Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Amarah


__ADS_3

Kisya langsung masuk ke dalam mansion sambil menggendong Baby Vano. Buah hatinya masih nempel kaya prangko dalam peluknya. Baby Vano tertidur lelap tapi tangannya masih erat mencengkram kemeja sang Mommy. Dengan perlahan Kisya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Kisya merebahkan tubuh sang putra kecilnya di bok bayinya. Lalu kisya duduk dengan santai di sofa. Tubuhnya masih bergetar karena kejadian tadi. Dadanya masih berdegup begitu kencang karena hal yang dramatis itu. Entah kenapa Kisya merasa kesal karena kejadian tadi. Kenapa bisa ada pengemis yang ngotot sepeti itu. Kisya yakin pasti itu pasti pengemis setingan.


Dia ingin sekali menceritakan semua keluh kesah yang dia alami kepada sang suami. Tetapi dia tidak mau menggangu pikiran suaminya. Dia tahu bahwa disana Jino sedang menghadapi sebuah masalah yang tidak dia mengerti. Kisya tidak mau menambah beban hati Jino. Karena itu dia hanya bisa memendamnya dalam hati.


Terdengar suara gelas pecah di lantai bawah. Kisya terkejut karena suaranya begitu gaduh. Kisya berjalan dengan cepat untuk melihat kondisi di bawah. Dengan segera Kisya merapat ke tempat kejadian. Kisya hanya bisa terdiam sambil melihat Papa Geovandra yang terlihat dengan wajah merah padam. Amarah terlihat diwajahnya.


" Tidak berguna, untuk apa aku membayarmu dengan mahal, kalau mengurus satu pengemis tua saja tidak becus!" Papa Geovandra berteriak dengan sangat marah. Dia begitu bernafsu dengan kemarahannya. Dia tidak terima cucu berharganya di jadikan bulan-bulanan orang tidak bertanggung jawab.


"Maaf bos kita kalah orang, katanya jumlah mereka banyak dan orang kota cuma 4." James menundukkan wajahnya. Ketika mendengarkan kemarahan Tuan Geovandra. Bos besarnya itu memiliki sifat yang sama dengan anaknya yaitu Jino. Kalau sudah marah maka akan meledak semua amarahnya.


"Banyak alasan kamu James. Sekarang aku tidak mau tahu kamu harus dapat info siapa orang tersebut, dan segera laporkan ke polisi!"


"Siap bos, sudah saya laporkan soal rencana penculikan cucu anda dan soal penikaman yang terjadi pada ke empat anak buah saya bos!" ucap James.


"Bagus, langkah berikutnya temukan pengemis tua itu secepatnya, setelah itu tambah orang untuk pengamanan rumah dan anggota kelauarga!"


"Iya baik bos, akan saya upayakan bisa saya!" ucap James.


"Upayakan, itu harus!" bentak Papa Geovandra kepada James.


"Siap bos!" James berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Pergilah, aku tidak mau melihatmu!" ucap Papa Geovandra dengan pelan. Lalu dia duduk di sofa dengan nafas yang tersengal-sengal karena selesai marah.


Mama Murni datang sambil membawa segelas air putih yang dingin.


"Minum dulu pa, biar tenang!"


ucap Mama murni dengan penuh perhatian.


"Terimakasih Ma!" ucap Papa sambil mengambil gelasnya dan langsung meminum air putih tersebut. Papa memang tidak bisa tenang karena masalah ini. Papa tidak bisa tinggal diam. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi selama ini. Dan siapa yang hendak mempermainkan keluarganya.


Kisya sedari tadi melihat sang Papa mertua dengan kemarahannya. Dia baru pertama melihat Papa Geovandra semarah itu. Tetapi anehnya Kisya tidak merasa takut Melihat Papa marah. Kisya malah terasa sedang dilindungi oleh Papa mertuanya.


"Kis, ko berdiri di situ?" Tanya Mama dengan senyuman manisnya. Kisya membalas senyuman sang Mama. Kisya lalu duduk di seberang kedua mertuanya. Dia sangat ingin mendengar informasi yang James katakan. Sayangnya Papa sama sekali tidak mau membahas itu semua. Terlihat Papa masih terdiam dengan kekalutan yang dia rasakan.


"Sudah Ma, dia tidur sedari tadi dia di mobil!" ucap Kisya.


"Syukurlah dia pasti sangat ketakutan tadi, ya Tuhan kenapa bisa terjadi hal seperti itu ya, kita harus selalu berhati-hati!" ucap  Mama Murni dengan wajah cemasnya.


"Iya Ma, tadi Dede sangat ketakutan sampai tubuhnya bergetar, jangankan Dede, Kikis juga ketakutan!" Kisya menundukan wajahnya sambil mencengkram dan memainkam roknya.


"Sudahlah semua sudah berlalu yang penting untuk selanjutnya kita harus sangat berhati-hati!" ucap Mama Murni dengan tatapan penuh harap. Menatap sang menantu yang masih terlihat gelisah.


"Kis, bagaimana hubungan kamu dengan gadis yang bernama Rania?" tanya Papa Geovandra sambil menatap sang menantu.

__ADS_1


"Kurang baik Pa, kemaren dia datang ke rumah sakit, dia bilang untuk menjenguk Baby Vano, tetapi dia hanya membuat aku panas saja Pa!". Kisya menantap sang Papa.


"Membuat panas, apanya?" Papa Geovandra merasa heran. Dia ingin kejelasan untuk hal itu.


"Iya pa, dia datang kemaren siang, dan hanya untuk membuat aku cemburu kepada kak Jino, dia mengatakan kak Jino sudah terlalu dekat dengan sekertarisnya, bahkan mereka memiliki hubungan lain selain Direktur dan sekertarisnya." tutur Kisya.


"Apa?" Mama terkejut mendengar ucapa sang menantu.


"Terus apa kamu percaya kis?" Tanya Papa.


Kisya menggelengkan kepalanya," Tidak Pa, walau sempat merasakan cemburu, tetapi Kisya selalu percaya kepada kak Jino, kisya yakin dia tidak akan mengkhianati Kikis Pa, kami saling mencintai, tidak mungkin kak Jino berkhianat!" ucap Kisya dengan mata yang berkaca-kaca


"Bagus sekali Kis, kita tidak boleh percaya kepada orang luar, apalagi dia itu seorang wanita, siapa tahu memang dia sengaja membuat hubungan kalian renggang, kalian harus membuat pondasi yang kokoh dalam membangun rumah tangga, yaitu dengan kekuatan kepercayaan!" ucap Mama Murni. Sedang Papa Geovandra hanya mengangguk saja.


"Iya Ma Kikis percaya pada kak Jino, dia tidak akan semudah itu goyah, Kikis yakin, dan keyakinan kisya itu 99 persen Ma," ucap Kisya dengan senyuman yang manis. Sang Mama merasa senang. Ketika menantunya bersikap seperti itu. Mama tahu dengan jelas bahwa Jino sangar mirif dengan suaminya. Papa Geovandra juga sangat setia. Karena itu Mama Murni merasa Jino tidak mungkin melakukan hal yang sehina itu dengan berpacaran bersama sekertarisnya.


"Papa sangat salut, Kikis bisa percaya kepada Jino, yakinlah hati Kikis, jangan sampai goyah. Jino itu keras. Kalau sudah mencintai dia akan terus mencintai, kalau sudah tidak suka dia akan terus mengindari. Karena itu terus percaya lah kepadanya, apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting adalah hari ini!" tutur Papa Geovandra sambil menatap sang menantu dengan intence.


"Apa, di masa lalu?" Kisya sedikit kebingungan dengan apa yang dia dengar."Memangnya ada apa di masa lalu?"  Kisya mengerutkan dahinya seolah sangat ingin tahu. Memang jelas dia sangat penasaran dengan ucapan sang Papa. Memangnya apa yang terjadi di masa lalu. Sampai oapa berkata sperti itu.


"Itu hanya perumpamaan saja nak, jangan diambil hati, apalagi sampai kepikiran!" ucap Papa mengelak. Papa merasa terkejut lidahnya bisa keseleo seperti itu. Padahal selama ini dia selalu berusaha untuk menyembunyikan semuanya dari Kisya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2