
Saat ini Jino masih menatap Kisya dengan sangat lekat. Tiba-tiba saja ponsel Jino berdering begitu kencang, itu adalah telepon dari sang Papa dan sepertinya telepon itu begitu penting.
"Sebentar sayang, ada telepon dari Papa," kata Jino.
"Loudspeaker," pinta Kisya.
"Oke sayang," Jino pun mulai menerima panggilan telepon dari sang Papa.
"Halo Pa, ada apa?" tanya Jino di balik telepon.
"Halo Jino, Papa sudah mengetahui tentang semua yang kita cari selama ini," kata sang Papa dengan lugas.
"Informasi tentang apa itu Pa?" tanya Jino dengan begitu penasaran.
"Semua ini tentang kisya," jawab Papa tegas.
Sesaat Jino lalu menatap sang istri dengan wajahnya yang sedikit pucat. Kisya sendiri hanya bisa mengerutkan keningnya, mendengar ucapan sang Papa menyebut namanya.
"Bagaimana, Pa?" tanya Jino dengan ragu-ragu.
"Kamu ingat tragedi percobaan penabrakan Kisya di kampus, dan kamu ingat surat kaleng yang diterima Mama dan Kisya waktu itu, yang memberikan semua foto-foto tentang kecelakaan Jeff, serta video tersebut, dan satu lagi tentang wanita yang datang ke kantormu merayumu saat itu, kamu ingat tidak tiga kejadian itu Jino?" tanya sang Papa kepada putranya tentu saja masih mengingat kejadian itu.
"Jelas saja Jino masih mengingatnya Pa," tangkas Jino.
"Semua itu dalangnya adalah Rania, mantan kekasihnya Jeffan," kata Papa.
__ADS_1
"Apa? Rania siapa dia, Jino tidak mengenalnya sama sekali," kata Jino merasa terkejut. Apalagi Kisya, dia sangat terkejut karena ternyata Rania adalah dalang semua masalah yang dia hadapi beberapa bulan kebelakang.
"Rania apa dia orangnya?" ucap Kisya dengan sangat pelan, dia berpikir begitu serius, dia merasa begitu terkejut apalagi dia mengingat bahwa Rania adalah adik dari Ardika yang dia temui barusan.
"Betul, kita bahkan tidak mengenalnya, tapi dia sangat membenci Kisya, karena Jeff mencintai Kisya dahulu. Karena itu dia tidak akan bisa membiarkan Kisya hidup bahagia. Dan satu hal lagi, orang yang hendak menodai Kisya di Korea, preman-preman tersebut semua itu adalah orang suruhan dari Rania, Papa sudah mendapatkan semua barang bukti dan akan segera Papa berikan ke pengadilan tinggi, kita harus benar-benar serius dalam masalah ini, karena Ayahnya Rania dia adalah seorang Menteri Dalam Negeri. Jadi kita tidak bisa sembarangan bertindak," kata sang Papa dengan sangat jelas.
"Dasar brengsek, apa-apaan ini? Apa maksudnya menyuruh orang untuk menodai istriku, aku akan membunuhnya Pa. Jino akan membunuh wanita ular itu," teriak Jino dengan sangat marah. Ketika mengingat kejadian di Korea, semua itu sudah di rencanakan oleh busuknya hati Rania.
"Ya tuhan, kenapa Rania sekejam itu sama aku? Kenapa dia seperti itu?" Kisya mulai menitikkan air matanya, dia mengingat betapa pedihnya saat dia butuh bantuan seseorang, karena Kisya hendak di nodai oleh beberapa preman yang berbadan besar.
"Sabar sayang, aku akan segera memberikan pelajaran pada wanita busuk itu!" kata Jino sambil menatap sang istri dengan amarah yang sangat memuncak.
"Tenanglah Jino! Papa kan mengurus semuanya, akan Papa pastikan, wanita itu membusuk di penjara menemani si Rosaline. Karena dia telah membunuh cucu berharga Papa," tutur Papa dengan sangat menggebu-gebu.
Papa Geovandra benar-benar merasa marah kepada wanita yang berhati jahat seperti mereka. Awalnya Papa begitu mencintai dan menyayangi Rosaline, karena walau bagaimanapun Rosaline telah membantu Jino, memberikan beberapa sahamnya. Tetapi jika perbuatan mereka sekeji itu, Papa benar-benar menyimpan kebencian dalam hatinya untuk mereka.
"Baiklah Jino, jangan khawatirkan masalah Rania. rawatlah Kisya dengan baik. Dia baru saja keguguran dia masih belum sehat. Kamu temani dia kemanapun, dan ada satu hal lagi yang harus kita beritahukan kepada Kisya, tapi tentunya kita beritahukan nanti saja setelah makan malam," akhirnya Papa Geovandra menutup saluran telepon tersebut.
Jino dan Kisya terdiam, mereka masih tidak percaya, semua kejadian yang mengusik kehidupan kisya ternyata di dalangi oleh seorang wanita bernama Rania.
"Sayang ayo kita ke kampus sekarang, nanti malam Papa mengajak kita untuk makan malam, kebetulan sepertinya ada sesuatu yang akan Papa bahas!" kata Jino kepada Kisya. Jino benar-benar berharap Kisya bisa menerima Maaf darinya. Dan mereka bisa hidup berdua seperti dahulu kala.
"Terserah. Tapi aku bawa mobil sendiri," kata Kisya.
"Simpan saja mobilnya, nanti biar sopir yang ambil. Ayo ke kampus," kata Jino dengan senyumannya. Lalu Kisya pun mengangguk. Kini Jino mengantar Kisya ke kampusnya. Kisya memang masih cuti karena sehabis keguguran. Tapi dia harus memberikan surat keterangan sakit itu kepada dosennya, sehingga dia bisa cuti selama satu semester. Supaya tumbuhnya bisa kembali dengan pulih. Setelah cuti Kisya baru bisa melanjutkan kuliahnya.
__ADS_1
Hari ini Jino bahkan tidak berangkat ke kantor. Dia menemani sang istri ke kampus. Lalu mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah langsung merangkul buah hatinya, dan Kisya pun tersenyum saat itu, tiba-tiba saja ia di kejutkan oleh kehadiran seseorang, yang begitu membuat jantungnya berdebar sekolah mau terlepas.
"Kak jeff?" Mata Kisya membulat, dia tidak percaya bahwa di hadapannya kini ada mantan suaminya, yang sangat ia rindukan. Karena memang Jeff adalah sosok yang sangat dia sayangi dahulu, walaupun kini rasa cintanya terhadap Jeff sudah hilang.
"Kis," kata Jeff sambil mencoba berdiri dari kursi rodanya di bantu oleh.
"Ini maksudnya apa, Kakak masih hidup. Benarkah?" Gadis itu langsung menangis menitikkan air matanya, menatap pria yang di anggapnya sudah pergi jauh dari dunia. kisya merasakan sakit yang teramat dalam, ketika melihat mantan suaminya kini berdiri di hadapannya.
Jeff sendiri menitikan air matanya ketika melihat kisya menangis seperti itu, dengan segera Jeff merangkul Kisya, dengan begitu lembut dan Kisya pun menyambut pelukan Jeff, mereka berdua saling berpelukan. Mereka begitu saling merindukan, apalagi Jeff begitu merindukan Kisya begitu dalam. Pria itu masih sangat mencintai wanitanya. Sedangkan Kisya sendiri masih tak percaya di hadapannya, ada sosok lelaki yang pernah dia cintai waktu itu.
"Aku pulang sayang. Aku pulang!" kata Jeff dengan tangisan yang sangat meledak. Pria itu menangis sambil memeluk Kisya begitu erat. Begitu pula dengan Kisya. Dia pun masih menangis meraung-raung seolah dia merasakan sebuah kebahagiaan yang bercampur dengan sebuah haru serta menimbulkan sebuah tangis yang sangat memecah.
"Kamu datang di saat yang tidak tepat, Kenapa kamu baru pulang sekarang, setelah semuanya terlambat?" Gadis itu menangis dengan sangat nyaring, air matanya menetes tanpa dia bisa bendung.
Cup.
Jeff mengecup kening Kisya dengan penuh kasih sayang, dan air matanya pun tak henti menetes. Kini Kisya hanya bisa memejamkan matanya, tak kuasa untuk menahan semua tangis itu.
Mata Jino memicing ketika melihat Jeff mengecup kening Kisya begitu mesra. Dan mata Dokter Allana pun berkaca-kaca, saat melihat kejadian itu. Dokter Allana hanya bisa menundukkan wajahnya sambil menahan tangis.
Bersambung.
Jeff dan kisya😭 ko aku sedih.
**Sahabat Jino dan kisya tolong vote dan like setelah membaca ya.
__ADS_1
Salam sayang dariku, Evangelin Harvey**.