Jino dan Kisya

Jino dan Kisya
Berpisah dan bertemu


__ADS_3

"Ada apa denganmu sayang, kenapa kamu sampai melupakan Baby Vano, dia adalah buah hati kamu, darah daging kamu, jangan berbuat seperti itu nak, balita itu tidak bersalah!" Bunda Nisya mengatakan hal yang sejujurnya, kepada Kisya, dia sungguh tidak tega melihat tangis dari balita yang kini sangat mereka sayangi.


Tidak ada sedikitpun kesalahan dari bayi itu. Tetapi semuanya memang kesalahan sang Ayah. Kesalahan yang terjadi hampir 3 tahun yang lalu dia lakukan. Dan itu memang sangat lama. Wanita itu kini baru menyadari dan mengingat semua kejadian itu.


"Tapi bunda... ingatan itu kembali Kikis rasakan, apa yang harus Kikis lakukan sekarang Bunda? Kikis bahkan tidak bisa menerima bahwa tubuh Kikis ini sudah ternoda," wanita itu menangis dengan pilu ketika mengingat bahwa dirinya bukan lagi seorang gadis perawan seperti dulu.


"Bagaimana kamu tidak ternoda. Kamu sudah menikah dengan Jino, dan sudah satu setengah tahun dan sudah mau 2 tahun. Kalian datang ke Korea untuk berbulan madu. Apa kamu melupakan hal itu nak, dan sekarang Jino bahkan sudah bertanggung jawab, atas apa yang telah dia lakukan kepadamu sayang. Maafkanlah Jino demi buah hati kalian!" Bunda Nisya berharap Kisya mau memaafkan Jino dengan sepenuh hatinya, karena Bunda Nisya sangat tidak tega melihat balita kecil itu menangis tersedu, meronta ingin memeluk sang Mommy.


"Tidak semudah itu untuk memaafkan dia, tidak semudah itu, Bunda tidak mengalami perasaan yang aku alami, rasanya begitu menyakitkan, aku begitu ketakutan dan dia melakukannya dengan begitu kasar. Kikis merasa semuanya hancur, dia telah menghancurkan hidup Kikis," wanita itu masih menangis sambil memeluk sang Bunda. Tapi tiba-tiba Bunda Nisya melepaskan pelukannya.


"Awalnya memang hancur, jangankan dirimu. Bunda pun merasa hancur. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan kehadiran buah hati kamu, semuanya berjalan begitu baik, dan begitu indah. Kalian berdua saling mencintai, mencintai satu sama lain. Ingatanlah Kis, bahwa kamu mencintai Jino!" Bunda Nisa berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu dia memejamkan matanya hanya demi mengingat semua kenangan yang telah lalu.


"Tidak bunda, Kikis merasa sakit hati, atas semua perbuatannya, kalian semua berbohong seperti itu, Apakah ini di sengaja?"


"Jadi kamu tidak mempercayai ucapan Bunda, ini Bunda kamu, Bunda bahkan sudah berkata jujur kepadamu Kis, dengarkan Bunda baik-baik. Ini adalah ucapan terakhir Bunda, Jika kamu mendengarkan, maka Bunda akan senang. Jika kamu tidak mendengarkan Bunda, Bunda juga tidak bisa memaksamu, Kisya sayang, dengarkan Bunda, Jino sudah bertanggung jawab, dia sudah bertaubat, dia sudah menerima hukumannya dan dia sudah menjadi Ayah dan suami yang baik untuk kalian berdua. Tinggal sekarang bukalah hatimu untuk Jino. Demi buah hati kalian!" Bunda Nisya menangis sambil berkata seperti itu kepada Putriny.


Dia sungguh tidak tega melihat Baby Vano menjerit seperti tadi. Sebagai seorang ibu dia sepantasnya mengingatkan putrinya, untuk selalu bersikap baik. Walaupun memang ada masa lalu yang kelam, dan kejam di dalam pernikahan mereka. Tapi itu semua tidak membuat bisa membuat hati Kisya tergerak.

__ADS_1


Kisya hanya terdiam dengan tangisan. Dia sama sekali tidak menuruti keinginan Bundanya. Dia tetap bersikeras mengatakan bahwa dia membenci Jino.


Dan saat itu juga mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Meninggalkan Korea dengan kenangan penuh dengan cinta antara Jino dan Kisya. Namun Semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah menjadi kenangan. Bahkan mereka kini pulang ke rumah masing-masing.


Mereka memang berangkat satu pesawat. Tetapi di bandara, mereka menuju ke kediaman masing-masing. Kisya memutuskan untuk tinggal di rumah Bunda Nisya. Sedangkan Jino tinggal di rumah Papa Geovandra karena demi keamanan Baby Vano. Agar Baby Vano bisa selalu dekat dengan Mama Murni.


Kisya yang berjalan begitu cepat meninggalkan Baby Vano, dalam pelukan Jino. Sedangkan Jino masih menatap langkah Kisya dari belakang. Hatinya begitu sakit, ketika melihat sang istri sama sekali tidak mempedulikannya. Balita kecil yang tampan itu bahkan masih menjerit memanggil-manggil Mommy-nya. Tetapi ia sama sekali tidak tergerak. Dia masih berada dalam kekerasan hatinya. Terselubung dalam luka yang harusnya sudah dia lupakan.


"Sabarlah Jino, semuanya akan baik-baik saja," ucap Mama Murni kepada Jino. Lalu Mama Murni memberitahukan kepada Jino bahwa Jeff sudah pulang, dan ternyata sudah kembali dari kematian.


"Apa maksud nama?" Jino begitu terkejut ketika mendengar perkataan Mama Murni barusan.


"Mama jangan bercanda seperti itu!"


"Mama kamu tidak bercanda Jino. Memang jeff sudah pulang. Ayo kita bertemu dia sekarang!" Papa Geovandra langsung menggendong Baby Vano yang sedang menangis. Lalu mereka pun menuju ke mobilnya hendak langsung pulang ke rumah.


Sesampainya mereka di rumah, Jino tersentak karena ternyata Jeff benar-benar sudah ada di rumah. Benar-benar pulang dengan kondisi sehat wal'afiat.

__ADS_1


"Jeffan," Jino membulatkan matanya. Dia memanggil Jeff dengan sangat kencang. Jino berlari ke arah Jeff dan langsung memeluk adiknya.


Namun Jeff hanya terdiam. Lalu Jeff mendorong tubuh Jino walau dengan dorongan yang begitu pelan.


"Jeff?" Jino mengerutkan dahinya. Lalu dia pun mundur setelah Jeff mendorong tubuhnya. Jino baru menyadari bahwa mungkin Jeff benar-benar marah kepadanya. Karena Jino telah menikahi Kisya.


"Lihatlah aku masih hidup Bang, apa kamu tidak senang?" ucap Jeff dengan suaranya yang berat. Sebenarnya mata Jeff sudah sangat berkaca-kaca namun Jeff membuang mukanya dan tidak mau menatap Jino..


"Aku senang kamu masih hidup, dan sehat. Aku tahu kamu membenciku. Aku sungguh tidak tahu bahwa kamu masih sehat. Jika saja aku tahu kamu memang masih hidup, tidak mungkin aku akan mengambil Kisya darimu," ucap Jino pelan namun memiliki arti begitu dalam.


"Baiklah sekarang abang sudah tahu bahwa aku masih hidup, dan sehat. Maka kembalikan istriku kepadaku!" ucap Jeff dengan suara yang lantang menatap Jino dengan penuh kemarahan.


Jino lalu terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya. Dia mendekati Jeff dan menatap Jeff begitu dalam, seraya berkata.


"Kamu datang terlambat Jeff, kami sudah menikah dan memiliki seorang anak, bahkan mungkin Kisya akan segera mengandung anak kedua kami, maafkan aku! Aku tidak akan menyerahkan Kisya kepada siapapun!" Jino berkata begitu pelan. Namun dia berkata dengan penuh penekanan. Setelah itu Jino pergi meninggalkan Jeff dalam kepiluan.


Mama dan Papa hanya menjadi penonton saja. Mereka tidak bisa berkata apapun. Mereka berdua sama-sama menyayangi Jino dan Jeffan. Kini Jino telah masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidur yang sudah lama tidak dia tempati.

__ADS_1


Dia masih mengingat kenangan indah bersama sang istri di kamar itu. Ketika mereka berdua masih sama-sama belum menikah. Dimana saat itu Jino dan Kisya mengungkapkan perasaan mereka berdua. Bahwa mereka berdua saling mencintai dan saling membutuhkan. Namun kini semuanya hanya tinggal sebuah kenangan.


Bersambung


__ADS_2