
Pria itu mengecup lembut kening sang istri dan memeluk tubuh istrinya dengan begitu posesif. Tangannya mulai berjalan-jalan menelusuri setiap lekuk tubuh wanitanya. Sampai dia berhenti di sebuah tempat yang dia kagumi. Daerah bawah sensitif sang istri.
"Apa yang kakak lakukan kali ini, bahkan di depan umum." Kisya mulai menggerutu dengan sikap sang suami. Tetapi Jino tidak memperdulikan hal itu sama sekali. Dengan asyik Jino masih memainkan area itu. Wajah Kisya sudah memerah. dia bahkan kini hanya bisa menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara-suara yang aneh.
Wanita itu tidak bisa menikmati dengan betul suasana pantai. Karena dia takut ada orang yang melihat perbuatan mereka.
"Ini adalah hukuman, karena berani mengenakan pakaian seperti ini!" Jino berbisik mesra. Dan langsung mengecup bibir sang istri dengan penuh aroma romantis. Kisya hanya bisa terdiam menerima semua sentuhan dari sang suami tercinta. Tetapi tiba-tiba saja. Tangan Jino hendak membuka bikini Kisya.
"Dasar mesum." Wanita itu mendorong sang suami sampai terjatuh. Kisya terkekeh melihat sang suami terjatuh.
"Wanita nakal." Jino bangun dan langsung saja berlari mengejar sang istri. Kisya merasa terkejut sang suami berlari mengejarnya. Lalu ia pun berlari menghindari Jino. Mereka saling berkejar-kejaran sampai mereka kelelahan.
Kini Jino dan Kisya merebahkan tubuh lelah mereka di pasir pantai tanpa menggunakan alas. Mereka kini sedang mengatur nafas lelah mereka. Jino dan kisya kini tidur di atas pasir pantai. Jino mempersilahkan sang istri untuk menjadikan tangannya sebagai bantal. Dengan senang hati sang istri yang menjadikan koperasi sebagai bantalnya.
"Sayang apakah kamu senang berada di pantai Naksan?" tanya Jino sambil menatap sang istri dengan tatapan yang dipenuhi rasa cinta.
"Makasih banyak ya, sudah mengajak Mommy jalan-jalan ke sini!" wanita itu tersenyum manis menatap sang suami.
"Senang di sini, atau senang di kamar?"
"Di mana ya?" Kisah tersenyum dan menghentikan ucapannya.
"Jawab dong Mom!"
" Kikis senang, baik berada di kamar, atau pun berada di sini kak, bisa selalu bersama kakak, Kikis akan selalu merasa bahagia. Di mana pun Kikis berada tanpa Kakak, Kikis tidak akan merasa bahagia." tutur sang istri dengan suara yang lembut.
__ADS_1
Jino begitu senang mendengar semua ucapan sang istri. Dia tidak menyangka bahwa sang istri yang tidak mencintai dirinya sebesar dia mencintai sang istri. Hatinya begitu hangat dan tenang Ketika sang istri yang mengucapkan kata-kata cinta untuknya.
"Terimakasih sayang, aku juga sama sepertimu, hidup ku tidak lengkap tanpa dirimu, tetaplah seperti ini , apapun yang terjadi." tutur Jino sambil mengecup kening sang istri dengan penuh kelembutan.
Mereka saat ini bergitu bahagia. Hari kedua honeymoon mereka habiskan di pantai Naksan dengan penuh gejolak cinta yang menggebu. Kini mereka akan kembali ke hotel. Mereka memutuskan untuk menginap di pantai naksan sampai besok.
Setelah cek in, dengan segera Kisya dan Jino. Masuk ke dalam kamar mereka. Mereka memutuskan untuk membersihkan tubuh mereka dari lengketnya air laut dan pasir yang masih mengotori tubuh mereka berdua. Mereka memutuskan untuk mandi bersama dan berendam di bathtub. Tentunya mengerjakan pekerjaan yang spesial di dalam bathtub sana.
Setelah mereka kelelahan bergulat di dalam bak mandi. Maka mereka pun memutuskan untuk makan siang. Mereka makan di sebuah resto yang agak jauh dari hotel. Mereka sengaja ingin menjajal makanan di pinggir pantai. Mereka memesan banyak seafood. Dan itu membuat mereka sangat berselera untuk makan.
Mereka berdua kini sedang menikmati sajian makanan yang begitu lezat. Sampai mereka begitu kekenyangan. Setelah itu Kisya memutuskan untuk kembali ke kamar hotel. Karena ingin sekedar meluruskan tubuh lelah mereka. Kaki Kisya mulai terasa sakit karena berjalan menggunakan sepatu tinggi.
Jino mengatakan agar sang istri membuang sepatu tersebut. Karen Jino tidak tega melihat kaki sang istri kesakitan karena lecet. Dan Kisya menuruti keinginan sang suami. Setelah ini mereka akan pergi untuk membeli sendal baru untuk Kisya. Sendal yang ada di sepanjang jalan pantai Naksan . Penuh dengan pedagang kaki lima yang berjualan baju dan sendal sepatu.
Kali ini Jino membeli sendal untuk Kisya sendiri. Karena Kisya tidak bisa mengenakan sepatu lamanya. Jino memang sangat sigap. Kali ini Jino berperan jadi tukang sendal untuk sang istri. Sebagai seorang suami yang siaga. Sikap Jino membuat hati Kisya melumer. Semakin Kisya mencintai sang suami dengan sepenuh hati. Rasanya Kisya begitu bahagia bisa menjadi istri dari seorang Jino.
"Apa ini, kenapa begitu banyak?" tanya sang istri merasa terkejut.
"Karena tadi harganya murah, jadi aku beli saja, takutnya Mommy tidak suka yang ini, jadi Mommy bisa pakai yang lainnya lagi." Tutur Jino sambil membuka semua kardus yang berisi sendal dan sepatu.
"Yatuhan, Dad.. kamu ya." Kisya terkekeh melihat tingkah sang suami. Tetapi dia tetap bersyukur karena kebaikan hati sang suami. Mau membelikan dia beberapa sandal dan sepatu.
"Mommy tidak suka?" tanya Jino dengan wajah kecewanya." Kisya langsung memegang kedua pipi sang suami dan mengecup lembut kening suaminya.
"Terimakasih sayang, Mommy suka semuanya!" Kisya berbisik mesra. Jino tersenyum mendengar ucapan dari istri tercintanya.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya sayang, semuanya cantik, Mommy suka," ucap Kisya tersenyum dengan manis. Dan Jino langsung memasangkan sepatu kepada kaki sang istri layaknya seorang pangeran yang memasangkan sepatu kepada seorang putri raja.
Kisya begitu takjup dengan sikap sang suami. Jino memang selalu bisa memberi dia sebuah kejutan dan perhatian yang tidak pernah membuatnya bosan.
๐บ๐บ๐บ
Di sisi lain. Di sebuah rumah sakit. Seorang wanita sedang tertidur di samping pria yang sedang tertidur di ranjang kesakitan. tiba-tiba saja pria itu menggerakan tanggannya dengan perlahan. Pria itu mulai membuka dengan perlahan kedua matanya.
Dia merasa sangat bingung karena dia tidak tahu sedang berada di mana. Dia melihat ke sampingnya. Ada seorang gadis yang sedang tertidur lelap sambil memegang tangannya dengan erat.
"Ki," Ucap pria itu ingin berbicara banyak. Namun tubuhnya begitu lelah dan lemah. Entah apa yang akan dia ucapkan saat ini.
Wanita yang sedang tertidur itu tidak tahu bahwa pria yang sedang dia tunggui itu kini sudah sadar. Pria itu menitikan air matanya. Merasa sesak dan susah untuk menggerakan kakinya. Dengan sekuat tegana pria itu ingin menggerakkan kakinya. Tetapi tetap tidak bisa. Walau dia sudah berusaha tetapi tetap saja dia tidak bisa.
"Ki."
Pria itu kembali terdiam.
"Kis."
Pria itu kembali berbicara. Tetapi begitu susah.
"Kisya."
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บBersambung.