
Sudah beberapa jam kisya mengurung diri di kamar. Tangisnya pun sudah tak bersua lagi, air matanya seolah tidak mau berhenti menetes. Kini Kisya menutup matanya, tetapi matanya begitu basah dengan air yang terus keluar membasahi pipinya.
Wanita itu kini benar-benar merasakan kegalauan yang teramat dalam. Satu sisi dia bahagia bahwa Jeff sehat, di sisi lain dia merasa tertekan karena dia harus membuat Jeff terluka. Tidak di sangka terjadi seperti ini. Tetapi kini dia tidak bisa berbuat apapun selain membuat keputusan yang pedih untuk Jeff. Jeff juga harus hidup dengan bahagia tidak boleh terus-terusan menderita karena dirinya.
Tiba-tiba saja dering telepon berbunyi. Ternyata itu adalah telepon dari Bunda Nisya. Dengan segera wanita itu menerima panggilan telepon dari sang Bunda. Ternyata itu adalah berita duka dari bunda Nisya yang kini berada di Singapura. Kisya langsung berdiri dari posisi tidurnya. Dia berlari keluar kamar dan melihat seisi ruangan masih ada orang-orang yang yang tadi,yaitu Jeff, Allana, Papa Geovandra dan Mama Murni serta Jino yang kini sedang bermain bersama Baby Vano.
Semua orang merasa heran dengan tingkah kisya, Kisya berlari menuju ke arah Jino.
"Kakak antarkan kikis pulang kak, pulang ke rumah Bunda Sekarang juga, kak!" Kisya begitu bergetar. Tubuhnya benar-benar tidak bisa lagi merasakan tenang. Wanita itu berjalan bahkan seolah melayang. Dia berdiri seolah di atas awan. Perasaannya tak karuan. Rasa sedih bercampur aduk. Dia benar-benar terlihat sangat kacau.
"Ada apa de? Kenapa tubuhmu bergetar seperti ini?" Kata Sang suami merasa heran.
"Rasya, Narasya, kak. Dia-dia meninggal, adik kembarku meninggal," tangis Kisya meledak menyampaikan berita itu kepada sang suami. Dan seluruh keluarga. Jino dan yang lainnya. Semua begitu tersentak, dia begitu merasa tidak tentang apa yang terjadi kepada adik iparnya.
"Ayo kita ke rumah Bunda Nisya sekarang, ayo sayang!" Ucap Jino sambil memeluk Kisya dan kisah pun menggangguk. Akhirnya semuanya sepakat untuk pergi ke kediaman bunda Nisya. Bunda Nisya meminta Kisya menyiapkan semuanya yang ada di rumah. Agar pas Bunda Nisya datang semua sudah siap. Baik itu Ustad dan kain kafan beserta yang lainnya.
Sesampainya di rumah Kisya segera mempersiapkan semuanya. Walaupun tubuhnya begitu lemah dan tak berdaya, dengan semua luka hatinya. Tetapi dia harus kuat karena dia harus membantu sang Bunda.
Kisya begitu mencintai adiknya, tetapi apalah daya. Benar-benar semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Selama 3 tahun ini adiknya hidup hanya dengan bantuan alat saja. Dan mungkin inilah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada Narasya.
__ADS_1
Tangis pun terpecah. Ketika Bunda Nisya pulang ke rumah membawa Rasya yang sudah tertutup kain putih di mobil ambulans. Kisya terpaku terdiam tanpa kata. Narasya adiknya tersayang kini telah menghadap ilahi menyusul sang Ayah tercinta. Air matanya terjatuh tanpa aba-aba. Wanita itu menagis dalam diam. Tubuhnya lemas seolah tak bertulang.
Adik kesayangannya kini sudah tak bernafas lagi. Semuanya benar benar tidak bisa dia kendalikan. Tubuh bergetarnya perlahan berjalan menghampiri sang Bunda dan tubuh kaku adiknya. Sampailah kini Narasya di rebahkan di ruang tengah dengan di tutupi kain.
"RASYA... RASYAAA... Jerit Kisya dengan tangisanya yang meledak.
Kisya memeluk tubuh Rasya dengan erat. Mengoyang+goyangkan badan Rasya. Dan menciumi pipi Rasya, tetapi Rasya tidak kunjung bangun pula.
"Kenapa kamu tidur terus, kamu tidak rindu kakak huh?" tangis kisya meledak. Dia benar-benar merasa rapuh saat itu.
"Kis sayang. Sabar nak!" ucap Bunda sambil memeluk Kisya.
"Bunda Rasya tega ninggalin kita, Bunda, kenapa bukan aku saja yang pergi?" Jerit Kisya dengan tangisan nya.
"Biarlah Rasya tenang bersama Ayah..3 tahun ini Rasya koma mungkin dia sudah tidak kuat lagi. Ini adalah jalan terbaik dari Tuhan kis. Sabarkan hatimu, Bunda bahkan sudah ikhlas dengan kepergian Rasya, kamu juga harus iklas sayang!" ucap Bunda Nisya dengan mata yang basah.
Tiba tiba saja Kisya pingsan dengan seketika. Jino lalu menggendong Kisya ke kamarnya.
Jino kini berada di kamar Kisya dan menggenggam tanggan Kisya dengan erat. Jino begitu sedih melihat istrinya terpuruk seperti ini. Tapi dia bahkan tidak bisa membantu apapun.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Kisya sebenarnya sudah bangun dari pingsanya. Tetapi kondisi Kisya masih lemah setelah keguguran. Maklumlah kisya baru 3 hari pasca keguguran. Jadi kisya hanya bisa menangis di kamar sambil meringkuk di kasurnya. Kisya masih menitikan air matanya.
"Sayang," ucap Jino pelan.
"Kenapa Tuhan enggak pernah menyayangiku. Mengambil Ayah dan Rasya dariku. Juga mengambil janin yang bahkan belum aku lahirkan.
Seandainya Ayah tidak meninggal, maka perjodohan kita tidak akan di mulai, kamu tidak akan marah padaku, dan kejadian itu tidak akan terjadi. Hidup kita pasti akan berbeda. Tuhan mengambil kak jeff juga dariku. Dan menghadirkan kamu dalam hidupku. Aku sebenarnya tidak membencimu lagi sekarang kak. Aku hanya benci pada takdir yang mempermainkan kita saja. Kak... Aku lelah dengan semua ini. Aku juga enggak mau ketemu kamu dulu. Aku harap kamu menghormati keinginanku. Aku ingin sendirian dulu, bisakan?" pinta Kisya dengan tangisanya yang melirih.
"Sayang, aku tau kau sangat membenciku. Aku adalah pria dan suami terburuk bagimu. Tapi ingatlah! Aku adalah pria yang sangat mencintaimu saat ini. Kakak sayang dan cinta sama kamu kis. Jika kamu sudah lelah untuk lari dari kakak. Kakak harap kamu akan pulang. Kakak akan menunggu di rumah kita. Bersama anak kita Vano," ucap Jino dengan air matanya yang menetes membasahi pipinya. Hatinya sangat hancur dan sakit mendengar ucapan Kisya. Tetap dia harus sabar. Dia yakin suatu saat istrinya akan memaapkanya dan pulang ke rumah.
"Aku pulang sayang!" ucap Jino melangkah keluar dari kamarnya Kisya. Menutup pintu dan langsung pamit sama Bunda Nisya dan pulang ke rumahnya.
Entah kenapa hati Kisya merasa sakit mendengar ucapan Jino. Dia belum bisa memaapkan Jino dan bahkan membenci Jino. Tapi setelah keinginannya di tanggapi oleh Jino rasanya hatinya sakit. Kisya merasa ada yang hilang dari dasar hatinya.
"Maapkan aku kak, aku masih bingung dengan perasaanku!" kata Kisya dengan tangisanya yang meledak.
Bersambung.
Sahabat Jino dan Kisya jangan lupa vote dan like setelah membaca ya.
__ADS_1
Masih ada sisa beberap chapter kak, duh aku ko sakit ya harus ending.