Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Semu merah


__ADS_3

Jino masih terbuai oleh indahnya senyuman wanita yang ada di hadapannya. Senyum indah dan mereka seperti bunga mawar. Terkadang senyumanya itu seperti menyimpan sebuah obat psikotropika yang membuat Jino menjadi mabuk dan kecanduan.


Sesaat mata mereka bertemu. Jino menatap Kisya dengan penuh rasa cinta. Dan Kisya merasa sangat canggung karena Jino menatapnya seperti itu di hadapan Lintang. Lintang sendiri hanya berpura-pura tidak melihat dan tidak tau apa-apa. Karena Lintang tau persis saat ini dia hanya sebuah batu penghalang untuk Jino dan Kisya.


Lintang Masih dalam mode berpura-pura tidak tau apa-apa.


"Lebih seringlah tersenyum , karena senyumanmu begitu cantik."


Ucap Jino dengan suara pelan sambil terus menatap Kisya dengan penuh rasa cinta. Kisya hanya membuang muka tak peduli karena merasa sangat canggung melihat Jino seperti itu. Kisya tidak enak Jino menatapnya seperti itu di hadapan Lintang.


Lintang pasti akan tau kalo Jino mencintainya kalo terus bersikap seperti itu. Kisya merasa tidak nyaman dan belum siap Lintang mengetahui perasaanya. Lintang sudah mulai merasa bahwa kisya tidak nyaman.


"Kak Jino."


Ucap Lintang mengalihkan perhatian Jino yang sedari tadi menatap Kisya dengan inten. Jino menoleh dan melihat ke arah Lintang.


"Hmm...?


Ucap Jino.


"Bisakah kamu beritahu aku siapa gadis itu?...


Ucap Lintang seolah tak tau apa-apa.


Jino sesaat terdiam. Dia berfikir sejenak dan mulai menebarkan senyuman manis terhadap Lintang.


"Dia seseorang yang sangat penting untuku, sehingga aku tidak perlu untuk mengumumkan pada dunia siapa dia." Ucap Jino perlahan .


"Kenapa tidak perlu...?


"Karena aku takut, jika aku mengumumkan pada dunia, dan dunia menjadi tau tentang dirinya, maka dunia akan mengambilnya dariku." Jino menorehkan senyum manisnya. Membuat Lintang terkesima. senyuman jino memang sangat manis. Tidak ada yang bisa memungkiri itu .


Kisya menundukan wajahnya dengan pipi yang bersemu merah . Karena malu mendengar ucapan jino barusan.


"Kamu begitu mencintainya kak?..

__ADS_1


Tanya lintang.


"Iya aku sangat mencintainya. Saat ini dalam hatiku hanya terukir namanya saja, tidak ada yang lain." Ucap Jino.


Kisya merasa sangat malu dan gugup mendengar ucapan jino seperti itu. Dia masih membisu dengan wajah tertunduk. Pipinya memerah seperti tomat. Dan itu tampak jelas di mata Lintang dan Jino.


Lintang mencuri pandang menatap Kisya sesaat dan tersenyum tipis melihat temanya merasa malu karena ucapan Jino. Begitu pula Jino merasa sangat senang melihat semu merah di pipi kekasihnya. Apa yang dia ucapkannya adalah kenyataan. Bahwa memang saat ini yang Jino cintai hanyalah Kisya saja, tidak ada yang lain lagi.


"Wah aku jadi iri."


Ucap Lintang dengan senyuman yang merekah. Lintang tersenyum dengan sangat manis. Dia berusaha terlihat bahagia dan senang padahal ada sedikit rasa sakit dalam hatinya ketika mendengar Jino mengatakan bahwa Jino kini sudah mencintai orang lain. Bukan lagi dia gadis yang Jino cintai.


Lintang memang sudah berusaha sebisanya untuk melupakan Jino . Mengiklaskan Jino untuk bersatu dengan sahabatnya Kisya demi baby Vano. Tetapi tetap saja dia tidak bisa mengontrol hati kecilnya. Dalam Lubuk sanubarinya yang terdalam Lintang masih menyukai Jino. Tiba-tiba saja seseorang datang.


"Sayang ,sudah lama menunggu."


Ucap Boy sambil mengecup kening Lintang dengan lembut. Lintang tersenyum Dengan bahagia karena suaminya telah datang. Kehadiran Boy dihatinya sedikit membuat dia terobati akan luka hatinya. Tidak dipungkiri Boy memiliki peran penting dalam hatinya saat Lintang benar-benar terpuruk.


Kasih sayang Boy terhadap Lintang memang sangat besar dan itu membuat Lintang merasa hangat. Sesaat Boy menatap Jino dengan tatapan tidak senang. Boy sama sekali tidak menyapa Jino. Sebuah aura ketegangan kini muncul secara tiba-tiba. Seolah olah masuk dalam edpisode misteri.


Ucap Lintang dengan senyuman manisnya. Menawarkan makanan. Pada sang suami. Suami yang begitu baik dan tampan.


"Apa saja boleh, apa kamu sudah makan?.. ucap Boy.


"Hmm kami sudah makan sangat banyak." Lintang tersenyum menatap sang suami. Dan Boy pun membalas senyuman istrinya.  Kini Boy memilih menu dengan serius. Jino merasa sangat tak nyaman karena Boy selalu tidak ramah padanya. Tetapi demi bisa dekat dengan Kisya maka Jino akan bertahan duduk bersama mereka.


Kisya menatap Jino seolah memberi kode agar Jino pergi. Namun Jino tidak mengerti. Jino menatap Kisya dengan kening yang mengkerut karena tidak mengerti kode dari Kisya. Kisya menyuruh Jino agar pergi meninggalkan meja mereka karena Boy terlihat marah dan cemburu sedari mulai datang.


Boy memang tidak suka dengan kehadiran Jino dan itu terlihat jelas di raut wajahnya.


"Lintang ." Ucap kisya pelan.


"Iya Kis?..


"Lin, aku akan pulang lebih dahulu, kamu bisa pulang bersama suamimu, aku akan pulang bersama dengan kak Jino."

__ADS_1


Ucap Kisya dengan senyuman manisnya.


Jino tersentak mendengar ucapan Kisya dan bibirnya menyunggingkan senyuman manis. Jino begitu senang mendengar kisya mau pulang bersamanya. Lintang tersenyum dan mengangguk.


"Kak Boy, Lintang kami pulang dulu ya."


Ucap Kisya.


"Hati-hati kikis, kak Jino antarkan kikis dengan selamat ya, jangan mampir mampir dahulu...!


Ucap Lintang menebar senyum hangatnya.


"Oke."


Ucap Jino dengan sigap. Lalu Jino dan Kisya berjalan perlahan meninggalkan meja itu. Lintang masih memperhatikan dengan seksama. begitupula dengan Boy.


"Mereka berdua sudah saling jujur sepertinya." Ucap Lintang dengan tatapan kosong.


"Sepetinya begitu, Jino sudah menyatakan cintanya pada Kisya mungkin."


Ucap Boy sambil menggenggam tangan Lintang dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Syukurlah ." Ucap Lintang sambil membuang nafasnya dengan sembarang. dengan tak henti menatap Jino dan Kisya yang sudah mulai menjauh dan hampir tak terlihat lagi.


"Kamu tidak apa-apa kan?... Ucap Boy pelan. Lintang hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia baik-baik saja.


"Tidak perlu bohong, kamu itu tidak pandai berbohong." Ucap Boy tersenyum manis.


"Sebenarnya masih terasa sakit,tetapi tidak sesakit dulu." Ucap Lintang dengan senyum yang di paksakan. Boy lalu memeluk sang istri dengan pelukan hangatnya.


"Tidak perlu sedih sayang, ada aku yang akan selalu mencintaimu seumur hidupku." Bisik Boy dengan begitu mesra. Lintang mengangguk dan tersenyum.


Bersambung ❤️


Hai readers tersayang. Aku lihat di episode sebelumnya jumlah jempolnya sangat sedikit, pasti kalian lupa menekan jempol kan😧..  jangan lupa lagi ya. Salam sayang dari Lee.😘

__ADS_1


__ADS_2