mobil. Dia hendak menuju ke bandara. Lintang mengikuti dari belakang.
"Ada apa Kis, kenapa?" Lintang merasa terkejut dengan sikap Kisya. Lintang terus mengemudikan mobilnya.
"Huhuhu.. kak Jino Lintang kak Jino." Tangis Kisya meledak. Air matanya mengalir sangat deras. Tubuhnya lemah seketika.
"Dia tadi pamit untuk berangkat ke Belanda, suamiku, suamiku." Kisya menjerit meraung raung.
"Hah, jadi , yatuhan!" Lintang begitu terkejut. Sesampainya di bandara. Ternyata sudah banyak orang yang mempertanyakan keberadaan Anggota keluarga mereka. Banyak yang menangis dan menjerit. Termasuk Kisya sudah menangis meraung raung. Dia menyesali perbuatannya. Karena mengacuhkan Jino.
"Kakak." Jerit Kisya terduduk di bandara. Lintang juga menangis ketika tau bahwa pesawat yang Jino tumpangi jatuh. Kisya akhirnya pingsan. Lintang lalu menelepon Papa Geovandra. Papa Geovandra pun terkejut mendengar berita tersebut. Papa langsung meluncur dari kantor menuju ke bandara. Papa masih ingat Jino tadi pagi pamit meeting ke belanda bersama sekertarisnya Angel.
Sesampainya di bandara. Papa melihat keadaan Kisya yang masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Yatuhan cobaan apa lagi ini?" Ucap Papa Geovandra dengan air matanya yang menetes. Dia tak sanggup kebilangan putra kesayangannya. Setelah dia kehilanhan Jeff kini dia harus kehilangan Jino. Itu sungguh membuat hatinya hancur. Dia duduk di lantai. Kisya masi pingsan di lantai dan belum ada yang membatu Kisya pindah. Lintang menangis dengan pilu. Begitupula dengan Papa Geovandra.
"Ayo telepon ponsel Jino. Siapa tahu dia tidak jadi berangkat!" Ucap Papa. Dan Lintang langsung menelpon Jino. Namun yang menganggkat itu Marina sekertaris Jino yang lain. Marina mengatakan bahwa Jino sudah berangkat ke Belanda dan ponselnya tertinggal di kantor. Hati Lintang tercabik mendengar ucapan Marina. Lintang menjerit merasakan hatinya yang begitu sakit.
Dia tak sanggup untuk menahan tangisanya. Dia melemah.
"Kak Jinoooo." Jerit Lintang dengan tangisnya. Papa Geovandra semakin frustasi. Dadanya mulai terasa sakit.
"Yatuhan." Papa mulai merasakan sesak nafas.
"Lintang, Lintang," Ucap Papa pelan. Papa tak sanggup berkata keras. Lintang tidak mendengar ucapan sang Papa. Lintang masih terus menagis sambil memeluk Kisya yang masih pingsan.
"Lintang, Lin ,aww.. tolong Papa!" Papa mulai merasakan rasa sakit pada dadanya.
Lintang baru menyadari bahwa Papa sedang kesakitan.
"Papa?" Lintang terkejut sang Papa begitu pucat. Papa memegang dadanya dan terlihat menderita dengan rasa sakit yang menyiksanya.
"Papa kenapa?" Lintang begitu cemas.
"O , obat Papa." Ucap Papa sangat pelan.
__ADS_1
Lintang tanpa bertanya lagi langsung membuka tas milik Papa dan langsung mencari keberadaan obat milik Papa. Papa Geovandra sudah sangat kesakitan. Wajahnya mulai membiru. Lintang berusaha terus mencari keberadaan obat jantung Papa. Namun karena cemas dan gugup. Lintang belum juga menemukan obat tersebut.
🌺 Bersambung 🌺