Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Berbalut Rindu volt 2


__ADS_3

"Bagaimana kabar kalian berdua, apa semuanya baik?" Jino bertanya dengan tubuh bergetar karena menahan haru karena rindu yang menggebu. Pria itu merasakan sebuah tusukan duri menyelimuti dirinya kini. Saat tangis haru sang istri terdengar begitu pilu.


Kisya sesaat terdiam. Dia menghentikan tangisnya. Wanita itu lalu menatap pilu sang buah hati yang tanpa sengaja hampir tenggelam karenanya. Kisya lalu menatap sang Papa dan Mama mertuanya.


Papa geovandra lalu memberi kode menggelengkan kepalanya. Sebuah kode supaya Kisya tidak memberi tahu sang suami tentang kondisi Baby Vano.


Karena takut akan membuyarkan semua pekerjaan Jino. Apalagi Papa tahu dengan jelas bahwa putranya masih dalam masa pemulihan setelah tertembak sebuh peluru panas. Kisya mengerti dengan kode dari Ayah mertuanya.


"Semua baik sayang, kita hanya rindu saja." ucap Kisya pelan. Jino merasa tenang ketika Kisya mengatakan tentang hal itu. Setidaknya keluarganya baik-baik saja, walau dirinya terluka itu bukan masalah besar. Itu yang di rasakan oleh Jino.


"Aku juga rindu sayang, Daddy ingin segera bertemu dengan kalian berdua. Pokonya setelah masalah ini selesai, Daddy akan pulang ya de, Dede baik-baik sama Mommy. Kis sayang, kita nanti akan berangkat berbulan madu ya, aku sudah tidak sabar ingin segera pulang!" Jino berkata sambil memejamkan matanya.


Bayangannya sudah melayang. Dia sudah sangat terbuai oleh kerinduan yang dia rasakan. Pria itu begitu merindukan wajah cantik sang istri. Dia ingin memeluk dan mendekap bayi kesayanganya. Untuk saat ini Kisya dan Baby Vano adalah nyawanya. Tidak ada satupun yang bisa membuat Jino bahagia selain Kisya dan Baby Vano.


"Semoga masalahnya cepat selesai ya Dad, Mommy sama Dede rindu Daddy." Kisya kembali meneteskan air matanya. Hatinya sesak dan seolah tidak bisa bernafas karena kerinduan yang dia rasakan. Dia begitu merindukan suaminya. Padahal baru empat hari mereka berpisah. Tetapi hati keduanya seolah merasa mereka berpisah selama setahun lebih.


Andai saja Kisya tahu. Kalau saat ini Jino sedang proses pemulihan pasca operasi. Mungkin Kisya akan menangis meraung-raung dan hatinya akan hancur lebur. Dan ingin segera menyusul sang suami ke Amsterdam. Untungnya Kisya tidak tahu tentang kondisi Jino yang sebenarnya.


Begitupula dengan Jino, andai Jino tahu bahwa Baby Vano saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Pastilah Jino akan sangat tidak tenang. Dia pasti tidak akan fokus untuk menyelesaikan masalah di sana. Karena itu mereka masing-masing harus menyembunyikan semua masalah demi kebaikan bersama.


"Iya sayang, pokonya jangan cemas dan khawatir, jika Daddy tidak menghubungi Mommy, bukan berarti Daddy main-main. Daddy akan selesaikan semua urusan di sini dan segera pulang, Mommy mau oleh-oleh apa?"


"Enggak Dad, Mom cuma ingin Daddy cepat pulang , dede juga sama sudah sangat rindu!" Kisya menitikan air mata kerinduannya. Dia terlihat begitu rapuh tanpa Jino di sampingnya. Separuh hatinya seolah terbang ikut bersama dengan sang suami ke Amsterdam. Rasa rindu yang Kisya rasakan terhadap Jino bukan lain adalah sebuah kerinduan seorang istri yang setia dan tulus.

__ADS_1


Tetapi kerinduan itu bahkan begitu menyiksanya. Tetapi dengan berkomunikasi seperti ini setidaknya sedikit terobati. Walau memang mereka tidak melakukan vidio call.


Sebentarnya Kisya ingin sekali Vidio call, namun itu sangat tidak memungkinkan. Karena dengan Vidio call maka semua akan terungkap. Jino akan melihat bahwa Baby Vano sedang di rawat dan sebaliknya. Kisya akan melihat bahwa sang suami tercinta sedang di rawat pula.


Baby Vano mendengarkan suara sang Daddy. Suara yang sepertinya sangat dia rindukan. Baby Vano menatap ponsel Kisya dan ingin meraihnya. Namun tidak bisa. Kisya lalu membiarkan Baby Vano memegang ponselnya. Baby Vano terlihat begitu senang.


"Papapa." Baby Vano berceloteh. Mungkin saja dia sedang memanggil ayahnya.


"Hallo gantengnya Daddy, apa kabar?"


ucap Jino saat mendengar suara lucu sang buah hati tercintanya. Rasanya semua kesakitan yang Jino rasakan saat ini tiba-tiba mereda setelah mendengar celotehan putra kecilnya.


"Iya Daddy, ini Dede Dad." ucap Kisya sambil berbicara layaknya bayi cadel.


"Aduh lucu sekali sih sekarang Dede sudah bisa bicara." Jino terkekeh pelan. Saat tertawa Jino baru merasakan bahwa lengannya begitu nyeri.


"Kenapa sayang?" Kisya bertanya karena suara Jino tiba-tiba melemah.


"Tidak ada apa-apa ko sayang, jangan khawatirkan apapun, ok!" ucap Jino.


"Iya sayang, jangan lupa makan dan semoga selalu di beri kesehatan, Mommy sm Dede sayang dan rindu Daddy." ucap Kisya.


"Iya, sayangku, cintaku, i love you ."

__ADS_1


"Love you to Dad."


Tiba-tiba saja perawat datang mengahampiri Jino dan Jino pun segera pamit untuk menutup telepon mereka. Jino takut Kisya tahu apa yang sedang terjadi padanya.


Jino lalu dengan segera meminum obat yang diberikan oleh perawat tersebut. Setelah itu Jino di sibukan oleh beberapa telepon masuk dari Edward. Jino merasa tubuhnya begitu sakit namun dia tidak biasa beristirahat dengan tenang. Jino merasa sangat senang ketika Edward tahu bahwa pemembak itu telah diketahui identitasnya. Jini jadi memiliki bukti dan saksi.


Jino langsung menyuruh Edward untuk laporan ke kantor polisi perihal penembakan yang telah dia alami. Jino sudah mengantongi barang bukti dan saksi untuk menjebloskan Jacob ke penjara. Setelah itu Jino tinggal menunggu bukti lain dan Jino akan bisa membuat Jacob membusuk di penjara selamanya.


🌺🌺🌺


Papa mencoba menghubungi nomor seseorang. Nomor yang sudah di berikan Jino kepada Papa. Dia adalah Rosaline. Papa Geovandra terus mencoba menghubungi Nomor telepon Rosaline. Namun sama sekalu Rosaline tidak mengangkat teleponnya sama sekali.


"Rose ayolah angkat nak, om butuh batuan darimu!" ucap Papa Geovandra sambil terus menghubungi nomor milik Rosaline.


Namun sayangnya gadis yang bernama Rosaline saat itu tidak dapat menerima panggilan. Papa terus berusaha menghubungi Rosaline. Namun setelab hampir sepuluh kali papa mencoba akhirnya papa menyerah.


Gadis yang bernama Rosaline tidak kunjung mengangkat teleponnya.


"Sudahlah, biar besok aku hubungi lagi," ucap Papa sambil menyimpan ponselnya ke dalan saku celananya. Papa lalu datang menghampiri cucu kesayangannya. Dan mencoba Menggendong Baby Vano. Karena melihat sang menantu sudah merasa lelah karena seharian menggendong Baby Vano. Baby Vano sekarang demamnya makin tinggi. Ada infeksi di saluran pernafasan sang bayi.


Baby Vano memang bukan lagi seorang bayi. Tetapi panggilan Baby seolah sudah melekat untuknya. Kini Papa Geovandra berharap putra dan cucu kesayangannya cepat sembuh. Karena mereka adalah orang yang sangat berharga untuk Papa. Saat Papa sedang menggendong sang cucu. Tiba-tiba terdengar tangisan dari dalam kamar mandi.


"Kisya." Papa terkejut.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Bersambung.


__ADS_2