
Lintang begitu terkejut mendengar Kisya kecelakaan. Pasalnya dia baru mendapat kabar dari televisi. Sepertinya semua lupa memberi kabar padanya. Lintang yang sudah mulai bisa berjalan walau mengenakan tongkat. Secepatnya berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Kisya.
Lintang duduk di kusi roda didorong oleh sang suami. Lintang sudah bisa berdiri tapi belum bisa lama. Pengobatan patah tulang memakan waktu sampai 7 bulan. Kini Lintang sudah belajar jalan pelan walau tanta tongkat, tetapi dia belum bisa lama melakukanya. Lintang masuk ke dalam ruang rawat inap Kisya.
Terlihat Kisya sedang duduk termenung dengan tetesan air nata penyesalan. Betul sekali, lagi-lagi kisya menangis pilu.
"Kikis." Ucap Lintang menorehkan senyum manisnya. Lalu mendatangi Kisya. Kisya yang sedang pilu dengan tatapan mata kosong tiba-tiba saja tersenyum melihat kedatangan Lintang.
"Lintang." Kisya ternyum manis sambil mencoba merangkul sang sahabat. Lintang memeluk Kisya dengan erat.
"Kamu tidak memberitahu aku tentang kejadian ini, apa kamu sudah tidak sayang lagi teehadapku?" Ucap Lintang dengan suara manjanya.
"Lintang, aku tidak memegang ponsel, dan bunda juga sepetinya begitu." Ucap Kisya lembut.
"Aku pikir kamu sudah tak peduli."
"Mana mungkin Lintang, aku merindukan kehadiranmu, bagaimana kakimu?" Kisya melihat kearah kaki Lintang.
"Aku sudah baikan sekarang, aku sedang belajar berjalan." Lintang tersenyum dengan manis. Kisya membalas senyuman Lintang.
Mereka begitu bahagia bersama. Bunda Nisya tersenyum manis melihat Kisya dan Lintang. Mereka berdua seperti sebuah obat yang saling menyembuhkan luka masing-masing.
"Kamu sudah makan Kis?" Tanya Lintang. Kisya menggeleng dengan senyuman manja.
"Ini aku bawakan makanan dan beberapa buah, ayo kita makan bareng!" Ucap Lintang. Kisya mengangguk dan akhirnya mereka langsung makan bersama. Bunda Nisya penuh haru menatap betapa mereka bahagia ketika bersama. Bunda Nisya sangat bersyukur karena Lintang adalah sahabat terbaiknya Kisya. Bunda Nisya sendiri sudah menyayangi Lintang sepeti anak sendiri.
"Bunda ayo makan!" Ajak Lintang. Bunda lalu menghampiri kedua sahabat itu. Dan ikut makan. Boy sendiri juga ikut makan bersama. Mereka seolah melupakan beban berat dan makan dengan penuh senyuman. Bunda merasa sangat lega. Pada akhirnya ada seseorang yang begitu Kisya sayangi dan bahkan orang itu peduli dan lebih sayang kepada Kisya. Kisya dan Lintang memang tak terpisahkan.
__ADS_1
Mereka makan dengan sangat lahap. Kisya tertawa dengan bahagia bersama dengan Lintang. Kisya melupakan beban berat dalam hatinya. Kehadiran Lintang laksana sihir yang mengubah air mata menjadi sebuah senyuman. Itu semua adalah kekuatan dari seseorang yang namanya sabahat.
Beruntunglah Kisya memiliki sahabat sebaik Lintang. Dan juga sebaliknya. Setelah selesai makan. Lintang membantu menyisir rambut Kisya dan mengikatnya. Kisya begitu senang. Dan kini giliran Kisya mengikat rambut Lintang. Setelah itu mereka berdua tertawa lagi. Beberapa saat kemudian perawat pun datang memberikan obat kepada Kisya. Dan Kisya segera meminum obat tersebut.
Setelah meminum obat, Kisya langsung mengantuk dan tertidur dengan pulas. Lintang menatap Kisya dengan sendu. Begitu kasihan karena dia harus menghadapi hal seperti ini. Bunda Nisya mengatakan semuanya kepada Lintang. Bahwa Kisya merasakan penyesalan karena sudah mengecewakan Jeff. Lintang sampai menangis mendengar ucapan sang bunda.
Lintang tak tega melihat Kisya. Bunda Nisya bercerita sambil menangis . Dan itu menbuat Lintang tambah sedih.
"Sudah bunda, aku tak kuat mendengarnya!" Ucap Lintang dengan mata basahnya.
"Bunda tidak tega melihat Kisya tersiksa dengan rasa sesalnya Lin."
"Iya Lintang tau bunda, Lintang juga sangat sedih, tapi apa bunda sudah tau sesuatu hal."
"Tau tentang apa?" Ucap bunda dengan tatapan ingin tahu.
"Lihat, cinta Kisya terhadap jino bahkan lebih besar." Lintang berkata sambil menatap sang bunda dengan lekat. Bunda mengerutkan keningnya dan menghela nafas dalam dalam.
"Bunda, Kisya akan segera sembuh bersama Jino dan Baby Vano." Lintang meyakinkan Bunda Nisya.
"Tapi."
"Kak Jino sudah banyak berubah bunda, dia bukan Jino yang dulu lagi, Lintang mengenal Jino sudah sangat lama Bun, karena itu kenapa bunda tidak merestui saja hubungan mereka!"
"Tapi Lintang."
"Bunda, jika Bunda tidak bisa mempercayai kak Jino, Bunda bisa mempercayai aku Bun, aku tidak berbohong, kak Jino beneran sudah berubah lebih baik." Tutur Lintang.
__ADS_1
Bunda Nisya terlihat sangat kebingungan. Dia tak bisa berkata apapun lagi untuk mengelak semuanya. Bunda Nisya sendiri tadi melihat Jino memperlakukan Kisya dengan sangat lenbut. Tetapi entah kenapa hatinya masih berharap Jeff bisa pulang dengan selamat. Bunda Nisya belum sepenuhnya bisa memaafkan Jino . Padahal kejadian itu sudah setahun lebih bahkan kini Baby Vano sudah mau berusia lima bulan.
"Kisya akan sangat bahagia bunda, jika bisa bersama dengan kak Jino dan Baby Vano, dia bahkan sangat menyayangi bayi itu bun, Lintang berkata dengan jujur bunda, Lintang tidak meng ada-ada."
"Lintang, semua yang kisya rasakan saat ini kepada Jino semuanya hanya semu."
"Semu, Maksud bunda apa?" Lintang merasa sangat penasaran.
"Semuanya semu, karena setelah Kisya mengingat kembali semuanya, rasa cintanya kepada Jino dan Baby Vano akan menghilang." Ucap bunda Nisya pelan.
"Bunda, maksud Bunda?" Lintang sedikit mencerna ucapan sang Bunda.
"Suatu saat ingatan Kisya akan kembali Lintang, dan saat waktu itu tiba, maka semua orang tidak akan bisa menenangkanya dari rasa sakit dan kehancuran, dengan hitungan detik Jino yang dia cintai saat ini akan berubah menjadi Jino si penjahat yang sangat dia benci." Ucap bunda Nisya pilu.
Lintang terdiam mendengarkan ucapan bunda Nisya. Lintang benar-benar merasakan kebingungan. Lintang tidak memikirkan sampai sejauh itu. Tetapi Lintang masih bisa meyakini bahwa yang dia perbuat semata-mata karena cintanya kepada Kisya. Lintang tak mau lagi melihat Kisya menagis.
Lintang yakin bahwa Jino bisa membuat Kisya bahagia. Karena sudah terlihat dengan jelas bahwa mereka saling jatuh cinta. Namun karena masih saja kurang beruntung. sehingga bunda Nisya masih saja tidak bisa merestui.
"Lintang tau bunda, suatu saat memori itu akan datang lagi, tetapi entah kapan itu akan datang bun, Lintang hanya berharaf Kisya bisa terus tersenyum, setidaknya kehidupan Kisya yang semu ini bahagia dan penuh dengan senyuman Bun, hanya itu yang Lintang mau." Ucap Lintang.
Bunda Nisya masih terdiam mendengar perkataan Lintang. Sejenak dia berfikir dan hanya bisa membisu bergelut dengan pikirannya.
"Jangan sampai, hidup Kisya yang semu ini dipenuhi tangis, dan ketika hidup Kisya kembali ke memori awal, dia akan terus menangis lagi, lalu kapan Kisya bahagia bunda?
Lintang kembali berkata. Dan itu benar-benar membuat Bunda merasa tak berdaya.
Bersambung 🌺
__ADS_1
Harusnya mereka seperti ini ya😍