
Baby Vano masih terbaring lemah di ranjang kesakitanya dengan memeluk sang Mommy. Saat itu Papa dan Mama sedang tidak ada. Karena Papa Geovandra harus bekerja sedang Mama harus membeli makananan untuk mereka makan. Kisya sedikit tertidur karena lelah. Baby Vano bahkan tidak mau lepas sana sekali dari pelukannya.
Wanita itu terlihat lebih kurus dari biasanya. Sudah satu minggu suaminya pergi, dan Baby Vano juga masih belum sembuh total. Rasa bersalah kadang menjalar di sanubari seorang ibu. Ketika menyadari bahwa semua kesakitan sang buah hati adalah keteledorannya.
Tiba-tiba saja ada orang masuk ke dalam ruangan rawat inap Baby Vano. Orang itu berjalan mendekati Kisya dan duduk di sofa. Kisya sedikit membuka matanya. Dia begitu terkejut melihat seseorang ada di ruangan itu.
"Hai," ucap wanita itu sambil tersenyum kepada kisya. Kisya membetulkan posisinya menjadi setengah duduk.
"Kamu disini Rania?" ucap Kisya terheran.
"Iya, aku tidak melihatmu di kampus, dan ternyata terdengar kabar anakmu sedang sakit, eh ternyata itu benar, jadi aku kesini untuk nengok anak kalian, tuh aku bawa buah segar untuk kalian." ucap Rania seolah merasa iba kepada Kisya dan Baby Vano.
"Iya Baby Vano sakit, terimakasi deh!" Kisya sedikit sedikit menorehkan senyum manisnya.
"Suami kamu kemana?" Tanya Rania.
"Dia sedang ke luar negri."
"Oh, dia pasti sedang berlibur kan, ya? masa berlibur di sela-sela anak sakit sih?" Rania setengah mengejek.
"Dia bukan berlibur, tetapi dia sedang mengurus cabang perusahaan yang ada di Amsterdam." Kisya sedikit tidak senang dengan ucapan Rania. Pasalnya wanita itu selalu saja membuat Kisya tidak nyaman. Dan sekarang dia malah datang dan mengompori Kisya dengan mulutnya yang berbisa.
"Ah benarkah, apa kamu yakin Kia, Jino lelaki sehat loh, apa dia tahan satu minggu berjauhan dengan istrinya, terus kalau hawa pria-nya datang, apa kamu yakin Jino bisa menahannya. Ah aku tidak yakin tuh, secara disana banyak sekali wanita cantik dan seksi." Rania terkekeh dan seolah terus membuat Kisya terbakar dalam api cemburu.
"Suamiku akan bertahan dan setia sama aku Ran, jadi kamu tidak perlu banyak bicara!" Kisya menatap Rania dengan tajam.
"Suamimu mungkin tahan, tetapi jika ada perempuan yang lebih nekad daripada Rebeka bagaiama?"
"Rebeka, dia orang suruhan kamu kan, kamu itu tidak ada kerjaan ya!" Kisya terkekeh setengah mengejek Rania.
__ADS_1
"Bukan ko, dia hanya anak yatim yang aku biayai beserta anak yatim lainnya, aku tidak menyangka saja kalau dia berjuat nekad." Rania membalas tatapan Kisya. Kini hawa ruangan sudah tidak segar lagi dengan kedatangan wanita ular itu.
Sesaat kisya terdiam. Baru kemaren sore James melaporkan kepadanya bahwa Rebeka sudah ditangkap oleh Polisi karena tuntutan Jino. Tentang Pencemaran nama baik. Karena menuduh Jino menghamilinya. Tetapi Rebeka mengaku tidak disuruh atau tidak diperintahkan oleh siapapun. Dia mengatakan bahwa dia sangat menyukai Jino. Sehingga dia berbuat nekad seperti itu. Laporan James kemaren sore membuat Kisya sedikit kecewa.
Pasalnya kisya sangat yakin bahwa rebeka itu adalah orang suruhannya Rania.
"Rebeka itu orang suruhan kamu, dan aku tahu itu Ran, cuman aku tidak habis pikir saja, apa tujuan kamu mendatangkan Rebeka untuk merayu suamiku, apa kamu tidak punya rasa malu?" Kisya menatap Rania dengan tajam. Seolah mata Kisya ingin membunuh semua kebohongan wanita itu.
"Apa maksumu, itu semua tidak benar, untuk apa aku melakukan itu?" Rania terkekeh mendengar ucapan Kisya.
"Kamu memang munafik, aku tidak percaya dengan semua ucapanmu!" Kisya membuang mukanya.
"Kamu marah terhadapku, eh Nyonya muda Daviz, jangan marah seperti itu, aku bahkan tidak tahu apapun," Rania masih tersenyum dengan semua kepalsuannya.
Kisya menghela nafas kasar. Dia tidak mau Rania ada di dalam ruangan ini.
"Untuk apa kamu datang kemari?"
"Lihat ini, ini Angel kan!"
"Iya, kamu kenal?"
"Siapa yang tidak kenal dia Kis, lihat bahkan dia gadis yang sangat cantik dan seksi, dia sekertarisnya suami kamu kan?" Rania mulai meracun.
"Iya." Kisya mengangguk,"Kamu tahu dari mana, kalau Angel adalah sekertaris suamiku?"
"Gimana aku tidak tahu Kis, lihat saja, tuh dia banyak mempostinv foto kebersamaan dia dengan bos-nya di kantor." Rania memperlihatkan foto Angel bersama Jino. Mereka memang terlihat akrab di foto itu, bahkan Jino tersenyum dengan manis melambaikan tanga ke arah Camera ponselnya.
Rasa cemburu mulai merasuki tubuhnya. Tetapi sebisa mungkin dia tepis. Kisya mencoba menguatkan diri di hadapan Rania, dia tidak mau terlihat lemah. Dia harus terlihat kuat padahal sebenarnya dia sangat rapuh.
__ADS_1
"Mereka sangat dekat, ya." Rania tersenyum melihat foto-foto tersebut. Sedang Kisya hanya bisa terdiam dengan semua aura cemburu yang dia tahan.
"Iya, mereka kan bekerja bersama, jadi wajar saja dekat!" Kisya mencoba menepis semua rasa cemburunya.
"Sekarang apa Jino berangkat bersama Angel?" Tanya Rania. Kisya hanya terdiam. Dia malas untuk menjawab pertanyaan dari rania. Pasalnya kisya tau jelas bahwa Angel sudah menyusul Jino dua hari yang lalu. Dan kenyataan itu membuat Kisya merasakan dadanya sesak.
"Kis, kenapa kamu hanya diam?" Tanya Rania.
"Aku cuma malas saja membahas itu, lagian Angel memang sekertaris suamiku, jadi wajar saja mereka berfoto bersama!" ucap Kisya kembali menguatkan diri.
"Iya mereka bos, dan sekertarisnya, mereka terlihat dekat, dan kamu tidak Kis, banyak sekali di kota ini yang menjadi sekertaris plus-plus."
"Apa maksudmu?" Kisya menatap Rania.
"Iya, Seorang sekertaris plus-plus, yang ketika di luar kota, atau di luar negri mereka mendadak menjadi teman tidur!"
Deg.
Jantung kisya bergetar lebih cepat dari biasanya. Dia merasa sangat cemburu mendengar ucapan Rania. Rania sudah sukses meracuni hati Kisya dengan sebuah kecemburuan.
"Kamu jangan becanda Rania, itu tidak benar!" Kisya sekali lagi menguatkan hatinya.
"Lah ucapanku betul, kamu tahu pengusaha yang bernama Adilaga, lihat ini, mereka bahkan baru ketahuan berselingkuh dengan sekertarisnya ketika mereka sudah memiliki seorang anak!" Rania memperlihatkan foto Adilaga yang sedang di tuntut cerai oleh istri pertamanya. Hati Kisya semakin memanas melihat berita tersebut. Tetapi dia harus bisa kuat menepis semua rasa cemburu yang ada pada hatinya.
"Bisa kah kamu diam Rania!" ucap Kisya pelan.
"Loh kamu marah?" Rania terkekeh.
"Semua ucapanmu omong kosong, dan aku tidak akan percaya kepada semua ocehanmu, aku percaya suamiku!"
__ADS_1
🌺🌺🌺
Bersambung